22.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

SD-SMPN Satu Atap Tunggu Bantuan Yayasan Internasional

BATU – Sementara itu, gerakan tanah yang terjadi di kawasan SD-SMP Satu Atap Gunungsari 4 yang membuat sedikit kerusakan bangunan sekolah. Hal ini pun  mengundang perhatian salah satu yayasan sosial. Saat ini mereka tengah berproses untuk merealisasikan kerja sama untuk memberikan bantuan.

 

Menurut Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Batu, Daud Andoko awalnya hal itu bermula dengan pertemuan salah satu anggota lembaga pengabdian masyarakat salah satu kampus di Kota Solo. “Mereka memberi tahu kalau ada yayasan yang ingin membangun sekolah alam di pinggiran,” katanya, Jumat (16/6). Kemudian, suatu saat mereka berkunjung ke Kota Batu.

 

Lalu, Dinas Pendidikan Kota Batu mengarahkan mereka ke sekolah tersebut. Mereka menjelaskan, sekolah itu bukan sekolah alam, sama seperti sekolah pada umumnya. “Kita jabarkan kondisinya, ketika hujan deras atau pun ketika menyirami tanaman, air akan muncul dari ubin-ubin kelas,” katanya.

Baca Juga:  Tiga Dimensi yang Wajib Dikuasai Influencer Muslimah, Catat!

 

Setelah itu yayasan sosial yang berpusat di Kanada itu setuju untuk melakukan bantuan. “Tapi tidak serta-merta langsung diberi, ada beberapa persyaratan yang memerlukan waktu,” ujarnya. Ia mengatakan, proses tersebut dari bulan Januari dan masih berlangsung hingga kini. “Secara personal sudah setuju, tinggal tanda tangan kontraknya ini,” ungkapnya.

 

Biaya yang diajukan berkisar Rp 500 juta. Uang tersebut rencananya untuk membuat dinding pembatas, tandon air, saluran drainase, serta kamar mandi siswa.

 

Air yang mengalir itu posisinya di belakang sekolah menuju sisi di sekolah. Dan itulah salah satu faktor yang memicu gerakan tanah. Rencananya di sepanjang belakang sekolah dengan panjang sekitar 60 meter di buat pengerasan.

Baca Juga:  Cold Storage Dilanjutkan, Dewan Bakal Menghadang

 

Hal itu dimaksudkan untuk menghalau air yang datang agar bergerak ke sisi kanan dan kiri sekolah. Setelah itu air diharapkan masuk ke drainase yang ada di sisi kanan dan kiri. “Karena di sisi kiri belum ada temboknya, maka kemudian diperlukan dinding pembatas,” ujarnya.

 

Sementara itu, pembuatan tandon air digunakan untuk menampung air bersih yang ada. Warga yang mempunyai lahan pun, merasa tidak ada apa-apa dengan hal itu. Ia berharap dengan adanya pembangunan tersebut dapat meminimalisir masalah yang ada selama ini. (iza/lid)

BATU – Sementara itu, gerakan tanah yang terjadi di kawasan SD-SMP Satu Atap Gunungsari 4 yang membuat sedikit kerusakan bangunan sekolah. Hal ini pun  mengundang perhatian salah satu yayasan sosial. Saat ini mereka tengah berproses untuk merealisasikan kerja sama untuk memberikan bantuan.

 

Menurut Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Batu, Daud Andoko awalnya hal itu bermula dengan pertemuan salah satu anggota lembaga pengabdian masyarakat salah satu kampus di Kota Solo. “Mereka memberi tahu kalau ada yayasan yang ingin membangun sekolah alam di pinggiran,” katanya, Jumat (16/6). Kemudian, suatu saat mereka berkunjung ke Kota Batu.

 

Lalu, Dinas Pendidikan Kota Batu mengarahkan mereka ke sekolah tersebut. Mereka menjelaskan, sekolah itu bukan sekolah alam, sama seperti sekolah pada umumnya. “Kita jabarkan kondisinya, ketika hujan deras atau pun ketika menyirami tanaman, air akan muncul dari ubin-ubin kelas,” katanya.

Baca Juga:  Perbaikan SDN di Brau Butuh Dana 500 Juta

 

Setelah itu yayasan sosial yang berpusat di Kanada itu setuju untuk melakukan bantuan. “Tapi tidak serta-merta langsung diberi, ada beberapa persyaratan yang memerlukan waktu,” ujarnya. Ia mengatakan, proses tersebut dari bulan Januari dan masih berlangsung hingga kini. “Secara personal sudah setuju, tinggal tanda tangan kontraknya ini,” ungkapnya.

 

Biaya yang diajukan berkisar Rp 500 juta. Uang tersebut rencananya untuk membuat dinding pembatas, tandon air, saluran drainase, serta kamar mandi siswa.

 

Air yang mengalir itu posisinya di belakang sekolah menuju sisi di sekolah. Dan itulah salah satu faktor yang memicu gerakan tanah. Rencananya di sepanjang belakang sekolah dengan panjang sekitar 60 meter di buat pengerasan.

Baca Juga:  Disparta Kota Batu Launching Batu Culture Festival

 

Hal itu dimaksudkan untuk menghalau air yang datang agar bergerak ke sisi kanan dan kiri sekolah. Setelah itu air diharapkan masuk ke drainase yang ada di sisi kanan dan kiri. “Karena di sisi kiri belum ada temboknya, maka kemudian diperlukan dinding pembatas,” ujarnya.

 

Sementara itu, pembuatan tandon air digunakan untuk menampung air bersih yang ada. Warga yang mempunyai lahan pun, merasa tidak ada apa-apa dengan hal itu. Ia berharap dengan adanya pembangunan tersebut dapat meminimalisir masalah yang ada selama ini. (iza/lid)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/