Longsor Susulan, Satu Rumah Mengkhawatirkan

Longsor Susulan, Satu Rumah Mengkhawatirkan

Akibat longsoran susulan tersebut, satu rumah milik Junaidi, warga setempat kondisinya sangat membahayakan. Pasalnya, depan rumah dan fondasi sudah menggantung di bibir longsoran dengan ketinggian sekitar lima meter. Posisi longsor ini menambah parah longsoran pertama yang terjadi sebelumnya.

“Seperti yang sudah kita petakan sebelumnya, longsoran semalam terjadi di titik sama dengan longsoran Senin lalu,” ucap Bobby Arisandi, camat Arjasa kepada Jawa Pos Radar Jember kemarin. 

Dirinya mengatakan, kondisi longsoran susulan ini lebih parah karena sudah sampai di rumah warga. Longsoran tersebut membuat fondasi rumah Junaidi menggantung serta mengancam empat rumah lainnya. 

“Posisinya sudah menggantung. Jika longsor sebelumnya masih ada 1-2 meter jalan yang bisa dilewati, kini itu menggantung,” tutur Bobby. Sehingga bisa dikatakan jika rumah itu sangat berbahaya untuk tetap ditinggali warga. 

Berdasarkan rembukan muspika, aparat desa serta stakeholder terkait, mereka memutuskan memindahkan atau mengungsikan penghuni rumah. “Sejak semalam (kemarin malam, Red) rumah tersebut kami kosongkan,” ucap Bobby. Junaidi dan keluarganya sudah dipindahkan ke rumah saudaranya di bawah yang lokasinya lebih aman dibandingkan rumah tersebut.

Pihaknya mengaku masih belum mengetahui sampai kapan untuk pengungsian tersebut karena melihat kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi yang terjadi di Jember. Sehingga untuk sementara memang lebih baik diungsikan untuk menyelamatkan penghuni rumah tersebut.

Menurut Bobby, pihaknya sudah melakukan identifikasi tentang penyebab lokasi tersebut rawan bencana. Seperti sebelumnya, ada sekitar 40 rumah di RT 2 RW 3 yang juga terancam longsor susulan karena di tepi jurang tersebut. Pihaknya terus mengimbau warga untuk berhati-hati.

Penyebabnya, karena buruknya saluran air yang ada. Di mana lokasi rumah yang berada dengan berbagai tingkatan ini dibuang sembarangan. Sehingga air pembuangan dari atas masuk ke tanah tingkatan di bawahnya. Hal itu membuat tanah di bawahnya menjadi lebih rawan.

Belum lagi, pihaknya menemukan adanya saluran air yang rusak sehingga masuk ke tanah. Inilah yang diakui menjadikan tanah gembur. Belum lagi ditambah curah hujan yang tinggi membuat tanah menjadi sangat rawan. “Tadi dengan bantuan dinas teknis sudah melakukan normalisasi saluran sehingga bisa lancar,” jelas Bobby. Saluran-saluran ini, juga diakuinya rawan pecah dan bisa menimbulkan longsor lokasi rumah di bawahnya. 

Sementara itu, Widi Prasetyo, pelaksana tugas kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember juga langsung bertindak. Pihaknya sudah melihat sendiri lokasinya dan memang cukup rawan terjadi longsor jika hujan deras.

“Tetap, untuk sementara longsoran kita tutup terpal,” jelasnya. Sehingga bisa mencegah air masuk dengan cepat melalui longsor yang sudah terjadi sebelumnya. Namun, Widi menambahkan memang lokasinya cukup rawan dan tanahnya cukup gembur. Sehingga jika hujan deras turun lagi, bisa jadi longsor. Oleh karena itu, memutuskan untuk warga yang rumahnya paling rawan dilakukan langkah untuk diungsikan.

“Juga tadi dilakukan pembersihan material longsoran yang menutupi saluran irigasi,” ucapnya. Hal ini untuk sementara bisa menormalkan saluran irigasi tersebut. Selain itu juga memberikan 100 sak kepada masyarakat untuk membuat dinding penahan. Rencananya hari ini akan dilakukan kerja bakti untuk pembangunan dinding penahan dari sak ini. Pihaknya berharap agar tidak terjadi hujan kembali dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. 

(jr/ram/hdi/das/JPR)