Madrasah Diniyah Malang Raya Tolak Kebijakan Sekolah 5 Hari

Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menerapkan kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan kian menuai penolakan dari para pegiat madrasah diniyah (madin) di Kota Malang.

MALANG KOTA – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menerapkan kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan kian menuai penolakan dari para pegiat madrasah diniyah (madin) di Kota Malang. Pasalnya, bila memang kebijakan tersebut dilaksanakan mulai Juli, madin pun terancam mati.

Sebab, dengan lima hari sekolah dalam sepekan, peserta didik akan belajar hingga sore hari, mulai pukul 07.00–15.00, bahkan bisa lebih. Dengan begitu, pendidikan di madin yang banyak dilakukan sore hari pun terancam tak dapat berjalan.

Sebab, para siswa sudah kelelahan sepulang sekolah. Padahal, pendidikan di madin diharapkan memberikan bekal cukup bagi anak tentang pendidikan agama, di luar pelajaran di sekolah.

Untuk diketahui, madin adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan di jalur luar sekolah. Madin termasuk ke dalam pendidikan yang dilembagakan dan bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik dalam penguasaan terhadap pengetahuan agama Islam. Madin pun diharapkan mampu memberikan pendidikan Islam kepada anak didik yang tidak terpenuhi di sekolah umum.

Kepala Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang Ahmad Shamton mengungkapkan, kebijakan lima hari sekolah tersebut kurang memperhatikan kebutuhan rohani siswa. Sebab, kebijakan itu justru membuat madin menjadi kesulitan mencari waktu luang bagi anak didik untuk memperdalam agama.

Dia mengakui, kebijakan sekolah enam hari saja sudah membuat madin atau Taman Pendidikan Alquran (TPQ) hanya bisa membina anak didik hingga kelas 5 SD. Sebab, siswa kelas 6 SD sudah banyak yang diarahkan orang tuanya untuk ikut bimbingan pelajaran (bimbel). ”Pendidikan agama selama dua jam dalam sehari tentu tidak sebanding dengan tantangan moral ke depan,” terangnya.

Bila kebijakan tersebut disahkan, tapi ada orang tua yang memaksakan anaknya mengikuti madin karena pendidikan agama di sekolah yang terbatas, maka hasilnya tidak bisa maksimal.

”Kebutuhan bermain dan belajar interaksi sosial bagi anak di usia dini juga harus diperhatikan. Kalau sekolahnya sampai sore dan dilanjut madin, tentu sangat melelahkan bagi mereka,” bebernya.

Untuk diketahui, saat ini ada sekitar 236 madin di Kota Malang. Shamton mengaku belum berkoordinasi dengan pihak madin terkait kebijakan tersebut.

”Kebijakan sekolah lima hari atau full day itu akan efektif bila kemudian sekolah-sekolah mau merangkul madin-madin dalam pembinaan keagamaan,” pungkasnya.

Tanggapan yang sama pun disampaikan Ketua Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Malang H Abu Yazid AM MA. Dia menyatakan, RMI Kabupaten Malang yang membawahi 500 pondok pesantren sangat keberatan dengan kebijakan Mendikbud tersebut.

Sebab, biasanya kegiatan di madin yang ada di pesantren dimulai sore hari. Nah, ketika sekolah umum pulangnya sore, maka anak akan lelah dan dikhawatirkan tidak mau mengaji. Padahal, dia menyatakan, saat ini pendidikan karakter di madin sangat dibutuhkan umat Islam. Jadi, jika kebijakan sekolah umum tidak seiring dengan kegiatan di madin, hal ini akan ditolak.

Apalagi, dia menyatakan, pendidikan pesantren sudah terbukti baik. Sejak zaman Wali Sanga, pendidikan pesantren sudah eksis. Yang mana, selama ini tidak ada masalah dengan pendidikan ala pesantren.

Dia menyampaikan, jika alasan Mendikbud dengan adanya libur Sabtu-Minggu anak bisa lebih dekat dengan orang tua, hal itu tidak perlu. ”Sejak dulu, anak pesantren itu sudah terbiasa tidak bertemu dengan orang tua dalam jangka yang lama. Bahkan, dengan cara tersebut, terbukti mampu menjadikan anak pesantren hidup mandiri,” ujarnya.

Untuk menyikapi kebijakan tersebut, Yazid menyatakan, RMI Kabupaten Malang akan membuat surat pernyataan bersama yang isinya menolak kebijakan tersebut. ”Rencananya, setelah Lebaran, kami akan sampaikan kepada masyarakat luas,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah, Karangploso ini.

Pewarta: Daviq Umar
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Istimewa