21.7 C
Malang
Sabtu, Februari 17, 2024

Rp 289 Miliar untuk Perbaikan Jalan

MALANG RAYA – Kerusakan jalan selalu terjadi setiap tahun. Pemerintah daerah pun harus mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk melakukan perbaikan.

Khusus tahun ini, nilainya mencapai 289 miliar. Gabungan dari dana perbaikan dan perawatan dari Pemkot Malang, Pemkab Malang, serta Pemkot Batu. Di Kota Malang, proses perbaikan sudah mulai dilakukan pada pekan keempat Januari 2022. Dana perawatan yang disiapkan mencapai Rp 110,1 miliar. Di luar itu, Pemkot Malang masih menganggarkan dana sebesar Rp 16,9 miliar untuk pembangunan jalan baru alias pengaspalan jalan tanah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto mengatakan, setidaknya ada 67 titik jalan rusak yang akan diperbaiki.

Lokasinya menyebar di lima kecamatan. Namun yang terbanyak berada di Kecamatan Kedungkandang. Salah satunya di sepanjang Jalan Ki Ageng Gribig. Dandung mengakui jalan tersebut sangat rawan rusak. Pasalnya, Jalan Ki Ageng Gribig berada di dekat exit tol Madyopuro. Jalan tersebut kerap dilewati kendaraan-kendaraan berat. ”Kendaraan berat dari atau menuju Kota Malang atau Kabupaten Malang sering keluar masuk melalui exit tol Madyopuro,” ujarnya. Selain itu, Jalan Ki Ageng Gribig selalu tergenang air akibat curah hujan yang tinggi. Kondisi itu tidak lepas dari kondisi drainase di Kota Malang yang masih perlu penataan. Padahal model perkerasan lunak yang digunakan pada jalan di Kota Malang tidak boleh terendam air terlalu lama.

Selain Jalan Ki Ageng Gribig, Jalan Veteran juga dinilai rawan rusak. Karena itulah, prioritas perbaikan akan dilakukan di dua jalan tersebut. ”Setiap hari kami melakukan survei ke jalanan di seluruh kota Malang. Data jumlah titik jalan yang mengalami kerusakan bisa segera diperbaiki,” imbuhnya. Dandung bahkan mengatakan bahwa setiap malam dilakukan penambalan lubang jalan secara bergantian. Jika ada pengaduan terkait jalan berlubang, petugas lapangan akan segera melakukan penindakan. Syaratnya, kerusakan yang dilaporkan tergolong ringan atau lubang-lubang yang kecil saja. Selain perbaikan jalan, Pemkot Malang juga berencana melakukan pengaspalan jalan tanah. Setidaknya ada lima titik ruas jalan yang akan dilakukan pembangunan seperti itu.

Di antaranya Jalan Joyosuko Agung, Jalan Setapak Kelurahan Karangbesuki hingga Jalan Gunung Agung (Kelurahan Pisang Candi), Jalan Tembus Lesanpuro hingga Jalan Baran Tempuran (Kelurahan Cemorokandang), Jalan Tembus Baran Tempuran hingga Jalan Slamet Temboro (Kelurahan Cemorokandang), dan Jalan Satsuit Tubun. ”Rata-rata panjang jalan itu antara 500 meter sampai 1 kilometer. Kalau lebarnya variatif,” imbuhnya. Sebelum diaspal, jalan itu akan dicor terlebih dulu. Sebab struktur tanah di lima titik tersebut cenderung tidak stabil.

Baca Juga:  Startup Dominasi Pengguna Coworking Space Gajayana

Setelah satu tahun atau dua tahun baru dilakukan pengaspalan. Di Kabupaten Start Pertengahan Tahun Sementara itu, anggaran pengaspalan jalan di Kabupaten Malang terbilang paling besar, yakni senilai Rp 130 miliar. Itu adalah separo dari total anggaran khusus infrastruktur yang mencapai Rp 250 miliar. Sasaran pengaspalan adalah jalan yang rusak berat dan sedang. Total panjang jalan yang akan diperbaiki sekitar 480 kilometer. Namun, perbaikan jalan yang membutuhkan dana besar akan dilakukan setelah proses lelang tuntas.

Diprediksi terealisasi mulai pertengahan tahun. Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Kabupaten Malang Suwignyo menjelaskan, dana sebesar itu sebenarnya menurun jika dibanding tahun lalu. Sebab, tahun ini Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak lagi ikut Bina Marga. ”Tahun 2022, DAK yang ikut anggaran kita Rp 60 miliar. Tahun ini tak ada lagi,” jelas Suwignyo. Menurutnya, sifat pengaspalan jalan terbagi menjadi dua. Yakni pemeliharaan dan peningkatan atau rehabilitasi. Pemeliharaan adalah bentuk pengaspalan jalan yang hanya menambal lubang kecil.

