21.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

Tumpek Blek Warga di Kirab 1.000 Bantengan

KOTA BATU – Setelah vakum akibat pandemi Covid-19, kirab 1.000 bantengan kembali tersaji di Kota Batu, kemarin (7/8). Paguyuban Bantengan Nuswantara sebagai penyelenggara mengambil rute di sepanjang Jalan Gajah mada hingga Jalan Panglima Sudirman. ”(Kirab 1.000 banteng) ini juga untuk memperingati 14 tahun Paguyuban Bantengan Nuswantara,” ujar Dwi Yuniar, salah satu panitia.

Dalam kirab kemarin (7/8), ada 55 tim yang ambil bagian. Masing-masing tim berisi 20 sampai 30 orang. Mereka berasal dari Malang Raya dan sebagian dari luar kota. Seperti dari Mojokerto dan Jombang. ”Jika tahun-tahun sebelum pandemi itu kami selalu melakukan di dalam Stadion Gelora Brantas. Untuk kali ini kirabnya sengaja dilakukan di jalan raya,” tambah dia.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Malang, kirab bantengan dimulai pukul 09.00. Meskipun diguyur hujan, antusias penonton tetap tinggi. Mereka memenuhi seluruh rute kirab. Ponisah, salah satu warga yang menonton kirab itu mengaku rela datang sejak pukul 09.30. Itu dilakukan dia memang suka terhadap kesenian. ”Saya tumbuh di keluarga penyuka seni. Apalagi kakak saya adalah pemain jaranan, bantengan, dan sebagainya,” warga Kediri yang telah menetap di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu itu.

Baca Juga:  Batu Recycling Exhibition, Daur Ulang Sampah Jadi Cinderamata

Tumpek blek-nya penonton turut membawa suatu keberkahan tersendiri. Khusunya bagi pedagang kaki lima. Seperti disampaikan Budi Hari, penjual cilok dari Kelurahan Temas. ”Dulu sebelum pandemi di sini kan banyak karnaval dan acara-acara besar. Lha sekarang sudah hampir dua tahun ya baru sekarang ini ada event besar,” kata dia sembari melayani pembeli.

Budi mengaku sudah menyiapkan dagangannya sejak pukul 08.00. Tak sampai siang hari, dia mengaku sudah mendapat omzet Rp 100 ribu. Angka itu menurutnya sangat sulit didapat saat pandemi. Sebab dia selama ini hanya mengandalkan berjualan di sekolah-sekolah. ”Intinya dari para pedagang ini ya senang ada kegiatan-kegiatan seperti ini. Karena ini bisa menjadi alternatif pendapatan selain berjualan sehari-hari,” kata dia.

Baca Juga:  Yes, Pembangunan Gedung SMP Negeri 7 Sudah Dimulai

Hal serupa juga disampaikan Faridah, pedagang es asal Karangploso. Dia mengaku sudah menata barang dagangannya sejak pukul 07.00.
”Saya sampai di sini masih belum ada peserta bantengannya. Bahkan jalanan belum ditutup. Tapi sekitar jam 9 saat hujan sedikit reda, alhamdulillah mulai ramai (pembeli),” kata dia.

Sementara itu, Doni Fitrian, salah satu peserta kirab dari Mojokerto mengaku jika dirinya datang bersama 93 orang dari paguyubannya.
Sebelum ikut kirab, dia dan rekan-rekannya sudah berlatih sejak satu hingga dua bulan lalu. ”Kami latihan di padepokan sesuai jadwal. Karena banyak yang ikut, jadi latihannya ramai,” kata dia. Dia juga memastikan selama latihan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). (ifa/fif/by)

 

KOTA BATU – Setelah vakum akibat pandemi Covid-19, kirab 1.000 bantengan kembali tersaji di Kota Batu, kemarin (7/8). Paguyuban Bantengan Nuswantara sebagai penyelenggara mengambil rute di sepanjang Jalan Gajah mada hingga Jalan Panglima Sudirman. ”(Kirab 1.000 banteng) ini juga untuk memperingati 14 tahun Paguyuban Bantengan Nuswantara,” ujar Dwi Yuniar, salah satu panitia.

Dalam kirab kemarin (7/8), ada 55 tim yang ambil bagian. Masing-masing tim berisi 20 sampai 30 orang. Mereka berasal dari Malang Raya dan sebagian dari luar kota. Seperti dari Mojokerto dan Jombang. ”Jika tahun-tahun sebelum pandemi itu kami selalu melakukan di dalam Stadion Gelora Brantas. Untuk kali ini kirabnya sengaja dilakukan di jalan raya,” tambah dia.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Malang, kirab bantengan dimulai pukul 09.00. Meskipun diguyur hujan, antusias penonton tetap tinggi. Mereka memenuhi seluruh rute kirab. Ponisah, salah satu warga yang menonton kirab itu mengaku rela datang sejak pukul 09.30. Itu dilakukan dia memang suka terhadap kesenian. ”Saya tumbuh di keluarga penyuka seni. Apalagi kakak saya adalah pemain jaranan, bantengan, dan sebagainya,” warga Kediri yang telah menetap di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu itu.

Baca Juga:  Ramu Nasi Aking dan Daun Kering Jadi Kompos

Tumpek blek-nya penonton turut membawa suatu keberkahan tersendiri. Khusunya bagi pedagang kaki lima. Seperti disampaikan Budi Hari, penjual cilok dari Kelurahan Temas. ”Dulu sebelum pandemi di sini kan banyak karnaval dan acara-acara besar. Lha sekarang sudah hampir dua tahun ya baru sekarang ini ada event besar,” kata dia sembari melayani pembeli.

Budi mengaku sudah menyiapkan dagangannya sejak pukul 08.00. Tak sampai siang hari, dia mengaku sudah mendapat omzet Rp 100 ribu. Angka itu menurutnya sangat sulit didapat saat pandemi. Sebab dia selama ini hanya mengandalkan berjualan di sekolah-sekolah. ”Intinya dari para pedagang ini ya senang ada kegiatan-kegiatan seperti ini. Karena ini bisa menjadi alternatif pendapatan selain berjualan sehari-hari,” kata dia.

Baca Juga:  Diterpa Kasus, SMA SPI Go On

Hal serupa juga disampaikan Faridah, pedagang es asal Karangploso. Dia mengaku sudah menata barang dagangannya sejak pukul 07.00.
”Saya sampai di sini masih belum ada peserta bantengannya. Bahkan jalanan belum ditutup. Tapi sekitar jam 9 saat hujan sedikit reda, alhamdulillah mulai ramai (pembeli),” kata dia.

Sementara itu, Doni Fitrian, salah satu peserta kirab dari Mojokerto mengaku jika dirinya datang bersama 93 orang dari paguyubannya.
Sebelum ikut kirab, dia dan rekan-rekannya sudah berlatih sejak satu hingga dua bulan lalu. ”Kami latihan di padepokan sesuai jadwal. Karena banyak yang ikut, jadi latihannya ramai,” kata dia. Dia juga memastikan selama latihan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). (ifa/fif/by)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/