Makin Mudah Cari Sekolah untuk Anak Difabel

MALANG KOTA – Para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak perlu lagi bingung menyekolahkan anaknya. Sebab, hingga tahun 2017, sudah ada 67 SD se-Kota Malang yang menyelenggarakan program untuk para ABK. Program ini adalah pendidikan inklusif yang tersebar hampir di setiap kecamatan di Kota Malang.

Menurut Kepala Seksi Program dan Evaluasi Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Malang Erick Yanuar Yusuf, pendidikan inklusif adalah layanan pendidikan yang menyertakan ABK dalam proses pembelajaran reguler di sekolah. Mereka itu antara lain, anak autis, anak yang susah memusatkan perhatian atau lambat berpikir, dan anak-anak hiperaktif. Di Kota Malang, dia mengatakan kalau program ini sudah mulai dilaksanakan sejak 2012.

Menurut dia, pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan. Selain itu, mereka memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Erick memaparkan, program bermula dari pembangunan klinik autis pada tahun 2012. Klinik autis mendapat bantuan sarana dan prasarana untuk membantu wali murid prasejahtera yang anaknya berkebutuhan khusus agar dapat bersekolah di sekolah formal dengan biaya yang terjangkau.

Program inklusif ini, lanjut dia, sebagai media untuk penguatan pendidikan karakter (P2K) para ABK.  ”Program ini dapat memfasilitasi ABK untuk tetap bersekolah di sekolah formal dan mampu mengembangkan potensi masing-masing siswa,” terang Erick.

Pria 40 tahun ini menyatakan, pendidikan inklusif dibiayai oleh APBD. Disdik dan masing-masing sekolah bekerja sama dengan orang tua dan lembaga terapi untuk mengelola siswa. ”Semua saling bersinergi mendampingi dan mengembangkan potensi masing-masing anak,” ujar Erick.

Sampai saat ini, lanjut dia, beberapa sekolah yang dinilai berhasil menjalankan program ini adalah SDN Kebonsari 2, SDN Ketawanggede, SDN Kiduldalem 1, dan SD Model Tlogowaru. ”Mereka telah mengantarkan anak didiknya mampu berprestasi dan melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya,” imbuh dia.

Tidak hanya di sekolah negeri, sekolah swasta juga banyak yang terlibat sebagai penyelenggara program ini. ”Hal ini dikarenakan setiap tahun selalu ada penambahan jumlah siswa,” tutur Erick.

Dikatakannya, orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke SD agar menyerahkan surat keterangan dari pusat terapi. Hal ini untuk mengetahui kesiapan anak bergabung belajar bersama temannya. ”Sampai saat ini, keluarannya cukup bagus. Banyak siswa yang sudah diterima di jenjang selanjutnya. Banyak juga yang menjadi sembuh dan kembali normal. Disdik sendiri selalu menargetkan agar ABK siap berproses dengan siswa yang lain,” jelas dia.

Erick mengungkapkan, tidak ada kriteria khusus bagi sekolah untuk menyelenggarakan program ini. ”Yang penting ada guru. Dalam pelaksanaannya, keterbatasan guru ABK memang menjadi kendala tersendiri. Rata-rata di sekolah hanya tersedia 1–2 orang,” katanya. ”Kami selalu upayakan agar jumlah guru dapat terpenuhi, sehingga hasil lebih optimal,” pungkasnya.

Pewarta: Ermawati
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Arief Rohman