Biasanya anggaran pemeliharaan ini sekitar Rp 200 juta. Sementara untuk peningkatan atau rehabilitasi merupakan pengaspalan total. Masyarakat biasanya menyebut dengan istilah hotmix. Pemkab Malang memprioritaskan perbaikan jalan yang rusak berat dan sedang. Lokasinya tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Malang. Namun yang paling banyak berada di Malang selatan. “Kami fokus pengaspalan di akses pantai dan sirip Jalur Lintas Selatan.

Jalan di tapal batas lintas daerah juga jadi prioritas. Karena, jalan perbatasan kurang layak dibandingkan daerah tetangga,” tambahnya. Usia jalan di Kabupaten Malang juga dinilai lebih pendek dari hitungan normal. Standarnya, umur rencana normal jalan baru setelah diaspal adalah 20 tahun. Sedangkan umur rencana jalan beton adalah 40 tahun. Tetapi, tonase jalan Kabupaten Malang kerap overload. “Setiap hari jalanan Kabupaten Malang dilewati truk-truk besar. Terutama di wilayah Malang selatan.

Sehingga, standar umur rencana jalan tidak bisa buat patokan,” ujar Awangga Wisnuwardhana, pemilik CV Atta selaku kontraktor perbaikan jalan. Dia menjelaskan, truk dengan tonase berat sangat cepat merusak jalan di Kabupaten Malang. Maka, bukan tak mungkin jalan yang baru diaspal hanya butuh waktu tahunan untuk rusak lagi. Menurutnya, persoalan ini sudah klasik di Kabupaten Malang. Sehingga, semua rekanan harus memperhitungkan kekuatan jalan bila tiap hari digempur kendaraan berat. Problem klasik lainnya adalah masalah drainase.

Baca Juga:  BRI Sabet Dua Penghargaan Internasional dari The Asian Bankers

Di Kabupaten Malang banyak proyek pengaspalan yang tidak dibarengi dengan pembuatan drainase. ”Di beberapa titik jalan sudah bagus. Namun, saluran drainase belum ada. Saat hujan, air tidak masuk saluran dan menggenangi aspal. Sebab posisi jalan lebih rendah daripada bahu jalan,” tuturnya. Idealnya, pembangunan jalan harus dibarengi dengan pembangunan drainase. Supaya umur jalan bisa lebih awet dan sesuai perencanaan. PR Kerusakan Jalan Provinsi Problem berbeda terjadi di wilayah Kota Batu. Saat ini, kebanyakan jalan yang rusak di bawah kewenangan provinsi. Sehingga Pemkot Batu tidak berwenang melakukan perbaikan.

Sementara jalan-jalan berstatus milik Pemkot Batu sudah diperbaiki akhir tahun lalu. Kerusakan jalan terbanyak berada di Jalan Ir Soekarno dan Jalan Sultan Agung. Problem itu juga sudah menjadi perhatian Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai. Dalam sepekan kepemimpinannya, Aries melakukan inspeksi di dua ruas jalur provinsi itu. ”Untuk keluhan masyarakat terkait kerusakan jalan provinsi akan kami sampaikan kepada Kepala Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur,” ujarnya.

Di luar itu, Pemkot Batu juga tetap menyiapkan anggaran perbaikan jalan. Tahun ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu mendapat alokasi dana sebesar Rp 32 miliar untuk infrastruktur jalan. Dana itu digunakan untuk meng-cover semua pemeliharaan atau perbaikan jalan, peningkatan, dan rencana pembangunan jalan tembus di 2023.

”Khusus untuk pemeliharaan rutin, plot anggaran sebesar Rp 350 juta,” terang Kabid Bina Marga DPUPR Kota Batu Eko Setiawan. Anggaran untuk pemeliharaan memang tidak terlalu besar, karena Pemkot Batu sudah melakukan beberapa perbaikan jelang tutup tahun pada 2022 lalu. Total ada sembilan ruas jalan yang diperbaiki. Di antaranya wilayah Klemuk, Simpang Empat Arhanud, Jalan Agus Salim, M. Sahar, Sultan Agung, Suropati, Jalibar, Tlekung, dan Martorejo. ”Tapi kami berharap ada tambahan anggaran perbaikan jalan di PAK nanti. Untuk mewujudkan keinginan Pj menjadikan Kota Batu nihil jalan berlubang,” imbuh Eko. (dre/fin/adk/fat)

MALANG RAYA – Kerusakan jalan selalu terjadi setiap tahun. Pemerintah daerah pun harus mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk melakukan perbaikan.

