22.4 C
Malang
Sabtu, April 6, 2024

Anak Berhasil Lolos, Anton dan Devi Kehabisan Napas

KISAH TRAGIS PASUTRI YANG MENINGGAL DI TENGAH KERICUHAN STADION

Tak pernah terbayangkan, kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Sabtu malam (1/10) begitu banyak membawa korban. Yang lebih mengundang keprihatinan, beberapa korban meninggal merupakan keluarga yang datang ke stadion untuk mendukung kesebelasan kebanggaan mereka. Termasuk di antaranya, pasutri M. Yulianton dan Devi Ratna S.

SEMOGA HUSNUL KHOTIMA H: Wali Kota Malang Sutiaji takziyah ke kediaman almarhum M. Yulianton dan Devi Ratna S. kemarin pagi. Foto kanan, M. Yulianton dan Devi Ratna S. semasa hidup. (ADITYA NOVRIAN/RADAR MALANG)

TANGIS haru pecah di kediaman M. Yulianton, 40, dan Devi Ratna S., 30, di Jalan Bareng Raya 2G, RT 14/RW 8, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu pagi (2/10). Dua keranda tampak berjejer di ruang tamu. Beberapa tetangga terus berdatangan, mendoakan pasangan suami istri itu agar mendapat tempat terbaik di kehidupan berikutnya.

Ya, tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam itu membuat mereka kehilangan nyawa.

Kisah sedih tentang pasutriyang telah menjalin rumah tangga selama 11 tahun itu diceritakan Doni, kakak kandung Devi Ratna, kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin. Doni memang ikut menonton pertandingan itu dan berhasil menyelamatkan diri bersama putra Anton dan Devi.

Sepanjang 90 menit lebih, keluarga itu menonton pertandingan Arema FC kontra Persebaya di Tribun 14 atau Tribun Selatan. Setelah peluit panjang ditiup Agus Fauzan, wasit yang memimpin pertandingan, seisi stadion seolah tertunduk lesu. Kecemasan pun melanda Anton dan Devi yang ketika itu membawa putranya yang berusia 11 tahun. Khawatir kalau ada supporter yang marah dan memicu kericuhan.

Baca Juga:  Ramadan Berbagi ala BPJS Ketenagakerjaan Kepanjen

Kecemasan itu akhirnya terbukti. Sebagian penonton nekat masuk ke lapangan sebagai bentuk kekecewaan. Imbasnya pun mengerikan. Aparat keamanan memukul mundur penonton yang masuk lapangan dengan gas air mata. Beberapa tembakan gas air mata mengarah ke tribun yang ditempati Anton dan Devi.

Kepulan asap dari tembakan gas air mata di Tribun Selatan itu menjadi malapetaka. Mata penonton perih dan pandangan jadi terhalang. Napas pun terganggu lantaran aroma gas air mata yang menyengat dan terasa hingga paru-paru. Ditambah lagi, pasutri itu harus berdesakan dengan ribuan penonton lain yang berusaha menyelamatkan diri.

Anton dan Devi bergegas lari ke arah pintu keluar bersama anak semata wayangnya. Di sana, mereka masih berdesak-desakan dengan ribuan suporternSingo Edan yang juga antrekeluar stadion. Sesak tanpa celah. Untuk bernapas pun sulit.

Khawatir akan keselamatan anaknya, Devi berinisiatif menitipkan bocah yang bulan depan genap berusia 12 tahun itu ke petugas keamanan. Sementara dia bersama suaminya mencoba mencari jalan keluar.

Sang putra akhirnya bisa lolos lebih dulu dari kerumunan dengan dibantu Aremania yang menyadari bahwa anak dan perempuan harus didahulukan keluar. Doni yang ikut menonton pertandingan sempat meminta kepada Anton dan Devi segera turun dari tribun dan janjian bertemu di dekat pos pengamanan.

Namun nahas, kondisi di dekat pintu keluar juga sempat chaos. Lampu tiba-tiba padam dan pintu sempat dikunci. Udara pun semakin pengap. Pasutri itu tak bisa keluar dan kehabisan napas di tengah kerumunan. “Kemungkinan saudara saya ini juga jatuh dari tangga tribun. Mukanya sudah membiru. Pucat,” kata Doni.

Baca Juga:  Sengketa Tanah di Ngajum, Sujarwo Cabut Hak Kuasa Hukum

Ketika pintu berhasil didobrak, Doni yang sudah menggandeng keponakannya itu mencari Anton dan Devi. Beberapa menit kemudian, dia melihat sosok perempuan mengenakan celana jins seperti yang dikenakan adiknya dalam kondisi lemas. Doni segera menghampiri dan melihat Devi dan Anton dalam kondisi tak sadarkan diri.

Doni bergegas memanggil ambulans untuk membawa pasutri itu ke RS Teja Husada, Kabupaten Malang. Sayangnya, nyawa Anton dan Devi tak tertolong. Mereka dinyatakan meninggal dunia karena kehabisan napas. “Pertandingan kemarin (Sabtu) jadi tontonan pertama dan terakhir untuk Devi,” kenang Doni.

Sang putra yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu hanya bisa pasrah. Apalagi bulan depan dia tak bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama kedua orang tua. “Orang tuanya ingin sekali merayakan ulang tahun anaknya. Ditambah lagi, jika kemarin Arema FC menang bisa jadi kado terindah,” imbuh Doni.

