22 C
Malang
Sabtu, April 13, 2024

Perdana, Tahun Baru Imlek tanpa Pembatasan

MALANG KOTA – Ini merupakan Imlek perdana tanpa pembatasan, sejak pandemi Covid-19, tiga tahun lalu. Sejak pukul 10.00 kemarin (22/1), masyarakat sudah berjubel memadati kelenteng Eng An Kiong, baik umat yang sembahyang maupun yang sekadar ingin melihat tradisi Imlek di kelenteng.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang, sekitar 40-50 orang mengikuti sembahyang. Mayoritas berbusana serba merah. Bagi jamaah perempuan menggunakan baju cheongsam, sedangkan laki-laki dengan changsan.

Mereka bersimpuh sembari memanjatkan doa. Ritual diawali dengan sembahyang di Altar Tuhan Yang. Lalu sembahyang di altar utama menghadap dewa bumi atau Fu De Zheng Shen.

Dalam keyakinan umat Tionghoa, dewa bumi merupakan dewa yang memberikan berkah kepada umat manusia atas jerih payah, sehingga hasil tanaman bisa memberikan penghidupan kepada manusia.

Baca Juga:  Upacara Kemerdekaan Diterjang "Tsunami"

Ketua Kelenteng Eng An Kiong Rudi Phan mengatakan, Imlek merupakan awal musim semi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), tapi dirayakan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Secara rangkaian, Imlek sudah dilakukan sejak 15 Januari lalu dengan Sung Sien atau mengantar dewa ke kahyangan. “Lalu dilanjutkan dengan ibadah kepada Tuhan hari ini kemarin, (22/1). Setelah itu penjemputan dewa yang dilakukan pada 25 Januari depan,” ujar Rudi.

Bagi masyarakat yang hendak meramaikan Imlek, pihak kelenteng juga menggelar Wayang Potehi. Pergelarannya dilakukan pada 26 Januari-23 Maret depan. Sementara itu, puncak perayaan Imlek berlangsung pada 5 Februari lewat cap go meh. “Untuk cap go meh, kami menyediakan 2.500 porsi lontong yang bisa dinikmati siapa pun,” sebutnya.

Baca Juga:  Kena Protes Netizen, Pasar Murah Ramadan Kota Malang Dibatalkan

Sementara itu, Ketua Majelis Agama Konghucu Kelenteng Eng An Kiong Halim Tobing menambahkan, umat mengucapkan rasa syukur atas berkah yang diterima pada tahun sebelumnya. Yakni tahun 2573 kongzili atau disebut tahun harimau. Pada 2023 ini adalah awal dari tahun 2574 kongzili atau tahun kelinci air.

Dia berharap tahun ini rezeki semakin berlimpah. Secara perbedaan, Halim memaparkan, tahun ini perayaan Imlek lebih longgar. Tidak ada larangan seperti tiga tahun sebelumnya. Umat bisa melakukan sembahyang di rumah maupun kelenteng.

“Ke depan, rencananya kegiatan kelenteng tidak akan terbatas pada Imlek. Namun juga kegiatan lain seperti les bahasa Mandarin, wushu, pingpong, bulu tangkis, hingga bakti sosial,” tandasnya. (mel/dan)

 

MALANG KOTA – Ini merupakan Imlek perdana tanpa pembatasan, sejak pandemi Covid-19, tiga tahun lalu. Sejak pukul 10.00 kemarin (22/1), masyarakat sudah berjubel memadati kelenteng Eng An Kiong, baik umat yang sembahyang maupun yang sekadar ingin melihat tradisi Imlek di kelenteng.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang, sekitar 40-50 orang mengikuti sembahyang. Mayoritas berbusana serba merah. Bagi jamaah perempuan menggunakan baju cheongsam, sedangkan laki-laki dengan changsan.

Mereka bersimpuh sembari memanjatkan doa. Ritual diawali dengan sembahyang di Altar Tuhan Yang. Lalu sembahyang di altar utama menghadap dewa bumi atau Fu De Zheng Shen.

Dalam keyakinan umat Tionghoa, dewa bumi merupakan dewa yang memberikan berkah kepada umat manusia atas jerih payah, sehingga hasil tanaman bisa memberikan penghidupan kepada manusia.

Baca Juga:  Dari 36 Titik, 17 Lokasi Paling Parah

Ketua Kelenteng Eng An Kiong Rudi Phan mengatakan, Imlek merupakan awal musim semi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), tapi dirayakan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Secara rangkaian, Imlek sudah dilakukan sejak 15 Januari lalu dengan Sung Sien atau mengantar dewa ke kahyangan. “Lalu dilanjutkan dengan ibadah kepada Tuhan hari ini kemarin, (22/1). Setelah itu penjemputan dewa yang dilakukan pada 25 Januari depan,” ujar Rudi.

Bagi masyarakat yang hendak meramaikan Imlek, pihak kelenteng juga menggelar Wayang Potehi. Pergelarannya dilakukan pada 26 Januari-23 Maret depan. Sementara itu, puncak perayaan Imlek berlangsung pada 5 Februari lewat cap go meh. “Untuk cap go meh, kami menyediakan 2.500 porsi lontong yang bisa dinikmati siapa pun,” sebutnya.

Baca Juga:  Raih 29 Suara, Prof Imam Santoso Unggul di Tingkat Senat Pemilihan Rektor UB

Sementara itu, Ketua Majelis Agama Konghucu Kelenteng Eng An Kiong Halim Tobing menambahkan, umat mengucapkan rasa syukur atas berkah yang diterima pada tahun sebelumnya. Yakni tahun 2573 kongzili atau disebut tahun harimau. Pada 2023 ini adalah awal dari tahun 2574 kongzili atau tahun kelinci air.

Dia berharap tahun ini rezeki semakin berlimpah. Secara perbedaan, Halim memaparkan, tahun ini perayaan Imlek lebih longgar. Tidak ada larangan seperti tiga tahun sebelumnya. Umat bisa melakukan sembahyang di rumah maupun kelenteng.

“Ke depan, rencananya kegiatan kelenteng tidak akan terbatas pada Imlek. Namun juga kegiatan lain seperti les bahasa Mandarin, wushu, pingpong, bulu tangkis, hingga bakti sosial,” tandasnya. (mel/dan)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/