Maksimalkan Danau Toba, Ini yang Dilakukan Pemerintah

JawaPos.com – Pemerintah tengah menggarap wisata bertema nomadic tourism di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut). Nomadic tourism disebut-sebut sebagai solusi memaksimalkan destinasi wisata alam Indonesia yang luar biasa tanpa butuh waku lama.

Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo mengungkapkan, tipe wisata seperti ini memang sedang populer. Menteri Pariwisata Arief Yahya menggagasnya untuk meningkatkan daya saing pariwisata di Indonesia.

Nomadic tourism jelas Arie, biasanya fasilitas yang bersifat temporer. Bisa dengan membangun caravan, Glamp Camp atau bisa juga dengan home pod. “Nomadic tourism ini semacam fasilitas akomodasi yang menargetkan generasi milenial. Kita berharap ini bisa menjadi branding dan image yang bagus untuk kawasan Sibisa dan Danau Toba secara keseluruhan. Dikemas ala anak muda, ada caravan area nantinya yakni akomodasi nomadic atau berpindah-pindah; ada tent area; amphiteather seperti panggung tari kecak di Bali; dan lainnya,” ungkap Arie Prasetyo, Kamis (7/2).

Pengembangan lahan perintisan atau pilot project nomadic tourism yang akan rampung pada bulan April 2019 mendatang ini diperkirakan akan membutuhkan pendanaan sebesar Rp 1.823.263.200.000. Pembangunannya dan glontoran dana akan dilakukan secara bertahap.

Tahap pertama, sebesar 30 persen atau sebesar Rp 546.978.960.000. Selanjutnya, pada tahap kedua Rp 1.276.284.240.000. Item yang akan dibangun, kata Arie, termasuk infrastruktur; fitur lansekap; kantor dan bangunan penunjang; serta fasilitas umum.

“Hal mendesak lainnya yang juga dibahas adalah pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) untuk BPODT. Saat ini masih ada kelengkapan administrasi yang harus dilengkapi, kemudian akan direview oleh tim penilai PK BLU Kemenkeu dan selanjutnya diusulkan pada Menteri Keuangan,” terangnya.

Sebelumnya, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, terbang ke Jakarta untuk membahas soal percepatan pembangunan kawasan Danau Toba. Rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan digelar, Rabu (6/2).

Rapat itu membahas konsep yang ditawarkan BPODT, yakni merampungkan pilot project bertema ‘nomadic tourism’ pada bulan April 2019 mendatang.

Edy Rahmayadi mengapresiasi rencana pembangunan pilot project di zona otorita yang dipresentasikan oleh Direktur Utama BPODT Arie Prasetyo. Untuk memastikan keberhasilan pilot project tersebut, Edy merencanakan pertemuan lanjutan yang lebih intens untuk mengkaji berbagai kemungkinan dan ide-ide tambahan yang memperkaya konsep nomadic tourism.

“Saya ingin mengingatkan agar konsep ini juga mempertimbangan prinsip berkelanjutan. Artinya, kita jangan asal dan yang penting ada yang dibangun. Tetapi juga kita pikirkan agar keberadaan konsep ini memberi nilai tambah dan memperkaya variasi wisata di Danau Toba,” ungkapnya

Hal penting lainnya yang menurut Edy juga perlu untuk segera disiapkan adalah, pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. “Jangan sampai jadi penonton saja mereka itu. Tetapi juga ikut menikmati hasil dari keindahan alam Danau Toba. Kedepannya, kita harapkan pekerjanya adalah SDM lokal, jangan dari luar,” katanya.
Untuk menunjang SDM yang mumpuni di sektor wisata, Edy merencanakan akan melakukan pembahasan lanjutan terkait penambahan sekolah pariwisata melalui SMK.

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan sepakat dengan usulan Edy. Dirinya menyampaikan bahwa, hal tersebut juga telah menjadi perhatian Presiden Jokowi yakni memperbanyak sekolah kejuruan wisata.

Selain itu, Luhut juga sepakat agar BPODT mempertimbangkan hal-hal lain yang memberi nilai tambah dan memperkaya variasi wisata di Danau Toba.

“Jeli melihat potensi-potensi seperti apa yang bisa lagi dikembangkan. Seperti penyelenggaraan event-event besar berskala internasional. Tapi acaranya harus dikemas dengan keren ya jangan kampungan. Event olahraga juga bagus di Danau Toba, sport tourism seperti Triathlon kompetisi rangkaian cabang olahraga renang, balap sepeda, lari,” jelasnya.

Luhut juga menyinggung masalah kebersihan dan kerusakan lingkungan yang diamatinya saat terakhir kali berkunjung ke Danau Toba dalam rangka Rakor Pembahasan Isu Lingkungan di Kawasan Danau Toba, bulan lalu. “Kotoran ternak dan kerambah-kerambah yang merusak kelestarian Danau Toba, saya kira harus ada tindak-tindak administratif pada mereka,” tegasnya.

Editor           : Budi Warsito

Reporter      : prayugo utomo