28.2 C
Malang
Jumat, Februari 16, 2024

Inilah Tarian Khas Polowijen Malang Penyambut Kupatan

MALANG KOTA – Polowijen punya cara tak biasa untuk merayakan kupatan. Tidak identik dengan sajian ketupat dan opor ayam lazimnya tradisi di daerah lain. Namun menyuguhkan tarian. Ada tiga tarian penyambut kupatan. Yakni tari topeng Gribig Sabrang, tari Gugur Gunung, dan tari Nyai Randa.

Sebelum menari, pengunjung Kampung Budaya Polowijen (KBP) yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak itu diajak menyantap ketupat. “Kebetulan kupatan ini bersamaan Hari Tari Internasional. Juga masih dalam bulan Hari Kartini. Jadi, kami melakukan tradisi kupatan sambil menampilkan tarian,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) KBP Isa Wahyudi di sela-sela kegiatan kemarin (29/4).

Pria yang akrab disapa Ki Demang itu menambahkan, tradisi kupatan rutin dilakukan di tempatnya. Ini merupakan kali ketiga KBP menggelar kupatan.

Baca Juga:  CFD Libur Sepekan, Minggu Ini Buka Lagi

Tak hanya sekadar tampil, para penari juga menggunakan busana khas Nusantara. Mulai dari kebaya, pakaian daerah, hingga sanggul. “Intinya, kami ingin melakukan halalbihalal sambil melestarikan budaya,” tegasnya.

Selain tradisi kupatan, dia mengatakan, KBP biasanya menggelar kegiatan lain. Seperti pada momentum Syura, Safar, dan banyak lainnya. Menurut dia, pelestarian melalui peringatan hari tertentu itu penting. Dengan demikian, masyarakat bisa kembali mengenang budaya dan mengurai nilai yang terkandung di dalamnya. “Itu yang kami ajarkan untuk membangun kepribadian bangsa,” tandasnya. (mel/dan)

MALANG KOTA – Polowijen punya cara tak biasa untuk merayakan kupatan. Tidak identik dengan sajian ketupat dan opor ayam lazimnya tradisi di daerah lain. Namun menyuguhkan tarian. Ada tiga tarian penyambut kupatan. Yakni tari topeng Gribig Sabrang, tari Gugur Gunung, dan tari Nyai Randa.

Sebelum menari, pengunjung Kampung Budaya Polowijen (KBP) yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak itu diajak menyantap ketupat. “Kebetulan kupatan ini bersamaan Hari Tari Internasional. Juga masih dalam bulan Hari Kartini. Jadi, kami melakukan tradisi kupatan sambil menampilkan tarian,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) KBP Isa Wahyudi di sela-sela kegiatan kemarin (29/4).

Pria yang akrab disapa Ki Demang itu menambahkan, tradisi kupatan rutin dilakukan di tempatnya. Ini merupakan kali ketiga KBP menggelar kupatan.

Baca Juga:  Layani Sembelih Hewan Kurban, Begini Suasana RPH Kota Malang

Tak hanya sekadar tampil, para penari juga menggunakan busana khas Nusantara. Mulai dari kebaya, pakaian daerah, hingga sanggul. “Intinya, kami ingin melakukan halalbihalal sambil melestarikan budaya,” tegasnya.

Selain tradisi kupatan, dia mengatakan, KBP biasanya menggelar kegiatan lain. Seperti pada momentum Syura, Safar, dan banyak lainnya. Menurut dia, pelestarian melalui peringatan hari tertentu itu penting. Dengan demikian, masyarakat bisa kembali mengenang budaya dan mengurai nilai yang terkandung di dalamnya. “Itu yang kami ajarkan untuk membangun kepribadian bangsa,” tandasnya. (mel/dan)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/