22.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

Cold Storage Sendangbiru Vakum Menahun, Unit Turen Over Capacity

MALANG KABUPATEN – Hasil tangkapan ikan dari perairan di Kabupaten Malang melimpah ruah. Namun hal itu belum dilengkapi fasilitas penyimpanan yang memadai. Colds storage di Kecamatan Turen hanya memiliki kapasitas penyimpanan 100 ton. Sementara Integrated Cold Storage (ICS) di Sendangbiru malah belum beroperasi, meski sudah diresmikan sejak 2018 lalu.

Hadi Sasmita, penanggung jawab cold storage Turen menuturkan, hasil produksi harian nelayan di Kabupaten Malang bisa cukup banyak, apalagi saat musim ikan. Banyak produk ikan unggulan yang disimpan di cold storage. Seperti ikan cakalang, tuna, marlin, dan tongkol. Sayangnya, kapasitas gudang pendingin di Jalan Abdul Mukti, Desa Tawangrejeni, Kecamatan Turen, itu terbatas.

“Kapasitas cold storage di sini bisa mencapai 100 ton. Kalau produksi harian rata-rata mencapai 4 ton. Ketika musim ikan yang biasanya berlangsung sejak Mei sampai Oktober bisa overkapasitas,” terangnya.

Dengan kondisi itu, pihaknya menilai peralatan yang ada di cold storage Turen masih kurang. Saat ini yang dibutuhkan adalah tambahan minimal satu air blast freezer dan ruang penyimpanan. Tujuannya agar kapasitas pendinginan dan ruang penyimpanan bisa lebih banyak.

”Mesin air blast freezer itu untuk mendinginkan ikan dengan suhu minus 40 derajat celcius. Sedangkan saat di penyimpanan memerlukan  suhu minus 25 sampai minus 30 derajat celcius,” terangnya.

Akibat terbatasnya kapasitas itu, pengusaha di bidang ikan terpaksa mencari jalan lain. Saat cold storage Turen penuh, mereka lari ke luar daerah. Seperti Jember atau Banyuwangi. Padahal jika cold storage di Kabupaten Malang ditambah, penyimpanan ikan itu tidak akan dibawa ke luar daerah.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Usaha Perikanan Dinas perikanan Kabupaten Malang mengatakan, cold storage Turen merupakan hasil kerja sama pihaknya dengan Koperasi Unit Desa (KUD) setempat sebagai pengelola.  ”Kita nggak mau bangunan itu mangkrak karena itu asset Pemkab, makanya kita perlu menemukan pengurus yang tepat untuk maintenance alat-alat di sana, agar bisa berjalan terus,” katanya.

Baca Juga:  Sopir Pikap Laka Maut Rombongan Ibu-Ibu Jadi Tersangka

Heni juga sudah mendengar keluh kesah dari pengurus tentang kebutuhan mesin pendingin baru. Dia menjelaskan, anggaran dari kabupaten belum ada. Namun pihaknya sudah meneruskan permohonan itu ke pusat.

Target Beroperasi Tahun Depan

Sementara itu, belum beroperasinya Integrated Cold Storage (ICS) di Pantai Sendangbiru juga dikeluhkan nelayan setempat. Mereka sangat membutuhkan gudang pendingin itu untuk menyimpan ikan dalam waktu yang lebih panjang.

Terlebih ketika musim ikan. Tangkapan nelayan bisa mencapai 300 ton per hari dan berlangsung selama seminggu berturut-turut. Dampaknya, ikan-ikan itu tidak bisa langsung terjual habis di tempat pelelangan. Sebagian terpaksa diolah di tempat pemandangan.

”Semua pelabuhan nelayan pasti membutuhkan cold storage. Hasil tangkapan yang belum terjual bisa dibekukan dan disimpan sementara. Sebelum kemudian dipasarkan kembali,” ujar Sekretaris Koperasi Unit Desa (KUD) Mina Jaya Budi Iswiyanto kemarin (15/6).

Untuk hari-hari biasa, total hasil tangkapan nelayan di Sendangbiru sekitar 20 ton. Jumlah sebesar itu memang belum terlalu membutuhkan cold storage. Semuanya bisa habis terjual sebagai ikan segar dengan harga yang terbilang cukup tinggi.

Namun harga ikan di pelelangan tidak bisa diprediksi. Tergantung hasil dan jumlah tangkapan. Kemarin (15/6), harga ikan termasuk tinggi. Misalnya ikan tuna dijual Rp 20.000 per kilogram, baik tuna besar maupun tuna kecil. ”Padahal sehari sebelumnya hanya Rp 15.000 per kilogram,” imbuhnya.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, produksi tangkapan ikan laut selalu mengalami peningkatan. Mulai dari 13,69 ribu ton pada 2020, 16,01 ribu ton pada 2021, dan 17,04 ribu ton pada 2022.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengatakan, sekitar 4.000 nelayan perikanan tangkap di Kabupaten Malang bahkan bisa menangkap lebih dari jumlah tersebut. ”Mereka sebenarnya bisa meningkatkan produktivitasnya. Namun, karena medan selatan cukup berbahaya, produktivitasnya di angka segitu,” ujarnya.

