26.9 C
Malang
Sabtu, April 13, 2024

Perkumpulan Ang Hien Hoo,Bukti Menyatunya Tionghoa Malang dalam Budaya Jawa

LIPUTAN KHUSUS IMLEK 2.573 

BUKU album foto berukuran sekitar 30 x 30 sentimeter itu masih tersimpan rapi di salah satu rumah di Jalan Candi Sewu nomor 4A, Kota Malang. Di dalamnya, ada banyak dokumentasi pertunjukan dari Ang Hien Hoo, perkumpulan wayang orang khas Tionghoa. Seperti dokumentasi ketika mereka tampil di festival Solo, tahun 1950-an.

Perkumpulan wayang orang itu sudah berdiri di Kota Malang sejak tahun 1955. Ialah Tangkar alias Liem Ting Tjwan yang mencetuskannya. Shirley Kristiani Widjihandayani, pemilik buku album foto yang ditemui koran ini kemarin (31/1), adalah anak dari Hardjoadiwinoto atau Tjhwa Hoo Liong.

Hardjoadiwinoto adalah salah satu rekan dari Liem Ting Tjwan. Dari obrolan keduanya bersama rekan lainnya, yakni Wat Ping, akhirnya tercetus ide untuk mendirikan perkumpulan wayang orang. Shirley Kristiani yang punya nama Tionghoa Tjhwa Hiang Nio, menjadi salah satu pelaku wayang orang yang masih tersisa.

PELAKU SEJARAH:Shirley Kristiani muda memperagakan tokoh Arjuno Gandrung di salah satu pertunjukan. (repro/radar malang)

Ingatan perempuan berusia 78 tahun itu masih cukup segar. Meskipun terbata-bata karena sakit yang ia derita, Shirley tetap lancar menceritakan sejarah berdirinya Ang Hien Hoo. ”Tujuan mendirikan perkumpulan ini karena ingin ikut melestarikan budaya Jawa,” terangnya.

Dari sejumlah literasi yang ada, Ang Hien Hoo awalnya merupakan perkumpulan yang berdiri pada tahun 1905. Semula, perkumpulan itu bergerak di bidang persemayaman jenazah. Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatannya kian beragam.

Baca Juga:  Libur Lebaran, Tetap Waspadai Cuaca Ekstrem di Kabupaten Malang

Ang Hien Hoo juga pernah menggelar beberapa kegiatan. Seperti billiard, catur, hingga seni musik klasik Tionghoa. Sebelum ada kegiatan wayang orang, Ang Hien Hoo hanya berfokus pada sajian tari saja. Untuk mendukung kegiatan itu, seorang guru tari pun dipanggil. Saat itu, Shirley bersama ketiga kawannya diajari menari srimpi. ”Pertama kali menari, yang nonton rame. Kan (di pusat kegiatan Ang Hien Hoo) ada aulanya juga,” terang Shirley. Beranjak dari itu, banyak orang yang kemudian tertarik dan memasukkan anak-anaknya ke perkumpulan Ang Hien Hoo.

BUKTI KIPRAH TIONGHOA: Adegan Shirley Kristiani muda saat memperagakan tokoh Arjuno Gandrung di salah satu pertunjukan nya kala itu. (repro/radar malang)

Dari banyaknya minat itu, kemudian muncul gagasan untuk membuat drama wayang orang. Sejak saat itu perkumpulan wayang orang Ang Hien Hoo aktif manggung di sejumlah daerah. Seperti di Surabaya, Bali, Magelang, Semarang, dan Sidoarjo. ”Kami juga pernah ikut festival di Solo dan mendapat juara dua. Ketika itu, saya berperan sebagai Resi Supadyo,” imbuhnya.

Pada tahun 1962, mereka juga sempat diundang oleh Presiden Soekarno untuk tampil di Istana Merdeka, Jakarta. Rekam jejak tersebut terus dikenang nenek lima cucu tersebut. Dengan bergabung Ang Hien Hoo, dirinya bisa mendapat teman dari berbagai daerah. Ditambah lagi, kedua orang tua Shirley juga mencintai budaya Jawa. Sehingga sangat mendukung perjalanannya sebagai pemain wayang orang. ”Saking sibuknya menari, waktu itu saya pernah setahun tidak naik kelas karena pas ujian harus ke luar kota. Tapi, bapak sama ibu tidak marah, wong mereka yang menyuruh. Kalau ndak latihan malah dimarahi,” kenang Shirley sembari tersenyum.

Baca Juga:  Kampus Bantu Lulusan Cari Kerja

Perjalanan perempuan yang sudah mengikuti kegiatan wayang orang sejak usia 12 tahun itu kemudian berhenti ketika dia berusia 25 tahun. Saat itu, Shirley harus melanjutkan studinya. ”Saya berhenti, tapi dalam hati masih sayang sekali. Kami ini WNI keturunan Tionghoa, tapi semua wayangan dan bisa krama inggil,” imbuhnya.

