28.9 C
Malang
Selasa, Februari 13, 2024

Diskumdag Bakal Data Ulang Pedagang Pasar

Utamakan yang Punya SK PKL Disiapkan Tempat di Belakang

KOTA BATU – Tak mau timbul polemik, Pemkot Batu bakal mendata ulang jumlah pasti pedagang yang berhak menempati Pasar Induk Among Tani yang kini sedang dibangun. Dengan data yang jelas, diharapkan proses pemindahan pedagang dari pasar relokasi ke pasar baru bisa lancar. Karena bisa dikatakan proses pemindahan hingga pengembalian pedagang pada pasar induk sangat ribet. Mulai dari munculnya pro kontra pembangunan, hingga pendataan detail sebelum pemberangkatan menuju relokasi.

Saat ini, meskipun pembangunan sudah sukses dijalankan. Tapi dinas terkait tetap saja harus memastikan lagi jumlah total pedagang yang direlokasi. Disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu Eko Suhar tono bahwa proses tersebut dinamakan verifikasi faktual. Tujuannya untuk melakukan sinkronisasi data jumlah pedagang yang telah disepakati antara diskumdag dengan pedagang sebelum di relokasi. Sehingga, data yang sesuai tidak akan menimbulkan permasalahan ketika gedung baru ditempati nanti.

Baca Juga:  Direnovasi, Kantor Kejari Pindah Sementara ke Kantor MUI

”Datanya akan kami sinkronkan lagi dengan data saat pedagang direlokasi. Tujuan kami agar para pedagang yang punya SK itu haknya terpenuhi sesuai yang harus didapatkan,” jelas Eko. Rencananya, bedak­bedak yang berada di dalam pasar induk yang sedang direvitalisasi itu bakal menampung 2.209 pedagang. Sementara lainnya, yakni PKL pasar pagi berjualan 1.097 pedagang. Namun, bagi para PKL memang tak memiliki hak bedak di dalam gedung, mereka akan ditempatkan pada area belakang gedung pasar tersebut. ”Kalau luas pasar ini sebesar 4,5 hektare. Untuk luas bangunan sebesar 3,36 hektare. Luas kios yang kami sediakan bervariasi di dalam gedung ada yang 4 meter persegi, 6 meter persegi hingga 12 meter persegi. Sementara para PKL akan kami beri bedak dengan luas masing­masing sebesar 3 meter persegi,” katanya.

Tak hanya itu saja, diskumdag juga bakal menyiapkan skema penataan baru. Ketika struktur itu selesai dibangun. Maka pihaknya akan mencari pihak mana yang dirasa bisa mengelola pasar senilai Rp 151 miliar itu. Apalagi konsep pasar wisata 24 jam semakin membuat pengelola harus bisa kreatif dan mampu menghadapi situasi apapun.

Baca Juga:  Hore! Pedagang Pasar Malang Bebas Retribusi 2 Bulan

”Memang untuk opsi siapa pengelolanya kita masih belum mengantongi terkait siapa­siapanya. Bisa jadi UPT, perumda atau bahkan BLUD. Tapi berkaca pada pengelolaan sebelumnya, sepertinya masih condong ke UPT,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono mengatakan, jika nanti pasar sayur juga akan mendapatkan rembesan keramaian dari pasar induk. Sebab rencananya, di bagian parkir belakang pasar sayur akan difungsikan sebagai area untuk penjual unggas hingga selep daging.

”Untuk memilah­milah dan menjaga kondisi pasar. Karena kita tahu yang namanya berjualan ayam hingga bebek dan unggas lain pasti bau dan kotor. Maka rencananya akan dibuatkan tempat khusus di belakang pasar sayur,” tandasnya. Dengan begitu, pihaknya berharap perekonomian di pasar sayur tak lesu seperti saat ini. (fif/lid)

Utamakan yang Punya SK PKL Disiapkan Tempat di Belakang

KOTA BATU – Tak mau timbul polemik, Pemkot Batu bakal mendata ulang jumlah pasti pedagang yang berhak menempati Pasar Induk Among Tani yang kini sedang dibangun. Dengan data yang jelas, diharapkan proses pemindahan pedagang dari pasar relokasi ke pasar baru bisa lancar. Karena bisa dikatakan proses pemindahan hingga pengembalian pedagang pada pasar induk sangat ribet. Mulai dari munculnya pro kontra pembangunan, hingga pendataan detail sebelum pemberangkatan menuju relokasi.

Saat ini, meskipun pembangunan sudah sukses dijalankan. Tapi dinas terkait tetap saja harus memastikan lagi jumlah total pedagang yang direlokasi. Disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu Eko Suhar tono bahwa proses tersebut dinamakan verifikasi faktual. Tujuannya untuk melakukan sinkronisasi data jumlah pedagang yang telah disepakati antara diskumdag dengan pedagang sebelum di relokasi. Sehingga, data yang sesuai tidak akan menimbulkan permasalahan ketika gedung baru ditempati nanti.

Baca Juga:  Hore! Pedagang Pasar Malang Bebas Retribusi 2 Bulan

”Datanya akan kami sinkronkan lagi dengan data saat pedagang direlokasi. Tujuan kami agar para pedagang yang punya SK itu haknya terpenuhi sesuai yang harus didapatkan,” jelas Eko. Rencananya, bedak­bedak yang berada di dalam pasar induk yang sedang direvitalisasi itu bakal menampung 2.209 pedagang. Sementara lainnya, yakni PKL pasar pagi berjualan 1.097 pedagang. Namun, bagi para PKL memang tak memiliki hak bedak di dalam gedung, mereka akan ditempatkan pada area belakang gedung pasar tersebut. ”Kalau luas pasar ini sebesar 4,5 hektare. Untuk luas bangunan sebesar 3,36 hektare. Luas kios yang kami sediakan bervariasi di dalam gedung ada yang 4 meter persegi, 6 meter persegi hingga 12 meter persegi. Sementara para PKL akan kami beri bedak dengan luas masing­masing sebesar 3 meter persegi,” katanya.

Tak hanya itu saja, diskumdag juga bakal menyiapkan skema penataan baru. Ketika struktur itu selesai dibangun. Maka pihaknya akan mencari pihak mana yang dirasa bisa mengelola pasar senilai Rp 151 miliar itu. Apalagi konsep pasar wisata 24 jam semakin membuat pengelola harus bisa kreatif dan mampu menghadapi situasi apapun.

Baca Juga:  Gandeng Akademisi, Bapenda Incar Hotel-Restoran untuk Tambah PAD

”Memang untuk opsi siapa pengelolanya kita masih belum mengantongi terkait siapa­siapanya. Bisa jadi UPT, perumda atau bahkan BLUD. Tapi berkaca pada pengelolaan sebelumnya, sepertinya masih condong ke UPT,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono mengatakan, jika nanti pasar sayur juga akan mendapatkan rembesan keramaian dari pasar induk. Sebab rencananya, di bagian parkir belakang pasar sayur akan difungsikan sebagai area untuk penjual unggas hingga selep daging.

”Untuk memilah­milah dan menjaga kondisi pasar. Karena kita tahu yang namanya berjualan ayam hingga bebek dan unggas lain pasti bau dan kotor. Maka rencananya akan dibuatkan tempat khusus di belakang pasar sayur,” tandasnya. Dengan begitu, pihaknya berharap perekonomian di pasar sayur tak lesu seperti saat ini. (fif/lid)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/