23.6 C
Malang
Jumat, Desember 8, 2023

Coreti Patung Pahlawan, Bikin Murka

MALANG KOTA – Aksi vandalisme kembali terjadi. Setelah sebelumnya dua bangku di Kawasan Kajottangan yang dirusak bahkan hilang, kali ini giliran Patung Tentara Pelajar Republik Indonesia (TRIP). Dari unggahan salah satu pengguna media sosial, bagian dinding Patung TRIP diketahui dipenuhi goresan cat berwarna biru.

Hal itu membuat geram keluarga Paguyuban TRIP. Terlebih lagi, vandalisme terjadi seminggu menjelang Peringatan 75 Tahun Peristiwa Pertempuran Jalan Salak, yakni tanggal 31 Juli mendatang. 

Diungkapkan oleh Ketua Peringatan 75 Tahun Peristiwa Pertempuran Jalan Salak Iwan Hardiarto, pihaknya mengecam vandalisme di patung yang berlokasi di Jalan Pahlawan Trip, Kecamatan Klojen, itu. Sebab, dulu jalan ini juga menjadi kawasan perjuangan tentara pelajar dan merupakan salah satu lambang negara. 

“Banyak jenazah bertebaran di sini yang meninggal setelah melawan tentara Belanda. Mereka ditembaki senjata otomatis oleh tentara yang menggunakan mobil lapis baja,” terang Iwan. 

Bahkan, mobil lapis baja yang disebut Amtraks tersebut kini masih tersimpan dalam Monumen Pahlawan TRIP. Lokasinya tak jauh dari tempat patung berada. “Sudah dua kali seperti ini. Mereka yang melakukan aksi coret-coret (di objek cagar budaya) seperti ini tidak memiliki jiwa nasionalis. Memalukan,” ujarnya murka. 

Baca Juga:  Kampus Swasta Masih Buka Pendaftaran Maba

Sejauh ini, belum diketahui siapa yang bertangan jahil maupun alasan yang melatarbelakangi vandalisme. Iwan menduga, ada pihak-pihak yang berniat untuk mencoret-coret. 

Usai mengetahui vandalisme yang terjadi dari sang anak, Iwan bersama delapan orang dari Paguyuban Keluarga TRIP langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan pembersihan. Pembersihan dimulai pukul 08.00 WIB, kemarin (23/7). 

Secara terpisah, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Rakai Hino Galeswangi turut menyayangkan aksi vandalisme itu. Dia mengatakan, menjadi ironi jika para pemuda Kota Malang tidak memahami sejarah di balik Patung TRIP dan malah melakukan coret-coret. 

Pria yang juga alumnus Pascasarjana Pendidikan Sejarah UM itu menjelaskan Patung TRIP memiliki sejarah yang berkaitan dengan Peristiwa Jalan Salak. Secara singkat, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 31 Juli 1947. “Bersamaan dengan Agresi Militer Belanda, Pasukan TRIP dan KNIL bersitegang karena pertahanan pasukan di Kota Malang berhasil dibobol oleh Pasukan Belanda,” bebernya. 

Baca Juga:  Singgung Tragedi Kanjuruhan di Hari HAM Internasional

Rakai melanjutkan, Pasukan TRIP dari Batalyon 17 Brigadir 500 dengan persenjataan seadanya melawan tentara Belanda yang bersenjata canggih. Salah satunya adalah mobil Amtraks. Akibat pertempuran, anggota pasukan yang dipimpin Komandon Susanto itu banyak menjadi korban.

“Hal inilah yang melatarbelakangi pembangunan monumen dan makam pahlawan TRIP. Sebanyak 35 tentara pelajar gugur demi mempertahankan wilayah Kota Malang. Mereka dikubur dalam satu liang lahat,” imbuhnya. 

Selain patung pahlawan TRIP, jembatan dan sejumlah bangunan bersejarah juga pernah menjadi objek dari tangantangan tidak bertanggung jawab. Tindakan tersebut bahkan sempat dibahas oleh Disdikbud Kota Malang. 

