21.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

Santri Putra Ponpes Kanzun Najah Dilatih Wirausaha Batik

KOTA BATU- Ada yang berbeda aktivitas di Pondok Pesantren Kanzun Najah, Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, siang ini. Puluhan santri putra tengah serius dengan hamparan kain di depannya terlihat mengikuti pelatihan wirausaha membatik, Minggu (27/12).

“Pondok kami berbasis entrepreneur sebab santri yang belajar di sini mayoritas mahasiswa S2. Dari rutinitas kegiatan harian, rupanya masih ada space para santri untuk berkreativitas, jadi kami berikan pelatihan wirausaha membatik, ” ujar Fathul Yasin, pengasuh Pondok Pesantren Kanzun Najah, ditemui di sela-sela pelatihan.

Karena mayoritas santri adalah petani anggrek, Yasin mengatakan kelas kewirausahaan sangat membantu mereka mengembangkan usaha yang dimiliki santri.

“Kreativitas yang kita dorong adalah menumbuhkan minat berwirausaha. Mayoritas santri di sini sudah berpenghasilan sendiri, dan mereka rata-rata petani anggrek yang melanjutkan kuliah karena usaha sendiri,” jelas Yasin.

Baca Juga:  Duh, Obat Kedaluwarsa Tembus Rp 500 Juta

Sementara itu, Ita Fitriah, pemateri batik asal kabupaten Malang mengatakan, pengembangan usaha mandiri penting untuk pemuda milenial. “Kami harapkan pelatihan ini mengenalkan budaya khas Indonesia tentang batik tulis sekaligus mengembangkan usaha mandiri. Skill mandiri santri bisa untuk pengembangan potensi diri mereka,” ujar dia.

Ita berharap, tema motif batik yang dikembangkan santri semoga bisa berkelanjutan dan dapat diproduksi sebagai identitas mereka. “Kami latih dengan mengembangkan motif anggrek sebagai edukasi sekaligus produksi,” kata dia.

Ita menjelaskan, ada beberapa tahapan dalam pelatihan batik tulis ini. Yang pertama adalah terkait penggalian motif, yaitu menjadikan pola motif di kain. “Karena media yang digunakan kain, tahapan dilanjutkan dengan mencanting memakai lilin panas untuk pelintang warna. Lalu mereka pun belajar pencampuran warna dan finishing untuk menguji daya lunturnya,” terang dia.

Baca Juga:  Libur Nataru Makin Dekat, Okupansi Hotel di Batu Masih Rendah

Ita menambahkan, karena pelatihan untuk para pembatik pemula, maka para santri putra itu menggambar motif anggrek di kain yang tidak begitu besar. “Jadi fokusnya kecil-kecil di kain 50 centimeter,” tandasnya.

Pewarta: Errica Vannie

KOTA BATU- Ada yang berbeda aktivitas di Pondok Pesantren Kanzun Najah, Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, siang ini. Puluhan santri putra tengah serius dengan hamparan kain di depannya terlihat mengikuti pelatihan wirausaha membatik, Minggu (27/12).

“Pondok kami berbasis entrepreneur sebab santri yang belajar di sini mayoritas mahasiswa S2. Dari rutinitas kegiatan harian, rupanya masih ada space para santri untuk berkreativitas, jadi kami berikan pelatihan wirausaha membatik, ” ujar Fathul Yasin, pengasuh Pondok Pesantren Kanzun Najah, ditemui di sela-sela pelatihan.

Karena mayoritas santri adalah petani anggrek, Yasin mengatakan kelas kewirausahaan sangat membantu mereka mengembangkan usaha yang dimiliki santri.

“Kreativitas yang kita dorong adalah menumbuhkan minat berwirausaha. Mayoritas santri di sini sudah berpenghasilan sendiri, dan mereka rata-rata petani anggrek yang melanjutkan kuliah karena usaha sendiri,” jelas Yasin.

Baca Juga:  Warga Protes Bau Sampah TPA Tlekung

Sementara itu, Ita Fitriah, pemateri batik asal kabupaten Malang mengatakan, pengembangan usaha mandiri penting untuk pemuda milenial. “Kami harapkan pelatihan ini mengenalkan budaya khas Indonesia tentang batik tulis sekaligus mengembangkan usaha mandiri. Skill mandiri santri bisa untuk pengembangan potensi diri mereka,” ujar dia.

Ita berharap, tema motif batik yang dikembangkan santri semoga bisa berkelanjutan dan dapat diproduksi sebagai identitas mereka. “Kami latih dengan mengembangkan motif anggrek sebagai edukasi sekaligus produksi,” kata dia.

Ita menjelaskan, ada beberapa tahapan dalam pelatihan batik tulis ini. Yang pertama adalah terkait penggalian motif, yaitu menjadikan pola motif di kain. “Karena media yang digunakan kain, tahapan dilanjutkan dengan mencanting memakai lilin panas untuk pelintang warna. Lalu mereka pun belajar pencampuran warna dan finishing untuk menguji daya lunturnya,” terang dia.

Baca Juga:  70 Bedak Pasar Wisata Tutup, Pedagang Lesu

Ita menambahkan, karena pelatihan untuk para pembatik pemula, maka para santri putra itu menggambar motif anggrek di kain yang tidak begitu besar. “Jadi fokusnya kecil-kecil di kain 50 centimeter,” tandasnya.

Pewarta: Errica Vannie

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/