Karena itu, Pemkab Malang melalui Dinas Perikanan terus mendorong pemenuhan sarana dan prasarana para nelayan. Salah satunya melalui kerja sama dengan pihak Jepang untuk membangun pabrik pengolahan ikan.

Baca Juga:  Ini Kronologi Gudang PO Bus Bagong Terbakar

”Investor yang dari Jepang tersebut bergerak di bidang energi. Sehingga, mereka lebih cenderung mengembangkan investasi di bidang energi,” ucap Victor. Di antaranya investasi untuk Integrated Cold Storage (ICS) di Pelabuhan Sendangbiru hingga pemanfaatan solar panel di pelabuhan dan kapal nelayan.

Kabar itu dibenarkan Bupati Malang Sanusi. Menurutnya, kerja sama juga akan dilakukan dengan cara penambahan kapal-kapal modern untuk pengolahan ikan di laut. Bahkan Jepang akan membangun pabrik pengolahan  ikan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan tangkap. “Sekarang masih tahap pembicaraan, masih belum ditentukan waktu realisasinya,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap Budi Setyono mengatakan, operasional ICS perlu memperhatikan peta bisnis dari calon investor. Rencananya, ikan-ikan tangkapan akan langsung diekspor ke Taiwan menggunakan kapal. Sebab, akses jalan arah selatan tidak sesuai untuk truk kontainer.

Dia menjelaskan, ekspor ikan memerlukan proses yang cepat. ”Kalau penanganannya terlalu lama, komoditas ikan yang akan diekspor bisa rusak di perjalanan,” imbuhnya. Untuk itu, Budi mengharapkan kerja sama instansi lain, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kemen-PUPR) agar mempercepat proses perbaikan jalan bagian selatan.

Selain akses jalan, listrik juga menjadi salah satu kendala terhambatnya operasional ICS Sendangbiru. Sistem pendingin di ICS menggunakan amonia yang memiliki daya 240 kwh. Sementara saluran listrik di dalam ICS tidak bisa dipartisi.

”Di dalam ICS ada tiga ruangan. Yakni untuk pembekuan, penyimpanan, dan pengolahan. Ketika listrik di salah satu ruangan menyala, semuanya akan ikut menyala. Padahal tidak semua ruangan akan digunakan secara bersamaan,” kata dia.

Dengan pengaturan partisi, diharapkan, daya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Meski belum beroperasi, maintenance ICS juga rutin dilakukan. Salah satunya dengan memanaskan mesin setiap satu bulan sekali agar tidak rusak. (pri/yun/fat)

MALANG KABUPATEN – Hasil tangkapan ikan dari perairan di Kabupaten Malang melimpah ruah. Namun hal itu belum dilengkapi fasilitas penyimpanan yang memadai. Colds storage di Kecamatan Turen hanya memiliki kapasitas penyimpanan 100 ton. Sementara Integrated Cold Storage (ICS) di Sendangbiru malah belum beroperasi, meski sudah diresmikan sejak 2018 lalu.

Hadi Sasmita, penanggung jawab cold storage Turen menuturkan, hasil produksi harian nelayan di Kabupaten Malang bisa cukup banyak, apalagi saat musim ikan. Banyak produk ikan unggulan yang disimpan di cold storage. Seperti ikan cakalang, tuna, marlin, dan tongkol. Sayangnya, kapasitas gudang pendingin di Jalan Abdul Mukti, Desa Tawangrejeni, Kecamatan Turen, itu terbatas.

“Kapasitas cold storage di sini bisa mencapai 100 ton. Kalau produksi harian rata-rata mencapai 4 ton. Ketika musim ikan yang biasanya berlangsung sejak Mei sampai Oktober bisa overkapasitas,” terangnya.

Dengan kondisi itu, pihaknya menilai peralatan yang ada di cold storage Turen masih kurang. Saat ini yang dibutuhkan adalah tambahan minimal satu air blast freezer dan ruang penyimpanan. Tujuannya agar kapasitas pendinginan dan ruang penyimpanan bisa lebih banyak.

”Mesin air blast freezer itu untuk mendinginkan ikan dengan suhu minus 40 derajat celcius. Sedangkan saat di penyimpanan memerlukan  suhu minus 25 sampai minus 30 derajat celcius,” terangnya.

Akibat terbatasnya kapasitas itu, pengusaha di bidang ikan terpaksa mencari jalan lain. Saat cold storage Turen penuh, mereka lari ke luar daerah. Seperti Jember atau Banyuwangi. Padahal jika cold storage di Kabupaten Malang ditambah, penyimpanan ikan itu tidak akan dibawa ke luar daerah.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Usaha Perikanan Dinas perikanan Kabupaten Malang mengatakan, cold storage Turen merupakan hasil kerja sama pihaknya dengan Koperasi Unit Desa (KUD) setempat sebagai pengelola.  ”Kita nggak mau bangunan itu mangkrak karena itu asset Pemkab, makanya kita perlu menemukan pengurus yang tepat untuk maintenance alat-alat di sana, agar bisa berjalan terus,” katanya.