“Meski tidak selayaknya dilakukan, mungkin ini juga salah satu bentuk protes entah oleh anak-anak yang tidak punya ruang untuk membuat grafiti atau orang yang punya nasionalisme, tapi merasa jika Pemerintah Kota Malang kurang peduli dengan tinggalan bersejarah, sehingga melakukan ini,” tandasnya. (mel/abm)

MALANG KOTA – Aksi vandalisme kembali terjadi. Setelah sebelumnya dua bangku di Kawasan Kajottangan yang dirusak bahkan hilang, kali ini giliran Patung Tentara Pelajar Republik Indonesia (TRIP). Dari unggahan salah satu pengguna media sosial, bagian dinding Patung TRIP diketahui dipenuhi goresan cat berwarna biru.

Hal itu membuat geram keluarga Paguyuban TRIP. Terlebih lagi, vandalisme terjadi seminggu menjelang Peringatan 75 Tahun Peristiwa Pertempuran Jalan Salak, yakni tanggal 31 Juli mendatang. 

Diungkapkan oleh Ketua Peringatan 75 Tahun Peristiwa Pertempuran Jalan Salak Iwan Hardiarto, pihaknya mengecam vandalisme di patung yang berlokasi di Jalan Pahlawan Trip, Kecamatan Klojen, itu. Sebab, dulu jalan ini juga menjadi kawasan perjuangan tentara pelajar dan merupakan salah satu lambang negara. 

“Banyak jenazah bertebaran di sini yang meninggal setelah melawan tentara Belanda. Mereka ditembaki senjata otomatis oleh tentara yang menggunakan mobil lapis baja,” terang Iwan. 

Bahkan, mobil lapis baja yang disebut Amtraks tersebut kini masih tersimpan dalam Monumen Pahlawan TRIP. Lokasinya tak jauh dari tempat patung berada. “Sudah dua kali seperti ini. Mereka yang melakukan aksi coret-coret (di objek cagar budaya) seperti ini tidak memiliki jiwa nasionalis. Memalukan,” ujarnya murka. 

Baca Juga:  Pemkot Malang Tegaskan Pembubaran Aksi Demo Demi Cegah Covid-19

Sejauh ini, belum diketahui siapa yang bertangan jahil maupun alasan yang melatarbelakangi vandalisme. Iwan menduga, ada pihak-pihak yang berniat untuk mencoret-coret. 

Usai mengetahui vandalisme yang terjadi dari sang anak, Iwan bersama delapan orang dari Paguyuban Keluarga TRIP langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan pembersihan. Pembersihan dimulai pukul 08.00 WIB, kemarin (23/7). 

Secara terpisah, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Rakai Hino Galeswangi turut menyayangkan aksi vandalisme itu. Dia mengatakan, menjadi ironi jika para pemuda Kota Malang tidak memahami sejarah di balik Patung TRIP dan malah melakukan coret-coret. 

Pria yang juga alumnus Pascasarjana Pendidikan Sejarah UM itu menjelaskan Patung TRIP memiliki sejarah yang berkaitan dengan Peristiwa Jalan Salak. Secara singkat, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 31 Juli 1947. “Bersamaan dengan Agresi Militer Belanda, Pasukan TRIP dan KNIL bersitegang karena pertahanan pasukan di Kota Malang berhasil dibobol oleh Pasukan Belanda,” bebernya. 

Baca Juga:  Singgung Tragedi Kanjuruhan di Hari HAM Internasional

Rakai melanjutkan, Pasukan TRIP dari Batalyon 17 Brigadir 500 dengan persenjataan seadanya melawan tentara Belanda yang bersenjata canggih. Salah satunya adalah mobil Amtraks. Akibat pertempuran, anggota pasukan yang dipimpin Komandon Susanto itu banyak menjadi korban.

“Hal inilah yang melatarbelakangi pembangunan monumen dan makam pahlawan TRIP. Sebanyak 35 tentara pelajar gugur demi mempertahankan wilayah Kota Malang. Mereka dikubur dalam satu liang lahat,” imbuhnya. 

Selain patung pahlawan TRIP, jembatan dan sejumlah bangunan bersejarah juga pernah menjadi objek dari tangantangan tidak bertanggung jawab. Tindakan tersebut bahkan sempat dibahas oleh Disdikbud Kota Malang. 

“Meski tidak selayaknya dilakukan, mungkin ini juga salah satu bentuk protes entah oleh anak-anak yang tidak punya ruang untuk membuat grafiti atau orang yang punya nasionalisme, tapi merasa jika Pemerintah Kota Malang kurang peduli dengan tinggalan bersejarah, sehingga melakukan ini,” tandasnya. (mel/abm)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/