Malang Tempo Doeloe yang Asli Digelar Besok

MALANG KOTA – Setelah vakum selama 6 tahun (dari 2011), besok (12/10) event ikonik Malang Tempo Doeloe (MTD) kembali digelar sebagai tombo (obat) kangen untuk warga Malang. Perlu diketahui, MTD kali ini benar-benar MTD asli, alias bukan MTD KW.

Memang, festival Malang Tempo Doeloe sudah ditiru lebih dari 10 kota di Indonesia. Namun, MTD 2017 kali ini merupakan MTD asli yang diadakan penggagas MTD. Yaitu, Dwi Cahyono, pendiri Yayasan Inggil, yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Selain itu, MTD 2017 ini ingin mengembalikan lagi MTD ke esensinya. Yakni, belajar sejarah melalui event. Alias, pure untuk mendidik. Sebab, event ini diadakan memang tujuan utamanya untuk belajar budaya dan sejarah. Pembelajaran tersebut melalui pakaian, bahasa, panggung kesenian, hingga makanan tempo dulu.

Karena itu, Dwi Cahyono, penggagas MTD sekaligus ketua PHRI, menegaskan, di MTD 2017 tidak ada pedagang kaki lima (PKL). Untuk diketahui, di tahun-tahun sebelumnya, MTD sengaja dihentikan karena sudah campur aduk dengan PKL.

”Sekarang, kami ingin memperkenalkan lagi MTD ke konsep awal, untuk mendidik sejarah dan budaya melalui event,” ujar Dwi. Maka dari itu, ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai MTD 2017.



Pertama, lokasi event tidak sepanjang sebelumnya. Lokasi MTD kali ini, yaitu dari Gereja Ijen sampai Simpang Balapan. Hal ini ditetapkan untuk memudahkan pengamanan. Berangkat dari pengalaman yang lalu, karena banyaknya akses, kawasan menjadi tidak steril dan para PKL tidak dapat dikendalikan. Menurut Dwi, kali ini pengawasan akan diperketat.

Kedua, hanya diadakan satu hari, yaitu Minggu, 12 November 2017. Itu karena MTD kali ini merupakan test case. Artinya, akan dilihat seberapa upaya masyarakat untuk menghargai festival MTD. Untuk itu, seluruh pengunjung wajib memakai pakaian atau atribut tempo dulu.

”Tempo dulu, ya kehidupan tempo dulu. Ada guru tempo dulu, petani tempo dulu, pejuang tempo dulu, orang Tiongkok tempo dulu, orang Arab tempo dulu, orang Belanda tempo dulu, penyanyi tempo dulu. Atau misal datang ke sana dengan rambut kribo dan celana komprang,” jelas Dwi.

Dari pengalaman yang lalu, juga banyak keluhan dari warga karena event 3 hari itu mengganggu lalu lintas. Selain itu, apabila diadakan di sepanjang Jalan Ijen, tidak memungkinkan karena ada kegiatan galian proyek.

Oleh sebab itu, perlu diketahui bahwa mulai hari ini (Sabtu), akses jalan dari Gereja Ijen sampai Simpang Balapan akan ditutup. Yang tak kalah penting, akan ada Festival Kelapa Jadi Apa. Festival tersebut akan diadakan setelah pembukaan MTD 2017 pada pukul 7 pagi. Ribuan orang nantinya bersama-sama memarut kelapa dan mengolahnya. Kegiatan ini diadakan sebagai upaya untuk penyelamatan kelapa.

Pesertanya terdiri dari perwakilan sekolah dan kelurahan. Dengan adanya kegiatan ini, generasi muda diharapkan lebih sadar akan manfaat kelapa dan menghargai proses.

Memang, MTD kali ini lebih mengutamakan peserta dari sekolah yang terdiri atas SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Stan-stannya pun diberikan gratis kepada mereka. Menurut Dwi, hal itu kembali ke tujuan awal MTD, yaitu untuk belajar. Sebab, generasi muda perlu mengenal sejarah untuk menyiapkan masa depan.

”Untuk menyiapkan masa depan, kita perlu menyiapkan fondasi,” ujarnya.

Dwi pun menyatakan, pada event MTD besok ada 201 stan. Stan-stan itu nantinya tidak hanya menjual jajanan tempo dulu, tetapi juga barang antik dan memamerkan alat-alat untuk beraktivitas pada zaman dulu. Selain stan-stan jajanan dan barang antik, akan ada pembelajaran Malang Bumi Hangus dan panggung-panggung kesenian tradisional, seperti panggung keroncong, seni tari, ludruk, dan lain-lain.

Pewarta: NR4
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Darmono