Majikan TKI yang Disandera Bersedia Bayar Utang Sinergi Jawa Pos

PULANG: Asia (kiri) bersama adiknya Agustini usai dari kantor Disnaker.
(Zainal Arifin/ Radar Bromo)

PROBOLINGGO-Perasaan Asia, 39 TKI asal Tiris yang sempat tersandera majikannya selama 10 tahun di Bahrain, benar-benar plong saat pulang ke tanah air. Sebab, ia tak hanya bisa bertemu keluarganya. Tapi, juga bisa membawa tunggakan kekurangan gaji 10 tahun yang belum dibayarkan majikannya. 

Itu setelah KBRI di Bahrain mendesak majikan untuk membayar kekurangan gajinya. Semua surat dan tiket serta pelunasan gaji rampung diurus oleh majikannya. “Kesepakatan tersebut dipenuhi oleh majikannya,” terang Agustini, adik Asia. 

Total, Asia membawa pulang gaji selama 10 tahun sekitar Rp 220 juta. Saat bulan pertama bekerja, Asia mengaku dibayar Rp 1,6 juta. Pada bulan kedua hingga berhasil pulang, gajinya Rp 1,9 juta per bulan.



Terpisah Sigit Sumarsono, kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo mengatakan, pihaknya berharap TKI yang keluar negeri harus melalui jalur resmi. “Kalau legal, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hak-haknya akan dapat dipenuhi sesuai apa yang dikerjakan,” terangnya.

Sigit –sapaan akrabnya – mengakui jika pihaknya dihubungi Agustini. “Kami dihubungi keluarganya. Kemudian kami menghubungi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di Jakarta. Kemudian dihubungkan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bahrain. Kemudian KBRI menghubungi alamat Asia bekerja,” terangnya.

Pihaknya mengatakan, terdapat 29 orang TKI resmi yang tercatat di Disnaker Kabupaten Probolinggo pada Tahun 2017. Diharapakan para pekerja yang ke luar negeri memilki ilmu lebih. Sehingga lebih dihargai. TKI tersebut ada yang ke Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan negara-negara Arab.

“Kalau yang tidak resmi, kami tidak tahu jumlahnya. Kontrak TKI bertahap. Awalnya 2 tahun, kemudian ditambah 2 tahun,” terangnya. 

Diketahui, Asia sempat tersandera oleh majikannya di Bahrain. Selama 10 tahun, ia tak diperbolehkan pulang. Bahkan untuk keluar rumah, juga dibatasi. Tak hanya itu, gajinya pun sering terlambat. 

(br/hil/mie/mie/JPR)