22.8 C
Malang
Minggu, Februari 11, 2024

Residivis Narkoba ”Ngandang” Lagi 14 Tahun, Simpan Sabu-Sabu dan Ganja

MALANG KOTA – Pernah dipenjara selama tujuh tahun belum membuat Pendik Multatuli jera menjadi pengedar narkoba. Dia kembali mengulangi perbuatannya begitu keluar dari penjara. Kemarin, pria 32 tahun itu kembali berstatus narapidana atas putusan Pengadilan Negeri Malang dengan barang bukti 2,6 kilogram sabu-sabu dan 5,6 kilogram ganja. Dia harus menjalani hidup selama 14 tahun ke depan di dalam penjara. 

Pria yang beralamat di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, itu ditangkap Satreskoba Polresta Malang Kota pada 15 Maret 2022. Ketika itu, sekitar pukul 23.00, Pendik sedang berada di sebuah rumah di Jalan Kenongosari, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Dua anggota polisi yang menangkapnya seketika melakukan penggeledahan badan dan rumah tempat dia berada. 

Barang bukti yang ditemukan malam itu cukup besar. Yakni dua bungkus teh China merek Guanyiwang berisi isi tujuh bungkus sabu-sabu seberat 2,6 kilogram. Juga ada ganja dalam enam plastik berbalut lakban dengan berat 5,6 kilogram. Semua didapat dari dalam lemari milik Pendik. 

Baca Juga:  Tukang Tebang Kayu Doping Sabu

Kepada polisi, Pendik mengaku mendapatkan barang-barang tersebut dari seseorang bernama Rio (buron). Dia juga mengklaim hanya dititipi saja, karena barang tersebut datang menggunakan jasa ekspedisi yang berada di Kecamatan Bululawang dan Tumpang. Meski mengaku hanya, Pendik ternyata mendapatkan bayaran. 

Sebenarnya Pendik juga diperintahkan untuk meletakkan narkotika itu di tempat yang Rio tentukan. Tetapi dia keburu ditangkap polisi, sehingga barang tersebut belum diapa-apakan. 

Jaksa Achmad Fauzan SH menjerat pria tanpa pekerjaan itu dengan tiga pasal yang disusun dalam dakwaan alternatif. Yaitu pasal 114, 112, dan 111 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pada 5 September 2022, Pendik dituntut 15 tahun penjara dengan denda Rp 7 miliar subsider 2 tahun penjara. 

Dalam sidang pembacaan putusan kemarin (26/9), majelis hakim sempat menanyakan track record Pendik dalam urusan pidana. ”Betul Pendik ini pernah dihukum ya?” tanya ketua majelis hakim Sri Hariyani SH MH kepada semua pihak yang hadir dalam ruang sidang Garuda. 

Baca Juga:  Jadi Perangkat Daerah Dengan Respon Tercepat, Tugu Tirta Panen Prestasi

Kuasa hukum dan Pendik yang hadir secara telekonferensi pun serentak menjawab sudah pernah. Pendik memang pernah mendapat hukuman 7 tahun penjara dalam perkara narkotika pada 2016. Ketika itu, barang buktinya 126,92 gram ganja dan 0,48 gram sabu-sabu. 

”Terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkoba dan terdakwa pernah dihukum. Untuk yang meringankan, dia berkelakuan sopan dan menyesali perbuatannya,” imbuh Sri saat membacakan amar putusan. 

Di akhir sidang, hakim menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara plus denda Rp 7 miliar. Apabila tidak dibayar diganti kurungan selama satu tahun. “Saya terima, Yang Mulia,” tutup Pendik dengan suara serak. (biy/fat)

MALANG KOTA – Pernah dipenjara selama tujuh tahun belum membuat Pendik Multatuli jera menjadi pengedar narkoba. Dia kembali mengulangi perbuatannya begitu keluar dari penjara. Kemarin, pria 32 tahun itu kembali berstatus narapidana atas putusan Pengadilan Negeri Malang dengan barang bukti 2,6 kilogram sabu-sabu dan 5,6 kilogram ganja. Dia harus menjalani hidup selama 14 tahun ke depan di dalam penjara. 

Pria yang beralamat di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, itu ditangkap Satreskoba Polresta Malang Kota pada 15 Maret 2022. Ketika itu, sekitar pukul 23.00, Pendik sedang berada di sebuah rumah di Jalan Kenongosari, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Dua anggota polisi yang menangkapnya seketika melakukan penggeledahan badan dan rumah tempat dia berada. 

Barang bukti yang ditemukan malam itu cukup besar. Yakni dua bungkus teh China merek Guanyiwang berisi isi tujuh bungkus sabu-sabu seberat 2,6 kilogram. Juga ada ganja dalam enam plastik berbalut lakban dengan berat 5,6 kilogram. Semua didapat dari dalam lemari milik Pendik. 

Baca Juga:  Saran BPBD Kota Malang Biar Tak Jadi Korban Bencana

Kepada polisi, Pendik mengaku mendapatkan barang-barang tersebut dari seseorang bernama Rio (buron). Dia juga mengklaim hanya dititipi saja, karena barang tersebut datang menggunakan jasa ekspedisi yang berada di Kecamatan Bululawang dan Tumpang. Meski mengaku hanya, Pendik ternyata mendapatkan bayaran. 

Sebenarnya Pendik juga diperintahkan untuk meletakkan narkotika itu di tempat yang Rio tentukan. Tetapi dia keburu ditangkap polisi, sehingga barang tersebut belum diapa-apakan. 

Jaksa Achmad Fauzan SH menjerat pria tanpa pekerjaan itu dengan tiga pasal yang disusun dalam dakwaan alternatif. Yaitu pasal 114, 112, dan 111 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pada 5 September 2022, Pendik dituntut 15 tahun penjara dengan denda Rp 7 miliar subsider 2 tahun penjara. 

Dalam sidang pembacaan putusan kemarin (26/9), majelis hakim sempat menanyakan track record Pendik dalam urusan pidana. ”Betul Pendik ini pernah dihukum ya?” tanya ketua majelis hakim Sri Hariyani SH MH kepada semua pihak yang hadir dalam ruang sidang Garuda. 

Baca Juga:  Di Malang, Setahun Ada 481 Penderita Baru HIV

Kuasa hukum dan Pendik yang hadir secara telekonferensi pun serentak menjawab sudah pernah. Pendik memang pernah mendapat hukuman 7 tahun penjara dalam perkara narkotika pada 2016. Ketika itu, barang buktinya 126,92 gram ganja dan 0,48 gram sabu-sabu. 

”Terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkoba dan terdakwa pernah dihukum. Untuk yang meringankan, dia berkelakuan sopan dan menyesali perbuatannya,” imbuh Sri saat membacakan amar putusan. 

Di akhir sidang, hakim menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara plus denda Rp 7 miliar. Apabila tidak dibayar diganti kurungan selama satu tahun. “Saya terima, Yang Mulia,” tutup Pendik dengan suara serak. (biy/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/