Khusus tahun ini, nilainya mencapai 289 miliar. Gabungan dari dana perbaikan dan perawatan dari Pemkot Malang, Pemkab Malang, serta Pemkot Batu. Di Kota Malang, proses perbaikan sudah mulai dilakukan pada pekan keempat Januari 2022. Dana perawatan yang disiapkan mencapai Rp 110,1 miliar. Di luar itu, Pemkot Malang masih menganggarkan dana sebesar Rp 16,9 miliar untuk pembangunan jalan baru alias pengaspalan jalan tanah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto mengatakan, setidaknya ada 67 titik jalan rusak yang akan diperbaiki.

Lokasinya menyebar di lima kecamatan. Namun yang terbanyak berada di Kecamatan Kedungkandang. Salah satunya di sepanjang Jalan Ki Ageng Gribig. Dandung mengakui jalan tersebut sangat rawan rusak. Pasalnya, Jalan Ki Ageng Gribig berada di dekat exit tol Madyopuro. Jalan tersebut kerap dilewati kendaraan-kendaraan berat. ”Kendaraan berat dari atau menuju Kota Malang atau Kabupaten Malang sering keluar masuk melalui exit tol Madyopuro,” ujarnya. Selain itu, Jalan Ki Ageng Gribig selalu tergenang air akibat curah hujan yang tinggi. Kondisi itu tidak lepas dari kondisi drainase di Kota Malang yang masih perlu penataan. Padahal model perkerasan lunak yang digunakan pada jalan di Kota Malang tidak boleh terendam air terlalu lama.

Selain Jalan Ki Ageng Gribig, Jalan Veteran juga dinilai rawan rusak. Karena itulah, prioritas perbaikan akan dilakukan di dua jalan tersebut. ”Setiap hari kami melakukan survei ke jalanan di seluruh kota Malang. Data jumlah titik jalan yang mengalami kerusakan bisa segera diperbaiki,” imbuhnya. Dandung bahkan mengatakan bahwa setiap malam dilakukan penambalan lubang jalan secara bergantian. Jika ada pengaduan terkait jalan berlubang, petugas lapangan akan segera melakukan penindakan. Syaratnya, kerusakan yang dilaporkan tergolong ringan atau lubang-lubang yang kecil saja. Selain perbaikan jalan, Pemkot Malang juga berencana melakukan pengaspalan jalan tanah. Setidaknya ada lima titik ruas jalan yang akan dilakukan pembangunan seperti itu.

Di antaranya Jalan Joyosuko Agung, Jalan Setapak Kelurahan Karangbesuki hingga Jalan Gunung Agung (Kelurahan Pisang Candi), Jalan Tembus Lesanpuro hingga Jalan Baran Tempuran (Kelurahan Cemorokandang), Jalan Tembus Baran Tempuran hingga Jalan Slamet Temboro (Kelurahan Cemorokandang), dan Jalan Satsuit Tubun. ”Rata-rata panjang jalan itu antara 500 meter sampai 1 kilometer. Kalau lebarnya variatif,” imbuhnya. Sebelum diaspal, jalan itu akan dicor terlebih dulu. Sebab struktur tanah di lima titik tersebut cenderung tidak stabil.

Baca Juga:  Pengunjung Susut, Omzet Waduk Dempok, Malang Turun 50 Persen

Setelah satu tahun atau dua tahun baru dilakukan pengaspalan. Di Kabupaten Start Pertengahan Tahun Sementara itu, anggaran pengaspalan jalan di Kabupaten Malang terbilang paling besar, yakni senilai Rp 130 miliar. Itu adalah separo dari total anggaran khusus infrastruktur yang mencapai Rp 250 miliar. Sasaran pengaspalan adalah jalan yang rusak berat dan sedang. Total panjang jalan yang akan diperbaiki sekitar 480 kilometer. Namun, perbaikan jalan yang membutuhkan dana besar akan dilakukan setelah proses lelang tuntas.

Diprediksi terealisasi mulai pertengahan tahun. Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Kabupaten Malang Suwignyo menjelaskan, dana sebesar itu sebenarnya menurun jika dibanding tahun lalu. Sebab, tahun ini Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak lagi ikut Bina Marga. ”Tahun 2022, DAK yang ikut anggaran kita Rp 60 miliar. Tahun ini tak ada lagi,” jelas Suwignyo. Menurutnya, sifat pengaspalan jalan terbagi menjadi dua. Yakni pemeliharaan dan peningkatan atau rehabilitasi. Pemeliharaan adalah bentuk pengaspalan jalan yang hanya menambal lubang kecil.

