Mahasiswa Universitas Podomoro Timba Ilmu di The Hotel Week Indonesia

Sebab, dalam ajang bertajuk ‘One-stop Global Resource Hotel & Hospitality, itu diikuti para pelaku industri pariwisata, perhotelan, hingga bisnis online. Hal ini tentu berkaitan langsung dengan apa yang mereka pelajari di kampus.

“Ini adalah salah satu metode belajar dari kampus kami dalam mendekatkan mahasiswa kepada industri. Melihat langsung ke lapangan,” ujar Dosen Perhotelan Universitas Podomoro, Edvi Gracia Ardani kepada Jawapos.com, Jumat (24/11).

Edvi mengatakan, praktik atau turun langsung mengunjungi kegiatan seperti The Hotel Week Indonesia, sangat penting bagi mahasiswa. Sebab, mahasiswa bisa mengenal dan tahu ihwal seluk beluk industri perhotelan.

“Apalagi kebutuhan industri berorientasi pada skill. Istilahnya begini, industri minta mahasiswa yang punya kemampuan nasi goreng, tapi di kampus dia diajari spagetti, kan gak sinkron,” jelas Edvi.

“Maka dari itu, kehadiran The Hotel Week Indonesia menjadi penting untuk menambah kompetensi mahasiswa. Ini loh dunia yang mereka akan hadapi. Kemudian dari sisi government, mereka minimal tahu kebijakan-kebijakan pemerintah seperti apa,” lanjut dia.

Edvi mengatakan, secara makro, seluruh mahasiswa Universitas Podomoro diarahkan untuk menambah jam terbang keilmuan mereka dengan mengikuti ajang-ajang seperti The Hotel Week Indonesia. “Disesuaikan dengan interest dan enthusiasm mereka,” lanjut dia.

The Hotel Week Indonesia, mempertemukan berbagai pelaku industri pariwisata dan industri perhotelan di Indonesia, serta para pelaku bisnis online.

Pesertanya terdiri dari berbagai jenis industri, antara lain; pemilik hotel dan resorts, property developer, lokal hospitality menejemen, kontraktor hotel design-furniture interior-outdoor living, teknologi hospitality industri, maupun para professional perhotelan.

Selain para pelaku bisnis pariwisata dari dalam negeri, hadir pula pelaku usaha, yang berkecimpung di bidang usaha yang sama, dari luar negeri khususnya kawasan Asia-Pasifik. Eksibisi ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.

Pasalnya, eksibisi ini berhasil menjadi ruang interaksi yang efisien antara pelaku usaha industri perhotelan dan pelaku usaha pariwisata berbasis online.

Kemenperin Dorong Tingkat TKDN Industri Perhotelan 100 Persen

Sebelumnya, Direktur Jernderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengakui saat ini para pelaku IKM masih kesulitan menjangkau industri perhotelan, karena masih maraknya barang impor barang dari Tiongkok yang harganya miring.

Padahal, kata Gati, Kemenperin sudah menargetkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk industri perhotelan 100 persen. Artinya hotel-hotel harus menggunakan produk IKM dalam negeri untuk suplai pengadaan.

“Misalnya pengadaan furniture hotel semuanya harus produk indonesia. Kalau sekarang kan ngga. Masih impor dari China. Kenapa impor, karena murah. Susahnya itu,” ujar Gati.

Padahal, menurut Gati, hampir semua kebutuhan suply perhotelan bisa disediakan oleh IKM. Barang seperti kerajinan, mebel, furniture, desain interior, hingga barang pajangan telah banyak diproduksi IKM. “Barang-barang keperluan hotel seperti handuk, sendal, hingga cangkir dan gelas juga bisa diambil dari IKM,” ujar Gati.

Karena itu, Gati menegaskan perlunya kerjasama antara pelaku IKM dengan asosiasi industri perhotelan, seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

“Kalau ini ngga ada kerjasama dengan PHRI kan ngga bisa. PHRI itu harus digandeng. Ini misi saya yang belum kesampaian.”

Menurut Gati, yang paling penting semua kepala daerah harus mengeluarkan perda yang mengharuskan hotel di daerahnya menggunakan produksi dalam negeri.

“Selain itu, kepala daerah juga perlu mendorong pengusaha untuk menyediakan area toko produk IKM di hotelnya untuk pusat penjualan oleh-oleh,” lanjut Gati.

Sebagai jaminan, Gati menegaskan Kemenperin tetap menjaga mutu dan standard produk IKM melalui program e-smart. Saat ini Kemenerin telah membina sebanyak 1650 IKM yang telah dihimpun dalam sebuah basis data.

“Ini kalau hotel-hotel mau beli ya tinggal lihat di situ. Kalo itu produk-produknya sudah jelas terjaminlah. Dijamin produknya, dijamin standardnya,” tegas Gati.

Salah satu contoh produk IKM yang telah terstandarisasi mutunya adalah produk untuk spa yang tidak mengandung logam beratnya. “Selama ini banyak produk perawatan kulit untuk spa yang mengandung logam berat. Kalau produk e-smart IKM tidak boleh,” tegasnya lagi.

Sebelumnya Kementerian Perindustrian telah menggulirkan program e-smart industri kecil dan menengah (IKM) untuk meningkatkan pengembangan kapasitas sektor yang mendominasi populasi industri di Indonesia tersebut. Program ini akan memanfaatkan platform digital melalui kerja sama dengan perusahaan startup di Indonesia.

Program ini, kata dia, akan mendukung layanan keuangan, logistik, dan pemasaran bagi pelaku IKM. Kemenperin juga akan memfasilitasi pelaku IKM untuk menjalin kerja sama dengan e-commerce di dalam negeri seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dan Blibli.


(mam/JPC)