21.6 C
Malang
Jumat, Februari 9, 2024

Setahun, Ada 500 Janda Baru di Kota Batu

BATU – Angka perceraian di Kota Batu selama tahun 2022 lalu mencapai ratusan kasus. Dari data Pengadilan Agama (PA) Kota Malang yang menangani masalah tersebut, tercatat ada 500 pengajuan cerai yang dikabulkan oleh negara. Menariknya, dari jumlah kasus itu, lebih banyak istri yang menggugat cerai suaminya.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Malang Kelas I A, Mochamad Dedy Kurniawan menerangkan, ada dua jenis perceraian. Yakni cerai gugat, di mana sang istri yang mengajukan perceraian. Sementara satunya yakni cerai talak, di mana sang suami yang mengajukan gugatan cerai.

“Cerai gugat ada 374 kasus dan cerai talak 126 kasus,” tuturnya. Dengan angka tersebut bisa disimpulkan cerai gugat yang merupakan pengajuan dari pihak istri lebih banyak dari cerai talak yang pengajuannya dari pihak suami. Bahkan jika dihitung kembali, cerai gugat hampir tiga kali lipat dari cerai talak.

Baca Juga:  Disporapar Target Renovasi GOR Ken Arok Tuntas September

Sementara, jika dilihat per kecamatan di Kota Batu. Bumiaji menjadi paling tertinggi dengan 230 kasus perceraian. Kemudian di susul Kecamatan Batu dengan 157 perceraian. Terakhir Kecamatan Junrejo dengan 113 kasus.

Lebih lanjut dari segi alasan mengapa memilih bercerai. Dedy menerangkan, alasan paling banyak yakni terjadinya pertengkaran terus-menerus oleh kedua belah pihak. Kemudian di urutan kedua karena problem ekonomi. Sementara urutan ketiga karena meninggalkan salah satu pihak atau minggat. “Ada alasan lain tapi tidak terlalu banyak. Seperti judi, dihukum penjara, KDRT, cacat badan dan murtad,” pungkas Dedy. (adk/lid)

BATU – Angka perceraian di Kota Batu selama tahun 2022 lalu mencapai ratusan kasus. Dari data Pengadilan Agama (PA) Kota Malang yang menangani masalah tersebut, tercatat ada 500 pengajuan cerai yang dikabulkan oleh negara. Menariknya, dari jumlah kasus itu, lebih banyak istri yang menggugat cerai suaminya.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Malang Kelas I A, Mochamad Dedy Kurniawan menerangkan, ada dua jenis perceraian. Yakni cerai gugat, di mana sang istri yang mengajukan perceraian. Sementara satunya yakni cerai talak, di mana sang suami yang mengajukan gugatan cerai.

“Cerai gugat ada 374 kasus dan cerai talak 126 kasus,” tuturnya. Dengan angka tersebut bisa disimpulkan cerai gugat yang merupakan pengajuan dari pihak istri lebih banyak dari cerai talak yang pengajuannya dari pihak suami. Bahkan jika dihitung kembali, cerai gugat hampir tiga kali lipat dari cerai talak.

Baca Juga:  Punya Perda, Desa Wisata Kota Batu Harus Lebih Berdaya

Sementara, jika dilihat per kecamatan di Kota Batu. Bumiaji menjadi paling tertinggi dengan 230 kasus perceraian. Kemudian di susul Kecamatan Batu dengan 157 perceraian. Terakhir Kecamatan Junrejo dengan 113 kasus.

Lebih lanjut dari segi alasan mengapa memilih bercerai. Dedy menerangkan, alasan paling banyak yakni terjadinya pertengkaran terus-menerus oleh kedua belah pihak. Kemudian di urutan kedua karena problem ekonomi. Sementara urutan ketiga karena meninggalkan salah satu pihak atau minggat. “Ada alasan lain tapi tidak terlalu banyak. Seperti judi, dihukum penjara, KDRT, cacat badan dan murtad,” pungkas Dedy. (adk/lid)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/