23.3 C
Malang
Kamis, April 11, 2024

Pemkot Janji Tuntaskan Proyek Pengerukan Bozem Pulosari dalam 4 Bulan

MALANG KOTA –  Sebagian kawasan Kecamatan Blimbing masih kerap terjadi banjir dan genangan air saat hujan. Selain buruknya saluran drainase, ada faktor lain yang memicu banjir masih terus terjadi. Yakni keberadaan bozem atau kolam penangkal banjir di Pulosari yang mengalami pendangkalan parah.

Kondisi kolam seluas sekitar 5 ribu meter persegi itu juga tak terurus. Bahkan endapan lumpur di kolam tersebut hampir mencapai permukaan. Karena itu, Pemkot Malang pun berencana melakukan  pengerukan sedimentasi di kolam tersebut. “Ya, ini prosesnya sudah mau masuk lelang, bulan depan setidaknya bisa dikerjakan,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi.

Diah menjelaskan, kedalaman bozem Pulosari bisa mencapai empat meter. Namun karena adanya sedimentasi, pendangkalan lumpur sudah mencapai permukaan. Akibatnya, ketika hujan turun cukup deras, bozem tersebut tak bisa menampung limpasan air dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, air meluap dan membanjiri kawasan di sekitar bozem.

Baca Juga:  Tersinggung Diumpat saat Main Game Online, Nekat Habisi Teman Kerja

Untuk pengerukan sedimentasi bozem, Diah menyatakan butuh waktu sekitar empat bulan. Pengerukan tersebut dilakukan demi mengembalikan fungsi bozem. Artinya, pengerukan itu mengembalikan kedalaman bozem sedalam empat meter. “Kami juga menggelontorkan anggaran pengerukan dan revitalisasi bozem sebesar Rp 1 miliar,” terang perempuan yang juga menjabat sebagai Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Malang itu.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua II DPRD Kota Malang Asmualik meminta pemkot serius dengan rencana tersebut. Sebab, pengerukan sedimentasi lumpur itu dinilainya bakal mengurangi banjir di Kecamatan Blimbing. Dengan kata lain pemkot bisa memanfaatkan aset lama tersebut sebagai salah satu cara mengurangi banjir. ”Tentu harus dipercepat, karena nanti saat musim penghujan dengan intensitas tinggi biar nggak kelagepan (kebingungan),” saran Asmualik.

Baca Juga:  Tiap Bulan, Tangani 20 Korban Kecelakaan

Anggota dewan dari dapil Blimbing itu juga menyarankan pemkot merevitalisasi bozem Pulosari. Jangan sampai bozem tergusur dengan pembangunan perumahan. Menurut Asmualik, keberadaan bozem bisa menjadi kantong penadah air hujan. Air yang tertampung tersebut juga bisa meresap ke dalam tanah sebagai serapan air lanjutan.

Asmualik juga ingin komunikasi antara pemkot dengan masyarakat di sekitar bozem bisa lebih intens sebelum pengerukan. Dia tak ingin ada konflik khususnya penolakan dari warga. Sebab, proyek ini juga sebagai usaha mengurangi banjir di tengah pemkot yang juga mau membuat blueprint tentang drainase. “Maka dari itu jangan sampai nanti bozem tak berfungsi atau berujung sama saja mengendap lagi. Maka harus ada perawatan juga,” tandasnya. (adn/nay)

MALANG KOTA –  Sebagian kawasan Kecamatan Blimbing masih kerap terjadi banjir dan genangan air saat hujan. Selain buruknya saluran drainase, ada faktor lain yang memicu banjir masih terus terjadi. Yakni keberadaan bozem atau kolam penangkal banjir di Pulosari yang mengalami pendangkalan parah.

Kondisi kolam seluas sekitar 5 ribu meter persegi itu juga tak terurus. Bahkan endapan lumpur di kolam tersebut hampir mencapai permukaan. Karena itu, Pemkot Malang pun berencana melakukan  pengerukan sedimentasi di kolam tersebut. “Ya, ini prosesnya sudah mau masuk lelang, bulan depan setidaknya bisa dikerjakan,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi.

Diah menjelaskan, kedalaman bozem Pulosari bisa mencapai empat meter. Namun karena adanya sedimentasi, pendangkalan lumpur sudah mencapai permukaan. Akibatnya, ketika hujan turun cukup deras, bozem tersebut tak bisa menampung limpasan air dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, air meluap dan membanjiri kawasan di sekitar bozem.

Baca Juga:  Jalanan di Kota Malang Bakal Makin Terang Benderang. Ini sebabnya!

Untuk pengerukan sedimentasi bozem, Diah menyatakan butuh waktu sekitar empat bulan. Pengerukan tersebut dilakukan demi mengembalikan fungsi bozem. Artinya, pengerukan itu mengembalikan kedalaman bozem sedalam empat meter. “Kami juga menggelontorkan anggaran pengerukan dan revitalisasi bozem sebesar Rp 1 miliar,” terang perempuan yang juga menjabat sebagai Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Malang itu.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua II DPRD Kota Malang Asmualik meminta pemkot serius dengan rencana tersebut. Sebab, pengerukan sedimentasi lumpur itu dinilainya bakal mengurangi banjir di Kecamatan Blimbing. Dengan kata lain pemkot bisa memanfaatkan aset lama tersebut sebagai salah satu cara mengurangi banjir. ”Tentu harus dipercepat, karena nanti saat musim penghujan dengan intensitas tinggi biar nggak kelagepan (kebingungan),” saran Asmualik.

Baca Juga:  Batal Mendahului, Senggol Geely, Escudo di Malang Terbalik

Anggota dewan dari dapil Blimbing itu juga menyarankan pemkot merevitalisasi bozem Pulosari. Jangan sampai bozem tergusur dengan pembangunan perumahan. Menurut Asmualik, keberadaan bozem bisa menjadi kantong penadah air hujan. Air yang tertampung tersebut juga bisa meresap ke dalam tanah sebagai serapan air lanjutan.

Asmualik juga ingin komunikasi antara pemkot dengan masyarakat di sekitar bozem bisa lebih intens sebelum pengerukan. Dia tak ingin ada konflik khususnya penolakan dari warga. Sebab, proyek ini juga sebagai usaha mengurangi banjir di tengah pemkot yang juga mau membuat blueprint tentang drainase. “Maka dari itu jangan sampai nanti bozem tak berfungsi atau berujung sama saja mengendap lagi. Maka harus ada perawatan juga,” tandasnya. (adn/nay)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/