Lulus Kuliah, Pilih Total Rawat Ayahnya yang Pikun

Bagi masyarakat Malang Raya yang memiliki keluarga penderita alzheimer (pikun) bisa berkonsultasi dengan komunitas Alzheimer Indonesia (Alzi) Chapter Malang. Di sana, ada sosok Ratu Tita Quritama Putri, pendiri sekaligus koordinator komunitas tersebut. Rita sudah banyak makan asam garam untuk menangani ayahnya yang juga penderita alzheimer. Bagaimana perjuangannya?

Bagi masyarakat Malang Raya yang memiliki keluarga penderita alzheimer (pikun) bisa berkonsultasi dengan komunitas Alzheimer Indonesia (Alzi) Chapter Malang. Di sana, ada sosok Ratu Tita Quritama Putri, pendiri sekaligus koordinator komunitas tersebut. Rita sudah banyak makan asam garam untuk menangani ayahnya yang juga penderita alzheimer. Bagaimana perjuangannya?

Ramah dan murah senyum, itulah sosok Tita–sapaan akrab Ratu Tita Quritama Putri– saat wartawan koran ini berkunjung ke tempat tinggalnya di daerah Dau, Kabupaten Malang. Sedangkan ayah tercintanya, Imam Sudja’i, tampak duduk termangu dan sesekali berteriak satu hingga dua patah kata tanpa arti. Sebab, sang ayah terkena alzheimer (pikun).

Sehari-hari Tita memilih merawat ayahnya. Mulai dari memandikan, menyuapi makan, hingga menunggu ayahnya tidur. ”Saya tidak bekerja. Saya memilih merawat ayah,” ujar alumnus Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Menurut Tita, ayahnya mengalami penyakit demensia alzheimer sejak 2013 lalu. ”Penyakit itu muncul setelah kepala ayah terbentur,” ungkap dia. Lantas, keluarganya  memeriksakan sang ayah ke dokter. ”Waktu ditanya dokter, ternyata ayah tidak bisa menyebutkan nama dan alamat rumahnya. Padahal, itu hal yang sepele,” bebernya.

Pada waktu itu, dia dan keluarganya pun kaget dan tidak percaya. ”Setelah pemeriksaan computed tomography scan (CT scan) dan pengambilan resep, ternyata obatnya seharga Rp 2 juta,” imbuh anak terakhir dari empat bersaudara itu.



Awalnya dia tidak percaya jika untuk pengobatan terbentur saja bisa menghabiskan biaya sebanyak itu. Pengobatannya berlangsung selama 2 bulan, hingga keluarganya menghentikan pengobatan itu karena harga obatnya dinilai terlalu mahal. ”Namun, saat berhenti meminum obat, kondisi ayah langsung drop (menurun),” ujar Tita.

Dia mengungkapkan bahwa kondisi fisik  ayahnya menurun drastis hingga harus menggunakan kursi roda. ”Sempat juga beberapa kali rawat inap di RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang,” beber alumnus SDN Percobaan 1 Kota Malang itu. Dia menjelaskan, ayahnya sempat dirawat di RSJ itu di bagian demensia alzheimer.

Yang lebih parah lagi, pada 2015, ayahnya sempat hilang selama 4 hari. ”Dulu nenek saya di Bandung meninggal dunia, lalu sekeluarga berangkat ke sana,” kenangnya.

Namun, belum dua jam menginjakkan kaki di Kota Bandung setelah menempuh perjalanan selama 24 jam, ayahnya meminta pulang. Namun, keluarganya menolak. Setelah itu, ayahnya pamit untuk jalan-jalan. ”Ketika itu ayah saya masih bisa berbicara dengan lancar,” ungkapnya. Tapi,  hingga sore hari, ayahnya tidak kunjung kembali.

Dan, setelah dicari ke sana kemari selama 4 hari, ayahnya ditemukan di Sleman, Jogjakarta. ”Kami meminta pertolongan melalui radio, televisi, aparat kepolisian, hingga tukang ojek,” ujar gadis berparas cantik itu.

Dia menceritakan, saat meninggalkan Kota Bandung, ayahnya tidak membawa identitas sama sekali (seperti KTP). Akhirnya pencarian itu menemukan titik terang lantaran ayahnya membawa kartu nama kakak Tita. Ketika mendapat informasi tersebut, sekeluarga pun langsung berangkat dari Bandung menuju ke Sleman, Jogjakarta. Waktu ditemukan, pakaian ayah sudah kotor penuh lumpur,” ungkap alumnus SMPN 4 Malang tersebut.

Setelah itu, ayahnya kembali diperiksa dokter dan harus mengonsumsi obat setiap hari. Untuk biaya obatnya menghabiskan Rp 4 juta per bulan. ”Untungnya uang ayah masih cukup. Untuk membeli obat menggunakan BPJS. Sedangkan biaya lain-lainnya, ya dari uang pensiunan ayah,” ucapnya.

Sejak kejadian tersebut, Tita dan semua keluarganya menyadari betapa parah penyakit yang menyerang Imam Sudja’i. ”Lalu, saya banyak mencari informasi mengenai apa itu alzheimer,” kata gadis kelahiran 16 September 1993 itu.

Dia mengaku mendapatkan informasi di media sosial bahwa Alzheimer Indonesia (Alzi) akan mengadakan pertemuan di Kota Malang. Saat itulah dia mengikuti pertemuan tersebut. Pertemuan itu sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya komunitas Alzi Chapter Malang.

Komunitas Alzi Chapter Malang itu sendiri berdiri pada September 2015 lalu. ”Dulu ada Deborah Dewi yang memelopori kegiatan Alzi di Malang,” tutur Tita. Dia menambahkan bahwa saat itu, kawannya tersebut berada di Jakarta dan mengadakan kegiatan Alzi di Malang lantaran ibunya juga menderita penyakit serupa. ”Awalnya dulu cuma 20-an orang yang datang. Tapi, kini ada 40-an orang yang datang,” imbuh gadis berusia 24 tahun tersebut.

Dari situlah, dia berpikir bahwa komunitas ini sebaiknya terus dilanjutkan untuk mewadahi para keluarga dan para caregiver (perawat) yang menangani orang yang terkena alzheimer.  ”Sejak saat itu hingga sekarang, kami melakukan agenda rutin dua bulanan untuk pertemuan,” imbuh perempuan kelahiran Malang itu.

Dia juga mengungkapkan bahwa komunitas itu adalah media untuk saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman. ”Saya berpesan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk merawat penderita alzheimer,” tuturnya.

Selain itu, dia berpesan agar keluarga maupun caregiver yang merawat penderita alzheimer agar tidak lupa memberikan obat yang harus rutin mereka konsumsi.

Kemudian, selain aktif di Komunitas Alzheimer Indonesia Chapter Malang, Tita masih terus merawat ayahnya bersama ibunya, Ratna Djuwita.

Pewarta : Gigih Mazda
Penyunting : Kholid Amrullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Quritma Putri