Kemarin, jenazah Anton dan Devi dimakamkan satu liang lahat di TPU Mergan. Doni dan pihak keluarga hanya bisa mendoakan yang terbaik. Sambil berharap kejadian tragis Sabtu malam itu menjadi yang terakhir. Dia tak ingin sepak bola yang sejatinya jadi sebuah hiburan justru ternoda karena memakan nyawa para pendukung setia (*/fat)

KISAH TRAGIS PASUTRI YANG MENINGGAL DI TENGAH KERICUHAN STADION

Tak pernah terbayangkan, kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Sabtu malam (1/10) begitu banyak membawa korban. Yang lebih mengundang keprihatinan, beberapa korban meninggal merupakan keluarga yang datang ke stadion untuk mendukung kesebelasan kebanggaan mereka. Termasuk di antaranya, pasutri M. Yulianton dan Devi Ratna S.

SEMOGA HUSNUL KHOTIMA H: Wali Kota Malang Sutiaji takziyah ke kediaman almarhum M. Yulianton dan Devi Ratna S. kemarin pagi. Foto kanan, M. Yulianton dan Devi Ratna S. semasa hidup. (ADITYA NOVRIAN/RADAR MALANG)

TANGIS haru pecah di kediaman M. Yulianton, 40, dan Devi Ratna S., 30, di Jalan Bareng Raya 2G, RT 14/RW 8, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu pagi (2/10). Dua keranda tampak berjejer di ruang tamu. Beberapa tetangga terus berdatangan, mendoakan pasangan suami istri itu agar mendapat tempat terbaik di kehidupan berikutnya.

Ya, tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam itu membuat mereka kehilangan nyawa.

Kisah sedih tentang pasutriyang telah menjalin rumah tangga selama 11 tahun itu diceritakan Doni, kakak kandung Devi Ratna, kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin. Doni memang ikut menonton pertandingan itu dan berhasil menyelamatkan diri bersama putra Anton dan Devi.

Sepanjang 90 menit lebih, keluarga itu menonton pertandingan Arema FC kontra Persebaya di Tribun 14 atau Tribun Selatan. Setelah peluit panjang ditiup Agus Fauzan, wasit yang memimpin pertandingan, seisi stadion seolah tertunduk lesu. Kecemasan pun melanda Anton dan Devi yang ketika itu membawa putranya yang berusia 11 tahun. Khawatir kalau ada supporter yang marah dan memicu kericuhan.

Baca Juga:  Akhir April, Nahkoda Arema FC Ditarget Tiba

Kecemasan itu akhirnya terbukti. Sebagian penonton nekat masuk ke lapangan sebagai bentuk kekecewaan. Imbasnya pun mengerikan. Aparat keamanan memukul mundur penonton yang masuk lapangan dengan gas air mata. Beberapa tembakan gas air mata mengarah ke tribun yang ditempati Anton dan Devi.

Kepulan asap dari tembakan gas air mata di Tribun Selatan itu menjadi malapetaka. Mata penonton perih dan pandangan jadi terhalang. Napas pun terganggu lantaran aroma gas air mata yang menyengat dan terasa hingga paru-paru. Ditambah lagi, pasutri itu harus berdesakan dengan ribuan penonton lain yang berusaha menyelamatkan diri.

Anton dan Devi bergegas lari ke arah pintu keluar bersama anak semata wayangnya. Di sana, mereka masih berdesak-desakan dengan ribuan suporternSingo Edan yang juga antrekeluar stadion. Sesak tanpa celah. Untuk bernapas pun sulit.

Khawatir akan keselamatan anaknya, Devi berinisiatif menitipkan bocah yang bulan depan genap berusia 12 tahun itu ke petugas keamanan. Sementara dia bersama suaminya mencoba mencari jalan keluar.

Sang putra akhirnya bisa lolos lebih dulu dari kerumunan dengan dibantu Aremania yang menyadari bahwa anak dan perempuan harus didahulukan keluar. Doni yang ikut menonton pertandingan sempat meminta kepada Anton dan Devi segera turun dari tribun dan janjian bertemu di dekat pos pengamanan.

Namun nahas, kondisi di dekat pintu keluar juga sempat chaos. Lampu tiba-tiba padam dan pintu sempat dikunci. Udara pun semakin pengap. Pasutri itu tak bisa keluar dan kehabisan napas di tengah kerumunan. “Kemungkinan saudara saya ini juga jatuh dari tangga tribun. Mukanya sudah membiru. Pucat,” kata Doni.

Baca Juga:  Ramadan Berbagi ala BPJS Ketenagakerjaan Kepanjen

Ketika pintu berhasil didobrak, Doni yang sudah menggandeng keponakannya itu mencari Anton dan Devi. Beberapa menit kemudian, dia melihat sosok perempuan mengenakan celana jins seperti yang dikenakan adiknya dalam kondisi lemas. Doni segera menghampiri dan melihat Devi dan Anton dalam kondisi tak sadarkan diri.

Doni bergegas memanggil ambulans untuk membawa pasutri itu ke RS Teja Husada, Kabupaten Malang. Sayangnya, nyawa Anton dan Devi tak tertolong. Mereka dinyatakan meninggal dunia karena kehabisan napas. “Pertandingan kemarin (Sabtu) jadi tontonan pertama dan terakhir untuk Devi,” kenang Doni.

Sang putra yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu hanya bisa pasrah. Apalagi bulan depan dia tak bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama kedua orang tua. “Orang tuanya ingin sekali merayakan ulang tahun anaknya. Ditambah lagi, jika kemarin Arema FC menang bisa jadi kado terindah,” imbuh Doni.

Kemarin, jenazah Anton dan Devi dimakamkan satu liang lahat di TPU Mergan. Doni dan pihak keluarga hanya bisa mendoakan yang terbaik. Sambil berharap kejadian tragis Sabtu malam itu menjadi yang terakhir. Dia tak ingin sepak bola yang sejatinya jadi sebuah hiburan justru ternoda karena memakan nyawa para pendukung setia (*/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/