Baca Juga:  BMKG Usulkan Tambakrejo Jadi Desa Siaga Tsunami ke UNESCO

Heni juga sudah mendengar keluh kesah dari pengurus tentang kebutuhan mesin pendingin baru. Dia menjelaskan, anggaran dari kabupaten belum ada. Namun pihaknya sudah meneruskan permohonan itu ke pusat.

Target Beroperasi Tahun Depan

Sementara itu, belum beroperasinya Integrated Cold Storage (ICS) di Pantai Sendangbiru juga dikeluhkan nelayan setempat. Mereka sangat membutuhkan gudang pendingin itu untuk menyimpan ikan dalam waktu yang lebih panjang.

Terlebih ketika musim ikan. Tangkapan nelayan bisa mencapai 300 ton per hari dan berlangsung selama seminggu berturut-turut. Dampaknya, ikan-ikan itu tidak bisa langsung terjual habis di tempat pelelangan. Sebagian terpaksa diolah di tempat pemandangan.

”Semua pelabuhan nelayan pasti membutuhkan cold storage. Hasil tangkapan yang belum terjual bisa dibekukan dan disimpan sementara. Sebelum kemudian dipasarkan kembali,” ujar Sekretaris Koperasi Unit Desa (KUD) Mina Jaya Budi Iswiyanto kemarin (15/6).

Untuk hari-hari biasa, total hasil tangkapan nelayan di Sendangbiru sekitar 20 ton. Jumlah sebesar itu memang belum terlalu membutuhkan cold storage. Semuanya bisa habis terjual sebagai ikan segar dengan harga yang terbilang cukup tinggi.

Namun harga ikan di pelelangan tidak bisa diprediksi. Tergantung hasil dan jumlah tangkapan. Kemarin (15/6), harga ikan termasuk tinggi. Misalnya ikan tuna dijual Rp 20.000 per kilogram, baik tuna besar maupun tuna kecil. ”Padahal sehari sebelumnya hanya Rp 15.000 per kilogram,” imbuhnya.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, produksi tangkapan ikan laut selalu mengalami peningkatan. Mulai dari 13,69 ribu ton pada 2020, 16,01 ribu ton pada 2021, dan 17,04 ribu ton pada 2022.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengatakan, sekitar 4.000 nelayan perikanan tangkap di Kabupaten Malang bahkan bisa menangkap lebih dari jumlah tersebut. ”Mereka sebenarnya bisa meningkatkan produktivitasnya. Namun, karena medan selatan cukup berbahaya, produktivitasnya di angka segitu,” ujarnya.

Karena itu, Pemkab Malang melalui Dinas Perikanan terus mendorong pemenuhan sarana dan prasarana para nelayan. Salah satunya melalui kerja sama dengan pihak Jepang untuk membangun pabrik pengolahan ikan.

Baca Juga:  Perbaikan Lubang Jalan Veteran Mundur

”Investor yang dari Jepang tersebut bergerak di bidang energi. Sehingga, mereka lebih cenderung mengembangkan investasi di bidang energi,” ucap Victor. Di antaranya investasi untuk Integrated Cold Storage (ICS) di Pelabuhan Sendangbiru hingga pemanfaatan solar panel di pelabuhan dan kapal nelayan.

Kabar itu dibenarkan Bupati Malang Sanusi. Menurutnya, kerja sama juga akan dilakukan dengan cara penambahan kapal-kapal modern untuk pengolahan ikan di laut. Bahkan Jepang akan membangun pabrik pengolahan  ikan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan tangkap. “Sekarang masih tahap pembicaraan, masih belum ditentukan waktu realisasinya,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap Budi Setyono mengatakan, operasional ICS perlu memperhatikan peta bisnis dari calon investor. Rencananya, ikan-ikan tangkapan akan langsung diekspor ke Taiwan menggunakan kapal. Sebab, akses jalan arah selatan tidak sesuai untuk truk kontainer.

Dia menjelaskan, ekspor ikan memerlukan proses yang cepat. ”Kalau penanganannya terlalu lama, komoditas ikan yang akan diekspor bisa rusak di perjalanan,” imbuhnya. Untuk itu, Budi mengharapkan kerja sama instansi lain, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kemen-PUPR) agar mempercepat proses perbaikan jalan bagian selatan.

Selain akses jalan, listrik juga menjadi salah satu kendala terhambatnya operasional ICS Sendangbiru. Sistem pendingin di ICS menggunakan amonia yang memiliki daya 240 kwh. Sementara saluran listrik di dalam ICS tidak bisa dipartisi.

”Di dalam ICS ada tiga ruangan. Yakni untuk pembekuan, penyimpanan, dan pengolahan. Ketika listrik di salah satu ruangan menyala, semuanya akan ikut menyala. Padahal tidak semua ruangan akan digunakan secara bersamaan,” kata dia.

Dengan pengaturan partisi, diharapkan, daya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Meski belum beroperasi, maintenance ICS juga rutin dilakukan. Salah satunya dengan memanaskan mesin setiap satu bulan sekali agar tidak rusak. (pri/yun/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/