MALANG KOTA – Sempat break karena libur Lebaran, tahapan penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA dan SMK kembali dilanjutkan. Kemarin (11/6) giliran siswa yang memilih jalur khusus mendaftarkan diri ke sekolah secara offline. Mereka adalah siswa yang menggunakan jalur siswa berprestasi, siswa tidak mampu, siswa di luar zonasi hingga siswa inklusi. Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim Kota Malang–Kota Batu Ema Sumiarti menyatakan, untuk jalur prestasi, ada kuota sebanyak 5 persen. Rinciannya 3 persen untuk prestasi non-akademik dan 2 persen dari prestasi akademik. Untuk prestasi non-akademik, diperuntukkan bagi siswa yang memiliki prestasi di bidang kesenian maupun bidang olahraga minimal di tingkat kota atau kabupaten. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan sertifikat maupun piagam. Namun terdapat beberapa batasan untuk prestasi non-akademik, terutama untuk prestasi yang sifatnya beregu. ”Prestasi yang tidak dapat diterima tidak lebih dari tiga orang tiap regu. Selebihnya mohon maaf,” ujarnya. Ema menyatakan, dalam bidang prestasi non-akademik, selain bidang kesenian dan bidang olahraga, terdapat pula prestasi khusus. Yaitu seperti hafiz Quran hingga Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Untuk hafiz, prestasi yang dapat diterima yaitu minimal harus hafal 10 juz. Ada pula prestasi di bidang Pramuka adalah siswa yang mengikuti jambore tingkat nasional. ”Kemudian untuk prestasi bidang olahraga nanti akan terdapat verifikasi oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur dan pihak KONI Jawa Timur, berdasarkan usulan dinas pendidikan di tingkat kota atau kabupaten,” imbuh Ema. Ema juga menambahkan, untuk jalur perpindahan orang tua, jatahnya adalah sekitar 5 persen dari pagu sekolah. Jalur ini diperuntukkan bagi siswa yang mengikuti perpindahan tugas dari orang tua siswa tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya SK mutasi/perpindahan tugas dari orang tua siswa bersangkutan. ”Apabila kuota jalur perpindahan orang tua telah terpenuhi, maka pihak sekolah memberi peringkat berdasarkan hasil ujian nasional,” terang Ema. Berbeda dengan SMA, pelaksanaan PPDB di SMK tidak ada sistem zonasi. Disebabkan adanya beberapa jurusan dan bidang dalam SMK yang tidak ada di sekolah lain. Salah satunya adalah SMKN 4 Malang. Namun persamaannya dengan SMA, terdapat jalur khusus pendaftaran offline pula. Yaitu jalur prestasi akademik dan non-akademik, jalur perpindahan orang tua, dan jalur tidak mampu. Sementara itu, untuk pendaftaran jalur offline di SMKN 4 Malang pada hari pertama terdapat 180 siswa. Rinciannya sebanyak 45 siswa memilih jalur prestasi dan 65 lainnya mendaftar lewat jalur tidak mampu dan sisanya adalah jalur perpindahan orang tua. ”Saat ini jumlah pastinya kami juga belum tahu, karena pendaftaran masih berlangsung,” ujar Darmadi, ketua pelaksana PPDB SMKN 4 Kota Malang. (nr4/c1/nay)

MALANG KOTA – Tindakan tegas bagi pelanggaran lalu lintas selama libur Lebaran tetap dilakukan aparat kepolisian. Dari Operasi Ketupat Satlantas Polres Malang Kota 2019, hampir separo jumlah pelanggaran berkendara tercatat atas nama pelajar dan mahasiswa. Kebanyakan pelajar nekat berkendara meski tak punya surat izin mengemudi (SIM).

Kasubbag Humas Polres Malang Kota Ipda Marhaeni menyatakan, Satlantas Polres Malang Kota menerjunkan semua anggota untuk bekerja ekstra meminimalisasi kecelakaan lalu lintas. Selain sosialisasi berkendara aman dan nyaman, pihaknya juga memberi tindakan tilang bagi pelanggar. ”Selama Ops Ketupat ini rekan-rekan Satlantas memang fokus menekan angka kecelakaan,” kata perwira satu setrip itu.

Operasi Ketupat digelar sejak 29 Mei hingga 10 Juni 2019 kemarin. Hasilnya, Satlantas Polres Malang Kota membukukan 107 tilang dan 311 teguran. ”Sekarang, catatan pelanggaran lebih sedikit. Karena dari laporan, transportasi mudik di Kota Malang sudah berbagi, tidak melulu pakai motor, apalagi sarana transportasinya sudah ada tol, bisa lebih cepat,” kata Heni, sapaan akrab Marhaeni.

Pelanggaran lalu lintas masih didominasi kendaraan roda dua sebanyak 101 kasus. Sedangkan untuk kendaraan roda empat ada 5 kasus serta 1 kasus lainnya kendaraan besar. ”Penurunan jumlah pelanggaran ini berdasar laporan, memang karena alat mudik tidak lagi didominasi roda dua,” kata mantan Kasium Polres Malang Kota itu.

Dari pelanggaran tersebut, petugas mengamankan barang bukti sebanyak 70 STNK dan 37 SIM. Itu artinya, banyak pelanggar yang tidak bisa menunjukkan SIM saat ditindak. Dan sebagai jaminan barang bukti, pelanggar menggunakan STNK. Pelanggar memang masih didominasi 68 karyawan, 31 pelajar, atau mahasiswa, 1 sopir, dan 7 pelanggar lain. ”Ini juga terutama untuk pelajar dan mahasiswa, sering kali dalam banyak operasi, mereka selalu mendominasi jumlah pelanggar. Tidak punya SIM, tapi nekat berkendara,” pungkasnya.



Pewarta : Fajrus Shidiq
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani