M. Ilham Nur Hakim, Pembuat Aplikasi Alquran Khusus Tunarungu

Berawal dari rasa iba kepada penyandang tunarungu yang tak bisa membaca Alquran, tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ini membuat aplikasi khusus. Namanya aplikasi Qur’ani (Alquran Isyarat). Berkat karya itu, mereka juara saat lomba tersebut digelar MTQ Nasional 2017 lalu.

Luangkan waktu sejenak untuk mengunduh aplikasi Qur’ani di Google Play Store. Di layar aplikasi warna hijau itu akan muncul beberapa menu. Dan klik salah satunya.

Misalnya, ketika meng-klik hijaiah akan muncul deretan huruf hijaiah yang dilengkapi bacaan dan video.

Nah, coba klik tombol videonya, maka muncul gambar seseorang yang memperagakan bahasa isyarat bagi penyandang tunarungu untuk mengucapkan huruf hijaiah (huruf Arab).

Bahkan, di beberapa menu lain, ada video beberapa orang yang membacakan tilawah dengan bahasa isyarat.



Karya itulah hasil kreativitas dari tiga mahasiswa UM Malang. Mereka adalah M. Ilham Nur Hakim (jurusan IPS), Rony Aldhea Dwi (teknik informatika), dan Ellien Widayuk (komunikasi visual).

Sebelum menjelaskan detail aplikasi itu kepada koran ini, Ilham lebih dulu membuka layar laptop, menunjukkan portal web Qur’ani. ”Awal aplikasi Qur’ani dari karya tulis ilmiah bernama Hikua,” ujar Ilham.

Hikua atau hiring impairment of Quran application, ini induknya Qur’ani. Hanya, untuk Hikua konsep pembuatannya hanya berdasarkan karya tulis semata, bukan pengembangan aplikasi. Dia terinspirasi membuat aplikasi ini karena sering bertemu teman-temannya di jurusan pendidikan luar biasa (PLB). Mereka menceritakan jika penyandang tunarungu kesulitan belajar Alquran. Akhirnya dia melihat sendiri betapa susahnya membaca Alquran.

”Saya jadi tahu, kalau pendidikan Alquran bagi tunarungu itu terbatas,” tambah pria asli Tulungagung ini.

Singkat cerita, dia menyimpulkan jika tunarungu kesulitan membaca Alquran. Butuh proses lama untuk belajar. Dengan cepat, Ilham membuat konsep rancangan aplikasi Alquran, ya namanya Hikua itu. Kalau dibandingkan Qur’ani, Hikua tampilannya terbatas, dan tidak ada fitur lain selengkap Qur’ani.

”Ini satu-satunya di Indonesia dan baru daftarkan hak patennya,” jelasnya.

Nah, setelah konsepnya jadi, dia ikut lomba Musabaqah Tilawatil Quran Nasional. Dia akhirnya mengajak ahli IT dan desain visual untuk membuat Aplikasi Qur’ani ini lebih mudah diakses.

Mahasiswa semester VI ini menambahkan, setelah konsepnya matang, aplikasi dan desain dia serahkan kepada Rony dan Ellien. Kontennya, tetap berdasarkan draf yang sudah dibuatnya.

Untuk proses penyempurnaan aplikasi Qur’ani ini dilakukan banyak ahli. Total ada 24 orang yang ahli di beberapa bidang. Ada ahli ilmu tilawah, ahli Alquran, ahli hadis, dosen IT, dan manajemen. Termasuk ada pakar bahasa isyarat khusus tunarungu. Karena dia ingin aplikasinya ini sempurna, prosesnya dibuat selama setahun.

Yang agak sulit saat proses pembuatan aplikasi ini ketika harus merekam suara tilawah 30 juz. Karena yang membacakan tilawah adalah para mahasiswi kontingen MTQN. Padahal, saat itu mereka dikarantina. Dia tidak bisa menemui langsung meski untuk urusan rekaman.

”Teman mahasiswi pinter ngakali, mereka rekaman pakai HP sesudah Subuh,” ujarnya. Hasil rekaman diberikan kepadanya untuk diolah bersama tim.

Setelah aplikasi ini dirasa sudah sempurna, Ilham dan timnya sepakat pergi ke Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB) di Oro-Oro Dowo, Klojen, untuk bertemu keenam murid tunarungu. Apa yang dirasakan Ilham ketika melihat adik-adik tersenyum saat menjajal aplikasi Qur’ani ini tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

”Wajahnya ceria dan semangat sekali belajar hijaiah,” imbuh anak pertama pasangan Sujiono dan Nurul Musyaroh ini.

Kerja keras Ilham dan teman-temannya menghasilkan karya yang tidak diduga. Hampir setahun menggarap aplikasi ini, akhirnya Oktober 2017, timnya berhasil melirik para juri dan dinobatkan menjadi juara I cabang perlombaan desain aplikasi komputer Alquran.

”Kemenangan kami dirayakan dahulu dengan tim dan teman yang bantu aplikasi Qur’ani,” jelas Ilham sambil mengenang kemenangannya.

Tapi sesuai prinsip, penyempurnaan aplikasi Qur’ani ini tidak boleh berhenti. Pada awal 2018, dia dan timnya mengikuti pameran start-up di Bandung yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Qur’ani berhasil mendapatkan penghargaan The Best Social Application Award atau aplikasi sosial terbaik.

”Intinya, kami berkembang dan harus berkembang di bidang sosial, jangan pernah putus,” ujarnya.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Radar Malang