Lintas Agama Peringati Haul Gus Dur di Wihara

Masa jabatan presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur memang tak genap lima tahun. Namun, kehadirannya telah memberikan banyak insipirasi tentang arti penting pluralisme. Untuk mengenang tokoh yang dikenang akan canda dan nasihatnya itu, digelar haul sewindu Gus Dur di Wihara Dhammadipa Arama, Kota Batu, kemarin (21/1).

KOTA BATU – Masa jabatan presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur memang tak genap lima tahun. Namun, kehadirannya telah memberikan banyak insipirasi tentang arti penting pluralisme. Untuk mengenang tokoh yang dikenang akan canda dan nasihatnya itu, digelar haul sewindu Gus Dur di Wihara Dhammadipa Arama, Kota Batu, kemarin (21/1).

Sejumlah tokoh lintas agama hadir dalam kegiatan yang diikuti kurang lebih 350 peserta itu. Selain digelar dialog dan refleksi, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan suguhan tari dan menyanyi. Ratusan peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut.

KH Agus Sunyoto yang mewakili tokoh Islam mengatakan, pluralisme yang diajarkan Gus Dur bukan pluralisme dari Eropa. ”Tapi, pluralisme dalam arti kebinekaan Indonesia,” terangnya.

Menurut Sunyoto, nilai-nilai pluralisme sudah ada dan dipraktikkan di nusantara. Dia lantas mencontohkan, pada zaman kerajaan Majapahit ada empat menteri yang mengurusi agama. ”Artinya, di sini agama dihargai betul. Sekulerisme tidak bisa tumbuh. Dan karena itu penindasan etnis satu ke etnis lain, agama satu dengan lain, tidak pernah ada,” kata dia.

Menurut Sunyoto, apa yang diterapkan Gus Dur dengan mengharagai keberagaman juga bersumber dari nilai-nilai pluralisme masa silam. ”Belakangan ini saja muncul kelompok yang kalau tidak sama dengan mereka lantas disebut kafir dan seterusnya. Ini fenomena baru yang harus kita tolak,” kata dia.

Sementara itu, Bhante Jayamedho, tokoh Budha, menyampaikan, pluralisme yang diajarkan Gus Dur adalah prularitas sebenarnya. ”Kemajemukan itu adalah fitrah. Gus Dur menyebut sunatullah. Karena beliau tidak melihat perbedaan yang sikapnya diskriminatif. Beda memang iya, tetapi membedakan dan menganakemaskan itu yang Gus Dur tidak mau,” tegas Jayamedho.

Pria yang cukup mengenal Gus Dur ini merasakan, salah satu aspek penting yang diperjuangkan adalah membela yang tertindas. ”Menurut beliau (Gus Dur), sesungguhnya yang harus dibela itu bukan membela Tuhan, tapi belalah orang yang tertindas atau terpinggirkan,” kata dia.

Hal lain yang masih diingat Jayamedho adalah pesan Gus Dur agar tidak berlaku diskriminatif. ”Gus Dur juga tidak peduli agama kamu apa, suku kamu itu apa. Yang penting apa yang telah kamu perbuat untuk orang banyak orang. Sehingga, orang tidak akan tanya agamamu itu apa,” imbuhnya.

Karena itulah, kebajikan itu lebih utama. Humanisme lebih dari segalanya. ”Kalau kita beragama dengan sungguh-sungguh, ikhlas mengabdi dengan Tuhan, maka humanitas harus menonjol. Bukan karena kita beragama lalu menindas orang lain. Nah, marilah sekarang ini hidup berdampingan, bergandengan tangan untuk menuju kebahagiaan, ketenteraman bersama,” bebernya.

Hal senada juga disampikan Toni Pangcu, salah seorang sahabat Gus Dur. Dia menyebut Gus Dur adalah sosok manusia biasa. ”Gus Dur itu tidak pernah serius, tapi jujur. Artinya, beliau selalu menghadapi dengan tenang. Dia punya padangan bahwa semua orang sama saja di hadapan Allah,” kata dia.

Menurutnya, saat ini banyak orang mengikuti pemikiran Gus Dur, tapi tidak kuat bersikap. ”Beda dengan dia yang tidak peduli mau dimusuhi siapa. Asal dia benar, itu dia jalankan,” ujarnya.

Sementara itu, Romo Ignatius Budiono Ordo Karmel Seluruh Indonesia mengatakan, semangat pluralisme yang disampaikan Gus Dur harus terus dijaga. Dengan begitu, tidak ada lagi konflik yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). ”Sehingga, ada kesadaran bahwa kita semua bersaudara,” kata dia.

Iganasius percaya, jika komitmen menjaga nilai pluralisme tersebut dipegang oleh semua pihak, pelan-pelan akan banyak yang sadar. ”Butuh usaha keras kita bersama untuk mempersatukan semuanya kembali. Dulu, Gus Dur sudah memulai yang baik. Dan ini harus kami teruskan dan tularkan ke generasi muda,” ujarnya.

Pewarta : Aris Dwi
penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Arief Rohman
Foto : Darmono