25.4 C
Malang
Jumat, Februari 9, 2024

Hujan di Puncak Kemarau, BMKG: Waspadai Anomali Cuaca

MALANG KOTA – Di sejumlah wilayah Malang Raya dalam beberapa hari terakhir, hujan muncul saat memasuki puncak musim kemarau. Bahkan, Stasiun Klimatologi BMKG Malang memprediksi hujan masih akan turun dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter hingga bulan Oktober 2020.

”Meski ada hujan di bulan kemarau, bukan berarti Malang Raya memasuki bulan hujan,” tegas Prakirawan Stasiun Klimatologi Malang BMKG Malang Retno Wulandari, kemarin.

Menurut Retno, turunnya hujan di musim kemarau sebagai anomali. Dari data BMKG sendiri, bulan April lalu musim kemarau sudah memasuki wilayah Malang Raya.

Dari data BMKG sendiri, Retno melanjutkan, bulan April lalu musim kemarau sudah memasuki wilayah Malang Raya.

”Kondisi cuaca hujan akhir-akhir ini termasuk anomali cuaca atau tak sesuai kebiasaan. Pasalnya, Agustus itu memasuki periode puncak kemarau,” tuturnya.

Retno menjelaskan, masyarakat tetap harus mewaspadai munculnya anomali cuaca yang terjadi saat ini. Karena kondisi tersebut tak hanya terlihat dari turunnya hujan saja.

Baca Juga:  Dekat dengan Makhrus Sholeh, Kembangkan Bisnis Bermodal Kejujuran

Kondisi di luar kebiasaan, kata Retno, juga ditandai munculnya peristiwa alam cakupan lokal. Seperti angin puting beliung yang terjadi belum lama ini.

”Peristiwa alam seperti angin kencang atau puting beliung ini sebenarnya terjadi di peralihan dari musim kemarau ke musim hujan,” kata Retno.

Dia mengatakan, angin puting beliung susah diprediksi. Karena, tidak semua awan kumulonimbus menyebabkan puting beliung atau angin kencang, Retno menilai angin kencang dan puting beliung tak biasa terjadi di bulan Agustus. ”Karena kejadian pada di musim kemarau ini jarang terjadi, sehingga kita namakan anomali cuaca,” tutur Retno.

Menurut dia, kondisi anomali ini sangat mungkin akan terjadi hingga mendekati datangnya musim hujan.

Sementara fenomena suhu dingin yang menerpa Malang Raya karena fenomena bediding, puncaknya akan berakhir di bulan Agustus ini. Hal itu bertepatan dengan posisi wilayah selatan ekuator sedang menjauh dari garis edar matahari. Saat itu pula tekanan udara di belahan bumi selatan (BBS) lebih tinggi ketimbang di belahan bumi utara (BBU).

Baca Juga:  Sebelum Beraksi, Panitia Kurban Tasikmadu Kota Malang Tes Swab Dulu

Hal itu pula yang menyebabkan sirkulasi angin tertiup dari wilayah selatan yakni benua Australia menuju ke wilayah utara, yakni benua Asia. Inilah yang menyebabkan suhu dingin atau fenomena bediding melanda seluruh wilayah Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang.

”Seiring Australia sedang musim dingin, maka aliran udara yang melewati wilayah kita bersifat kering dan dingin, hal ini dikenal dengan monsun timuran,” tuturnya.

Monsun Timuran merupakan indikator musim kemarau bagi wilayah di Indonesia yang berimplikasi pada turunnya suhu di Malang Raya saat musim kemarau.

Pewarta: Sandra Desi C

MALANG KOTA – Di sejumlah wilayah Malang Raya dalam beberapa hari terakhir, hujan muncul saat memasuki puncak musim kemarau. Bahkan, Stasiun Klimatologi BMKG Malang memprediksi hujan masih akan turun dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter hingga bulan Oktober 2020.

”Meski ada hujan di bulan kemarau, bukan berarti Malang Raya memasuki bulan hujan,” tegas Prakirawan Stasiun Klimatologi Malang BMKG Malang Retno Wulandari, kemarin.

Menurut Retno, turunnya hujan di musim kemarau sebagai anomali. Dari data BMKG sendiri, bulan April lalu musim kemarau sudah memasuki wilayah Malang Raya.

Dari data BMKG sendiri, Retno melanjutkan, bulan April lalu musim kemarau sudah memasuki wilayah Malang Raya.

”Kondisi cuaca hujan akhir-akhir ini termasuk anomali cuaca atau tak sesuai kebiasaan. Pasalnya, Agustus itu memasuki periode puncak kemarau,” tuturnya.

Retno menjelaskan, masyarakat tetap harus mewaspadai munculnya anomali cuaca yang terjadi saat ini. Karena kondisi tersebut tak hanya terlihat dari turunnya hujan saja.

Baca Juga:  UMK Naik, Gaji Guru Masih Tetap

Kondisi di luar kebiasaan, kata Retno, juga ditandai munculnya peristiwa alam cakupan lokal. Seperti angin puting beliung yang terjadi belum lama ini.

”Peristiwa alam seperti angin kencang atau puting beliung ini sebenarnya terjadi di peralihan dari musim kemarau ke musim hujan,” kata Retno.

Dia mengatakan, angin puting beliung susah diprediksi. Karena, tidak semua awan kumulonimbus menyebabkan puting beliung atau angin kencang, Retno menilai angin kencang dan puting beliung tak biasa terjadi di bulan Agustus. ”Karena kejadian pada di musim kemarau ini jarang terjadi, sehingga kita namakan anomali cuaca,” tutur Retno.

Menurut dia, kondisi anomali ini sangat mungkin akan terjadi hingga mendekati datangnya musim hujan.

Sementara fenomena suhu dingin yang menerpa Malang Raya karena fenomena bediding, puncaknya akan berakhir di bulan Agustus ini. Hal itu bertepatan dengan posisi wilayah selatan ekuator sedang menjauh dari garis edar matahari. Saat itu pula tekanan udara di belahan bumi selatan (BBS) lebih tinggi ketimbang di belahan bumi utara (BBU).

Baca Juga:  Dewan: Kekerasan Anak, Kurangnya Penerapan Pendidikan Karakter

Hal itu pula yang menyebabkan sirkulasi angin tertiup dari wilayah selatan yakni benua Australia menuju ke wilayah utara, yakni benua Asia. Inilah yang menyebabkan suhu dingin atau fenomena bediding melanda seluruh wilayah Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang.

”Seiring Australia sedang musim dingin, maka aliran udara yang melewati wilayah kita bersifat kering dan dingin, hal ini dikenal dengan monsun timuran,” tuturnya.

Monsun Timuran merupakan indikator musim kemarau bagi wilayah di Indonesia yang berimplikasi pada turunnya suhu di Malang Raya saat musim kemarau.

Pewarta: Sandra Desi C

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/