21.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

TV di Kota Malang Wajib Migrasi ke Digital

MALANG KOTA – Warga Kota Malang penikmat TV analog harus siap-siap migrasi ke TV digital atau analog switch off (ASO). Sebab per 2 November mendatang, TV analog dimatikan. Ini merupakan program nasional.

Di Jawa Timur sendiri sudah dilakukan migrasi secara bertahap sejak April 2022. Keputusan terkait pelaksanaan ASO sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Penerapannya paling lambat dua tahun setelah UU Cipta Kerja muncul.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang Nur Widianto mengatakan, menurut ketentuan Kementerian Kominfo, Malang Raya termasuk yang melaksanakan ASO. Dengan demikian, siaran TV analog di Malang Raya, termasuk Kota Malang akan dinonaktifkan bulan depan. Tepatnya pada 2 November.

Baca Juga:  Miris, Setahun Kejari Tangani 800 Lebih Kasus Narkoba. 4 di antaranya Emak-Emak

“Tujuan program ASO ini akan meningkatkan kualitas gambar siar. Kemudian juga memberikan ruang bagi penambahan kanal siar,” terang pria yang akrab disapa Wiwid itu, kemarin (25/10).

Di samping itu, Wiwid menyebutkan jika dalam ASO terdapat program early warning system atau peringatan dini kebencanaan. Nantinya, program tersebut bisa disebarkan ke masyarakat secara meluas.

Namun, untuk warga yang memiliki TV analog tetap bisa menerapkan ASO. Mereka bisa menambahkan set top box (STB) atau penangkap siaran TV digital. Sebagian warga juga akan mendapatkan STB gratis.

“Mereka yang menerima STB gratis adalah keluarga pra-sejahtera atau yang tercantum dalam data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” terang pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.

Baca Juga:  Diskominfo Temukan Indikasi Hacking di Situs Pendaftaran Vaksin

Total ada sekitar 2.927 jiwa yang tercantum dalam DTKS. Akan tetapi, dari data DTKS yang dikirim ke Kementerian Kominfo, Wiwid mengaku pihaknya belum menerima informasi terkait jumlah pasti orang yang menerima bantuan STB.

“Kalau mencermati rilis dari kementerian, baru Jadetabek (Jakarta-Depok-Tangerang-Bekasi) saja yang mendapat dropping STB,” imbuhnya. Wiwid melanjutkan, apabila ada warga non-DTKS yang belum disupport, maka bisa melakukan penyediaan STB secara mandiri. Terlebih harganya relatif terjangkau.

Ditanya terkait warga non-DTKS yang sudah bermigrasi ke TV digital, dia menjawab belum tahu. “Sebab, kami belum melakukan pendataan,” tandas Wiwid. (mel/abm)

MALANG KOTA – Warga Kota Malang penikmat TV analog harus siap-siap migrasi ke TV digital atau analog switch off (ASO). Sebab per 2 November mendatang, TV analog dimatikan. Ini merupakan program nasional.

Di Jawa Timur sendiri sudah dilakukan migrasi secara bertahap sejak April 2022. Keputusan terkait pelaksanaan ASO sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Penerapannya paling lambat dua tahun setelah UU Cipta Kerja muncul.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang Nur Widianto mengatakan, menurut ketentuan Kementerian Kominfo, Malang Raya termasuk yang melaksanakan ASO. Dengan demikian, siaran TV analog di Malang Raya, termasuk Kota Malang akan dinonaktifkan bulan depan. Tepatnya pada 2 November.

Baca Juga:  Jomplangan Identik dengan Kawasan Palang Pintu KA Kota Lama

“Tujuan program ASO ini akan meningkatkan kualitas gambar siar. Kemudian juga memberikan ruang bagi penambahan kanal siar,” terang pria yang akrab disapa Wiwid itu, kemarin (25/10).

Di samping itu, Wiwid menyebutkan jika dalam ASO terdapat program early warning system atau peringatan dini kebencanaan. Nantinya, program tersebut bisa disebarkan ke masyarakat secara meluas.

Namun, untuk warga yang memiliki TV analog tetap bisa menerapkan ASO. Mereka bisa menambahkan set top box (STB) atau penangkap siaran TV digital. Sebagian warga juga akan mendapatkan STB gratis.

“Mereka yang menerima STB gratis adalah keluarga pra-sejahtera atau yang tercantum dalam data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” terang pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.

Baca Juga:  Menginspirasi, 20 Sosok Ini Raih Penghargaan Inspiring Figures

Total ada sekitar 2.927 jiwa yang tercantum dalam DTKS. Akan tetapi, dari data DTKS yang dikirim ke Kementerian Kominfo, Wiwid mengaku pihaknya belum menerima informasi terkait jumlah pasti orang yang menerima bantuan STB.

“Kalau mencermati rilis dari kementerian, baru Jadetabek (Jakarta-Depok-Tangerang-Bekasi) saja yang mendapat dropping STB,” imbuhnya. Wiwid melanjutkan, apabila ada warga non-DTKS yang belum disupport, maka bisa melakukan penyediaan STB secara mandiri. Terlebih harganya relatif terjangkau.

Ditanya terkait warga non-DTKS yang sudah bermigrasi ke TV digital, dia menjawab belum tahu. “Sebab, kami belum melakukan pendataan,” tandas Wiwid. (mel/abm)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/