22.7 C
Malang
Jumat, Februari 16, 2024

2023, NJOP Bakal Naik Signifikan

MALANG KOTA – Tahun depan, nilai pajak untuk transaksi jual beli tanah dan bangunan di Kota Malang bakal meningkat. Itu menyusul rencana pemkot yang hendak menaikkan nilai jual objek pajak (NJOP) di tahun depan. Muara dari rencana itu tentu satu, yakni memaksimalkan serapan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

Selama ini, pemkot menyebut bila NJOP di Kota Malang tak mengalami perubahan dalam lima tahun terakhir. Padahal harga tanah terus merangkak naik tiap tahunnya. Beranjak dari situ, kini ada rencana untuk menaikkan NJOP. Peningkatannya cukup signifikan. Bisa dua sampai tiga kali lipat dari nilai yang sekarang. ”Kami sesuaikan karena harus menyesuaikan harga pasar,” kata Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang Handi Priyanto.

Dia mencontohkan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Soehat), yang memiliki nilai pasaran Rp 10 juta per meter. Namun NJOP yang di sana masih senilai Rp 3 juta per meter. Jika dinaikkan mulai tahun depan, maka NJOP di sana bisa menyentuh angka Rp 9 juta per meter.

Baca Juga:  Mau Dioperasi asal Diantar Aremania

Tak hanya di Soehat, kawasan Kaoetangan Heritage juga demikian.

Bapenda mencatat harga pasar di sana sudah menyentuh angka Rp 15 juta per meter. Namun NJOP masih berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 3 juta. Meski ada rencana menaikkan NJOP, Handi memastikan bila tak akan berpengaruh ke nilai pajak bumi dan bangunan (PBB). Pria yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perrhubungan (Dishub) Kota Malang itu menyebut bila pihaknya semat-mata ingin mendongkrak pendapatan BPHTB.

Apalagi, target pendapatan pajak daerah pada tahun depan bakal menembus angka Rp 1 triliun. ”Jadi misal (tagihan) PBB-nya Rp 500 ribu maka ya tetap, tidak ada kenaikan,” tambah dia. Untuk saat ini, konsultan dari bapenda tengah menghitung ulang NJOP di tiap wilayah di Kota Malang. Begitu juga dengan legalitas kenaikan NJOP, yang bakal dicantumkan di Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pajak dan Retribusi Daerah.

Baca Juga:  Laba Rp 51,4 Triliun, melalui Pajak dan Dividen akan Kembali ke Rakyat

Menanggapi rencana itu, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pengembang Seluruh Indonesia (Apersi) Kota Malang Doni Ganatha berharap ada kajian yang lebih matang. Bila jadi diterapkan di 2023, dia menyebut bila itu cukup cepat. Dia khawatir bila kenaikan NJOP itu bisa memengaruhi daya beli masyarakat di sektor properti. ”Secara otomatis kan harga tanah maupun rumah naik sesuai persentase dari NJOP. Secara hitung-hitungan tetap untung, tapi juga berefek ke daya beli yang bisa rendah,” bebernya.

Tak hanya itu saja, masalah serapan kerja di sektor properti juga diprediksi berkurang. Para pengembang pasti telah memperhitungkan estimasi biaya pembangunan rumah. Sebelum kenaikan NJOP diresmikan, Doni meminta Pemkot Malang menjalin komunikasi dengan para pengembang. Dia tak mempermasalahkan jika NJOP naik, namun tentu besarannya harus rasional. ”Intinya klasterisasi itu penting, kalau disamaratakan pasti yang dirugikan masyarakat,” tandasnya. (adn/by)

MALANG KOTA – Tahun depan, nilai pajak untuk transaksi jual beli tanah dan bangunan di Kota Malang bakal meningkat. Itu menyusul rencana pemkot yang hendak menaikkan nilai jual objek pajak (NJOP) di tahun depan. Muara dari rencana itu tentu satu, yakni memaksimalkan serapan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

Selama ini, pemkot menyebut bila NJOP di Kota Malang tak mengalami perubahan dalam lima tahun terakhir. Padahal harga tanah terus merangkak naik tiap tahunnya. Beranjak dari situ, kini ada rencana untuk menaikkan NJOP. Peningkatannya cukup signifikan. Bisa dua sampai tiga kali lipat dari nilai yang sekarang. ”Kami sesuaikan karena harus menyesuaikan harga pasar,” kata Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang Handi Priyanto.

Dia mencontohkan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Soehat), yang memiliki nilai pasaran Rp 10 juta per meter. Namun NJOP yang di sana masih senilai Rp 3 juta per meter. Jika dinaikkan mulai tahun depan, maka NJOP di sana bisa menyentuh angka Rp 9 juta per meter.

Baca Juga:  Interior MCC Butuh Rp 25 M

Tak hanya di Soehat, kawasan Kaoetangan Heritage juga demikian.

Bapenda mencatat harga pasar di sana sudah menyentuh angka Rp 15 juta per meter. Namun NJOP masih berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 3 juta. Meski ada rencana menaikkan NJOP, Handi memastikan bila tak akan berpengaruh ke nilai pajak bumi dan bangunan (PBB). Pria yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perrhubungan (Dishub) Kota Malang itu menyebut bila pihaknya semat-mata ingin mendongkrak pendapatan BPHTB.

Apalagi, target pendapatan pajak daerah pada tahun depan bakal menembus angka Rp 1 triliun. ”Jadi misal (tagihan) PBB-nya Rp 500 ribu maka ya tetap, tidak ada kenaikan,” tambah dia. Untuk saat ini, konsultan dari bapenda tengah menghitung ulang NJOP di tiap wilayah di Kota Malang. Begitu juga dengan legalitas kenaikan NJOP, yang bakal dicantumkan di Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pajak dan Retribusi Daerah.

Baca Juga:  Ebupot PPh 23: Pengertian, Kelebihan, dan Fungsinya

Menanggapi rencana itu, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pengembang Seluruh Indonesia (Apersi) Kota Malang Doni Ganatha berharap ada kajian yang lebih matang. Bila jadi diterapkan di 2023, dia menyebut bila itu cukup cepat. Dia khawatir bila kenaikan NJOP itu bisa memengaruhi daya beli masyarakat di sektor properti. ”Secara otomatis kan harga tanah maupun rumah naik sesuai persentase dari NJOP. Secara hitung-hitungan tetap untung, tapi juga berefek ke daya beli yang bisa rendah,” bebernya.

Tak hanya itu saja, masalah serapan kerja di sektor properti juga diprediksi berkurang. Para pengembang pasti telah memperhitungkan estimasi biaya pembangunan rumah. Sebelum kenaikan NJOP diresmikan, Doni meminta Pemkot Malang menjalin komunikasi dengan para pengembang. Dia tak mempermasalahkan jika NJOP naik, namun tentu besarannya harus rasional. ”Intinya klasterisasi itu penting, kalau disamaratakan pasti yang dirugikan masyarakat,” tandasnya. (adn/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/