Singkat cerita, perkumpulan wayang orang Ang Hien Hoo akhirnya mati suri sekitar tahun 1965. Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, kondisi perpolitikan saat itulah yang memaksa mereka non-aktif. Setelah itu, nama perkumpulan Ang Hien Hoo berganti menjadi Panca Budi. Seperti di awal, fokusnya kembali pada urusan persemayaman jenazah. Lokasinya sekarang berada di Jalan Martadinata, Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. (rb6/by)

 

LIPUTAN KHUSUS IMLEK 2.573 

BUKU album foto berukuran sekitar 30 x 30 sentimeter itu masih tersimpan rapi di salah satu rumah di Jalan Candi Sewu nomor 4A, Kota Malang. Di dalamnya, ada banyak dokumentasi pertunjukan dari Ang Hien Hoo, perkumpulan wayang orang khas Tionghoa. Seperti dokumentasi ketika mereka tampil di festival Solo, tahun 1950-an.

Perkumpulan wayang orang itu sudah berdiri di Kota Malang sejak tahun 1955. Ialah Tangkar alias Liem Ting Tjwan yang mencetuskannya. Shirley Kristiani Widjihandayani, pemilik buku album foto yang ditemui koran ini kemarin (31/1), adalah anak dari Hardjoadiwinoto atau Tjhwa Hoo Liong.

Hardjoadiwinoto adalah salah satu rekan dari Liem Ting Tjwan. Dari obrolan keduanya bersama rekan lainnya, yakni Wat Ping, akhirnya tercetus ide untuk mendirikan perkumpulan wayang orang. Shirley Kristiani yang punya nama Tionghoa Tjhwa Hiang Nio, menjadi salah satu pelaku wayang orang yang masih tersisa.

PELAKU SEJARAH:Shirley Kristiani muda memperagakan tokoh Arjuno Gandrung di salah satu pertunjukan. (repro/radar malang)

Ingatan perempuan berusia 78 tahun itu masih cukup segar. Meskipun terbata-bata karena sakit yang ia derita, Shirley tetap lancar menceritakan sejarah berdirinya Ang Hien Hoo. ”Tujuan mendirikan perkumpulan ini karena ingin ikut melestarikan budaya Jawa,” terangnya.

Dari sejumlah literasi yang ada, Ang Hien Hoo awalnya merupakan perkumpulan yang berdiri pada tahun 1905. Semula, perkumpulan itu bergerak di bidang persemayaman jenazah. Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatannya kian beragam.

Baca Juga:  Sempat Terhenti, Pembangunan Mini Block Office Pemkot Malang Dilanjut

Ang Hien Hoo juga pernah menggelar beberapa kegiatan. Seperti billiard, catur, hingga seni musik klasik Tionghoa. Sebelum ada kegiatan wayang orang, Ang Hien Hoo hanya berfokus pada sajian tari saja. Untuk mendukung kegiatan itu, seorang guru tari pun dipanggil. Saat itu, Shirley bersama ketiga kawannya diajari menari srimpi. ”Pertama kali menari, yang nonton rame. Kan (di pusat kegiatan Ang Hien Hoo) ada aulanya juga,” terang Shirley. Beranjak dari itu, banyak orang yang kemudian tertarik dan memasukkan anak-anaknya ke perkumpulan Ang Hien Hoo.

BUKTI KIPRAH TIONGHOA: Adegan Shirley Kristiani muda saat memperagakan tokoh Arjuno Gandrung di salah satu pertunjukan nya kala itu. (repro/radar malang)

Dari banyaknya minat itu, kemudian muncul gagasan untuk membuat drama wayang orang. Sejak saat itu perkumpulan wayang orang Ang Hien Hoo aktif manggung di sejumlah daerah. Seperti di Surabaya, Bali, Magelang, Semarang, dan Sidoarjo. ”Kami juga pernah ikut festival di Solo dan mendapat juara dua. Ketika itu, saya berperan sebagai Resi Supadyo,” imbuhnya.

Pada tahun 1962, mereka juga sempat diundang oleh Presiden Soekarno untuk tampil di Istana Merdeka, Jakarta. Rekam jejak tersebut terus dikenang nenek lima cucu tersebut. Dengan bergabung Ang Hien Hoo, dirinya bisa mendapat teman dari berbagai daerah. Ditambah lagi, kedua orang tua Shirley juga mencintai budaya Jawa. Sehingga sangat mendukung perjalanannya sebagai pemain wayang orang. ”Saking sibuknya menari, waktu itu saya pernah setahun tidak naik kelas karena pas ujian harus ke luar kota. Tapi, bapak sama ibu tidak marah, wong mereka yang menyuruh. Kalau ndak latihan malah dimarahi,” kenang Shirley sembari tersenyum.

Baca Juga:  Bupati Siapkan Lahan untuk Kampus-Kampus yang Ekspansi ke Bumi Kanjuruhan

Perjalanan perempuan yang sudah mengikuti kegiatan wayang orang sejak usia 12 tahun itu kemudian berhenti ketika dia berusia 25 tahun. Saat itu, Shirley harus melanjutkan studinya. ”Saya berhenti, tapi dalam hati masih sayang sekali. Kami ini WNI keturunan Tionghoa, tapi semua wayangan dan bisa krama inggil,” imbuhnya.

Singkat cerita, perkumpulan wayang orang Ang Hien Hoo akhirnya mati suri sekitar tahun 1965. Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, kondisi perpolitikan saat itulah yang memaksa mereka non-aktif. Setelah itu, nama perkumpulan Ang Hien Hoo berganti menjadi Panca Budi. Seperti di awal, fokusnya kembali pada urusan persemayaman jenazah. Lokasinya sekarang berada di Jalan Martadinata, Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. (rb6/by)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/