Biasanya anggaran pemeliharaan ini sekitar Rp 200 juta. Sementara untuk peningkatan atau rehabilitasi merupakan pengaspalan total. Masyarakat biasanya menyebut dengan istilah hotmix. Pemkab Malang memprioritaskan perbaikan jalan yang rusak berat dan sedang. Lokasinya tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Malang. Namun yang paling banyak berada di Malang selatan. “Kami fokus pengaspalan di akses pantai dan sirip Jalur Lintas Selatan.

Jalan di tapal batas lintas daerah juga jadi prioritas. Karena, jalan perbatasan kurang layak dibandingkan daerah tetangga,” tambahnya. Usia jalan di Kabupaten Malang juga dinilai lebih pendek dari hitungan normal. Standarnya, umur rencana normal jalan baru setelah diaspal adalah 20 tahun. Sedangkan umur rencana jalan beton adalah 40 tahun. Tetapi, tonase jalan Kabupaten Malang kerap overload. “Setiap hari jalanan Kabupaten Malang dilewati truk-truk besar. Terutama di wilayah Malang selatan.

Sehingga, standar umur rencana jalan tidak bisa buat patokan,” ujar Awangga Wisnuwardhana, pemilik CV Atta selaku kontraktor perbaikan jalan. Dia menjelaskan, truk dengan tonase berat sangat cepat merusak jalan di Kabupaten Malang. Maka, bukan tak mungkin jalan yang baru diaspal hanya butuh waktu tahunan untuk rusak lagi. Menurutnya, persoalan ini sudah klasik di Kabupaten Malang. Sehingga, semua rekanan harus memperhitungkan kekuatan jalan bila tiap hari digempur kendaraan berat. Problem klasik lainnya adalah masalah drainase.

Baca Juga:  Nekat Sebar Foto Syur Mantan Pacar, Ancaman 6 Tahun Penjara Menanti

Di Kabupaten Malang banyak proyek pengaspalan yang tidak dibarengi dengan pembuatan drainase. ”Di beberapa titik jalan sudah bagus. Namun, saluran drainase belum ada. Saat hujan, air tidak masuk saluran dan menggenangi aspal. Sebab posisi jalan lebih rendah daripada bahu jalan,” tuturnya. Idealnya, pembangunan jalan harus dibarengi dengan pembangunan drainase. Supaya umur jalan bisa lebih awet dan sesuai perencanaan. PR Kerusakan Jalan Provinsi Problem berbeda terjadi di wilayah Kota Batu. Saat ini, kebanyakan jalan yang rusak di bawah kewenangan provinsi. Sehingga Pemkot Batu tidak berwenang melakukan perbaikan.

Sementara jalan-jalan berstatus milik Pemkot Batu sudah diperbaiki akhir tahun lalu. Kerusakan jalan terbanyak berada di Jalan Ir Soekarno dan Jalan Sultan Agung. Problem itu juga sudah menjadi perhatian Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai. Dalam sepekan kepemimpinannya, Aries melakukan inspeksi di dua ruas jalur provinsi itu. ”Untuk keluhan masyarakat terkait kerusakan jalan provinsi akan kami sampaikan kepada Kepala Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur,” ujarnya.

Di luar itu, Pemkot Batu juga tetap menyiapkan anggaran perbaikan jalan. Tahun ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu mendapat alokasi dana sebesar Rp 32 miliar untuk infrastruktur jalan. Dana itu digunakan untuk meng-cover semua pemeliharaan atau perbaikan jalan, peningkatan, dan rencana pembangunan jalan tembus di 2023.

”Khusus untuk pemeliharaan rutin, plot anggaran sebesar Rp 350 juta,” terang Kabid Bina Marga DPUPR Kota Batu Eko Setiawan. Anggaran untuk pemeliharaan memang tidak terlalu besar, karena Pemkot Batu sudah melakukan beberapa perbaikan jelang tutup tahun pada 2022 lalu. Total ada sembilan ruas jalan yang diperbaiki. Di antaranya wilayah Klemuk, Simpang Empat Arhanud, Jalan Agus Salim, M. Sahar, Sultan Agung, Suropati, Jalibar, Tlekung, dan Martorejo. ”Tapi kami berharap ada tambahan anggaran perbaikan jalan di PAK nanti. Untuk mewujudkan keinginan Pj menjadikan Kota Batu nihil jalan berlubang,” imbuh Eko. (dre/fin/adk/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/