Mahasiswa Difabel Masih Sulit Lulus

Ratusan mahasiswa penyandang disabilitas masih kesulitan menyelesaikan studinya. Selain karena keterbatasan yang dimilikinya, faktor penggunaan bahasa, khususnya mahasiswa tunarungu, juga jadi sebab mereka harus bekerja ekstrakeras dalam menuntaskan mata kuliah yang harus diikuti. 

MALANG KOTA – Ratusan mahasiswa penyandang disabilitas masih kesulitan menyelesaikan studinya. Selain karena keterbatasan yang dimilikinya, faktor penggunaan bahasa, khususnya mahasiswa tunarungu, juga jadi sebab mereka harus bekerja ekstrakeras dalam menuntaskan mata kuliah yang harus diikuti.

Mahasiswa difabel yang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya (UB) misalnya. Selain tunarungu, mahasiswa UB yang masih kesulitan menuntaskan studinya adalah penyandang tunadaksa, tunanetra, autis, cerebral palsy (lumpuh otak), lamban belajar, hingga tunagrahita. Dari 30 mahasiswa difabel jenjang S-1 angkatan 2012 dan 2013, hingga kini baru 2 orang yang lulus. Itupun salah satunya masih dalam tahap revisi skripsi.

”Yang sudah lulus adalah mahasiswa angkatan 2012 dan baru lulus tahun 2017 kemarin atau telat 1 tahun,” terang Rahmawati Ayu, salah seorang pendamping mahasiswa difabel UB. Sementara, yang kedua adalah mahasiswa angkatan 2013 yang saat ini masih berupaya menyelesaikan revisi skripsinya. Keduanya sama-sama penyandang tunarungu.

Menurut Rahma, sebagian mahasiswa yang kesulitan dengan studinya sudah memafaatkan Rumah Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya. ”Saat ini mahasiswa disabilitas di UB berjumlah 114 orang. Mereka mulai dari angkatan 2012 hingga 2017,” tambah Rahma. Sebanyak 38 mahasiswa menempuh D-3, dan 76 di antaranya mahasiswa S-1.

Khusus untuk mahasiswa penyandang tunarungu, di UB jumlahnya sebanyak 63 orang. Mereka yang masuk angkatan 2012 berjumlah 8 mahasiswa, dan angkatan 2013 sebanyak 10 mahasiswa.



Rahma menyatakan, selama ini kesulitan mahasiswa tunarungu dalam menyelesaikan skripsi adalah kendala tata bahasa. Dalam penulisan kalimat, mahasiswa tunarungu umumnya terbolak-balik dalam penempatan SPOK (subjek, predikat, objek, dan keterangan). ”Mereka ini kalau menulis urutan katanya suka terbolak-balik. Kadang saya sering bingung kalau baca WhatsApp mereka,” bebernya.

Rahma sendiri mengaku mendampingi Siti Nur Lathifah, mahasiswi tunarungu Jurusan Seni Rupa angkatan 2013, dalam mengerjakan skripsinya. Bagi Rahma, itu masih termasuk mudah. Mahasiswi yang pernah diundang di acara Hitam Putih Trans7 itu termasuk yang unggul. Dia juga mahasiswi Bidikmisi. ”Yang lain, (selain Ifa, Red)  tata bahasa tulisannya sangat susah. Lebih susah lagi kalau membimbing disabilitas lain, misal penderita autis yang hiperaktif,” ujarnya.

Sementara itu, Alies Poetri Lintangsari MLi, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UB menyatakan, penyebab terbolak-baliknya tata kalimat penyandang tunarungu itu karena perbedaan modal bahasa. ”Logika kenapa tulisan mereka terbolak balik, dari beberapa literatur yang saya baca adalah karena perbedaan modal bahasa,” ujarnya.

Menurutnya, dalam hal tata bahasa, bahasa isyarat dengan bahasa tulis berbeda. Namun, dia menambahkan, faktor pola pendidikan dan paparan bahasa juga ikut memengaruhi kemampuan bahasa penyandang disabilitas. Anak-anak tunarungu yang dalam keluarganya sering diekspos untuk menulis kata-kata dengan baik dan benar biasanya akan memiliki kemampuan yang lebih baik daripada yang tidak diajarkan.

Sebelumnya, Rumah Layanan Disabilitas UB diresmikan Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati pada Jumat lalu (5/1). Menurut Rektor UB Prof Dr Ir Mohammad Bisri, selama ini mahasiswa difabel didampingi oleh satu hingga dua pendamping dari mahasiswa atau dosen saat mereka belajar. ”Rumah Layanan Disabilitas ini sebagai bentuk perhatian kami kepada penyandang disabilitas,” ujar Bisri.

Pewarta : nr4
Penyunting :Ahmad Yani
Copy Editor : Arief Rohman