22.8 C
Malang
Minggu, April 7, 2024

Rel Kereta Era Kolonial Muncul di Kajoetangan

MALANG KOTA – Penggarapan proyek Zona 3 Kajoetangan Heritage menemukan “aset” berharga. Yakni berupa rel kereta api kuno era kolonial. Diperkirakan, rel itu dibangun tahun 1901. Rel itu berada persis di depan patung Chairil Anwar, Jalan Jenderal Basuki Rahmat. Rangkaian itu membentang dari selatan ke utara sepanjang 15 meter.

Kabar tersingkapnya rangkaian rel trem itu diketahui oleh bagian kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang. Menurut Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Dian Kuntari, pihaknya juga baru mengetahui terkait hal ini.

“Kebetulan, kami lewat di sini dan melihat. Sebetulnya, kami juga tidak tahu terkait ini karena Disdikbud yang mengampu TACB tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan. Padahal, lokasi ini merupakan zona cagar budaya,” ujar Dian yang kemarin ditemani Sekretaris TACB Kota Malang Rakai Hino Galeswangi.

Rakai menambahkan, dalam sejarahnya jalur trem itu merupakan milik Malang Stoomtram Maatschappij (MSM). Artinya, rel tersebut sudah ada sejak era kolonial yang dibangun sekitar tahun 1901. Rel itu diba ngun untuk jurusan JagalanBlimbing. Selanjutnya, operasi MSM ditutup pada masa Jepang.

Baca Juga:  Tak Mau Kecolongan, Pengamanan Mapolresta Malang Kota Diketati

Di masa Wali Kota Malang Sugiyono, rel tersebut ditutup. Sebab, saat musim hujan banyak orang yang mengalami kecelakaan karena roda sepedanya terselip. Sehingga rel harus ditutup total dengan aspal. Rel itu, kata Rakai, masih satu rangkaian dengan temuan rel di depan Toko Avia dan Raja Bali pada November 2020. Rangkaian yang ada di depan Avia dan Raja Bali pernah ditinjau oleh Wali Kota Malang Sutiaji serta Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko. Dalam peninjauan, pernah disetujui jika rangkaian rel akan diberi penanda.

“Kala itu disetujui jika di sana akan diberi papan penanda yang menandakan jika di sini ada tinggalan berupa struktur. Rel ini kan merupakan struktur,” ujarnya.

Menurut Rakai, ada 5 kategori cagar budaya. Yakni bangunan, ben da, kawasan, situs, dan struktur. Sementara rel termasuk kategori struktur.

Baca Juga:  Wali Kota Malang Nonaktifkan Pejabat yang Terlibat Narkoba

“Inginnya, kalau proyek Pemkot ini ditonjolkan sebagai kawasan heritage, yang seperti ini harusnya dipedulikan. Jangan sampai ditutup dan tidak ada tandanya. Ini nanti mau kami tanyakan ke kepala proyek bagaimana pembangunannya. Harusnya dinas PU tahu. Tapi lagi-lagi dinas kebudayaan tidak pernah dilibatkan,” komentarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto menanggapi jika dalam pembangunan Zona 3 Kayu tangan tidak akan merusak atau memindahkan rel bekas trem. Namun demikian belum ada rencana pemanfaatan rel saat ini.

“Jadi nanti kami dari DPURPKP tetap mengamankan keberadaan rel itu. Nantinya, rel akan kami tutup, sehingga keberadaannya tetap ada. Kalau suatu saat pemkot merencanakan, rel bisa digali kembali,” ujarnya. Jika perlu, lanjut Dandung, bisa dibuatkan papan penanda. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengetahui jika ada bekas jalur trem. Ke depan, pihaknya juga akan menggandeng Disdikbud dan membuat surat tertulis kepada Disdikbud. (mel/abm)

MALANG KOTA – Penggarapan proyek Zona 3 Kajoetangan Heritage menemukan “aset” berharga. Yakni berupa rel kereta api kuno era kolonial. Diperkirakan, rel itu dibangun tahun 1901. Rel itu berada persis di depan patung Chairil Anwar, Jalan Jenderal Basuki Rahmat. Rangkaian itu membentang dari selatan ke utara sepanjang 15 meter.

Kabar tersingkapnya rangkaian rel trem itu diketahui oleh bagian kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang. Menurut Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Dian Kuntari, pihaknya juga baru mengetahui terkait hal ini.

“Kebetulan, kami lewat di sini dan melihat. Sebetulnya, kami juga tidak tahu terkait ini karena Disdikbud yang mengampu TACB tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan. Padahal, lokasi ini merupakan zona cagar budaya,” ujar Dian yang kemarin ditemani Sekretaris TACB Kota Malang Rakai Hino Galeswangi.

Rakai menambahkan, dalam sejarahnya jalur trem itu merupakan milik Malang Stoomtram Maatschappij (MSM). Artinya, rel tersebut sudah ada sejak era kolonial yang dibangun sekitar tahun 1901. Rel itu diba ngun untuk jurusan JagalanBlimbing. Selanjutnya, operasi MSM ditutup pada masa Jepang.

Baca Juga:  Minimalisasi Penyalahgunaan Tata Ruang, Pacu Implementasi RDTR

Di masa Wali Kota Malang Sugiyono, rel tersebut ditutup. Sebab, saat musim hujan banyak orang yang mengalami kecelakaan karena roda sepedanya terselip. Sehingga rel harus ditutup total dengan aspal. Rel itu, kata Rakai, masih satu rangkaian dengan temuan rel di depan Toko Avia dan Raja Bali pada November 2020. Rangkaian yang ada di depan Avia dan Raja Bali pernah ditinjau oleh Wali Kota Malang Sutiaji serta Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko. Dalam peninjauan, pernah disetujui jika rangkaian rel akan diberi penanda.

“Kala itu disetujui jika di sana akan diberi papan penanda yang menandakan jika di sini ada tinggalan berupa struktur. Rel ini kan merupakan struktur,” ujarnya.

Menurut Rakai, ada 5 kategori cagar budaya. Yakni bangunan, ben da, kawasan, situs, dan struktur. Sementara rel termasuk kategori struktur.

Baca Juga:  Kabur Lewat Jendela Lantai 4, Gunakan Kain Daster dan Tali

“Inginnya, kalau proyek Pemkot ini ditonjolkan sebagai kawasan heritage, yang seperti ini harusnya dipedulikan. Jangan sampai ditutup dan tidak ada tandanya. Ini nanti mau kami tanyakan ke kepala proyek bagaimana pembangunannya. Harusnya dinas PU tahu. Tapi lagi-lagi dinas kebudayaan tidak pernah dilibatkan,” komentarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto menanggapi jika dalam pembangunan Zona 3 Kayu tangan tidak akan merusak atau memindahkan rel bekas trem. Namun demikian belum ada rencana pemanfaatan rel saat ini.

“Jadi nanti kami dari DPURPKP tetap mengamankan keberadaan rel itu. Nantinya, rel akan kami tutup, sehingga keberadaannya tetap ada. Kalau suatu saat pemkot merencanakan, rel bisa digali kembali,” ujarnya. Jika perlu, lanjut Dandung, bisa dibuatkan papan penanda. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengetahui jika ada bekas jalur trem. Ke depan, pihaknya juga akan menggandeng Disdikbud dan membuat surat tertulis kepada Disdikbud. (mel/abm)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/