Lima Srikandi Wasit Sepak Bola PSSI Kota Malang (1)

Sosok Feminin di Olahraga Maskulin

Memimpin pertandingan sepak bola tak hanya butuh fisik prima. Mereka yang menjadi wasit juga harus bermental baja. Lima perempuan tangguh ini sudah membuktikan bisa memimpin pertandingan olahraga maskulin ini.

Lima srikandi itu adalah Margareta Sukma Rosinta Dewi, Hariyati, Novika Ratna Ardiani, Novita Nurcahyu Pratuningsityas, dan Syamsiah Arsad. Mereka adalah wasit yang tergabung di PSSI Kota Malang dan ikut mengawal jalannya turnament sepak bola dan fustal. Mereka telah mengantongi linsensi wasit dan secara legal berhak memimpin jalannya pertandingan.

Yang paling senior adalah Margareta, yang telah mengantongi lisensi wasit sejak 2012. Hariyati menyusul, mendapatkan lisensi pada 2015. Sementara Novika, Novita, dan Syamsiah mulai memimpin pertandingan sejak 2017. Ketiganya adalah wasit muda yang memiliki latar belakang guru olahraga.

Novika mengakui sudah menyukai futsal sejak kelas 5 SD. Dia juga bergabung dengan klub futsal putri sejak 2006. Mendapat dukungan penuh dari keluarga membuat Novika leluasa mengembangkan bakat menggocek bola.

”Lingkungan saya banyak laki-laki. Sempat diarahkan ikut karate, tetapi saya memilih sepak bola,” papar guru SDN 3 Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, itu.



Setelah lulus kuliah di Universitas Negeri Malang, Novika memutuskan mendaftar menjadi wasit. Setelah melewati tes fisik, kesehatan, dan melengkapi persyaratan administrasi lainnya, dia dinyatakan lulus pada 2017 dan langsung mengawal pertandingan di Malang.

Sejauh ini, pertandingan yang dia pimpin selalu lancar. Perempuan kelahiran 21 November 1994 ini juga mengaku tak pernah mendapat perilaku kasar dari para pemain.

”Justru bila kami memberi tahu pelanggaran dan ada yang keliru, pemain manut. Kata mereka, wasit perempuan selalu benar,” jawab alumnus Fakultas Ilmu Keolahragaan ini.

Di sisi lain, Novita juga mengaku menikmati profesinya sebagai wasit. Latihan seminggu sekali selama 4 jam full dia lakoni dengan senang hari. Tiga jam digunakan untuk latihan fisik, sedangkan satu jam berikutnya digunakan untuk evaluasi. Bahkan, kata-kata kasar, makian, dan sebagainya mereka simulasikan saat evaluasi.

”Kami dilatih dan dikasari secara verbal, biar saat di lapangan tidak kaget bila mendengar makian dan kata-kata kasar pemain,” sambung perempuan kelahiran Malang, 9 November 1994 itu.

Di antara wasit perempuan yang lain, guru SDN 1 Sukolilo Malang itu bisa dibilang paling kerap mendapatkan protes dari pemain saat mengambil keputusan. Tetapi, hal itu menurutnya wajar, karena tidak jarang pemain tidak paham aturan pertandingan. Adalah tugas wasit untuk mengarahkan agar pertandingan berjalan lancar dan aman.

”Protes pemain itu wajar saja. Kami jadi merasa dihargai,” tambah perempuan yang juga jago karate ini.

Sementara, Syamsiah Arsad punya cerita berbeda. Perempuan asal Ternate ini mengaku jauh-jauh datang ke Malang khusus untuk mendalami profesi wasit. Banyak hal-hal penting yang dia pelajari selama menjadi wasit di Malang. Menurutnya, selain dituntut kuat secara fisik, wasit juga harus cerdas memahami aturan dan pengetahuan tentang olahraga.

Margareta dan Hariyati pun merasakan adanya apresiasi dan penghargaan bagi wasit perempuan yang memimpin pertandingan. Kehadiran perempuan di arena pertandingan merupakan suansa baru sekaligus penyegaran di dunia olahraga.

”Kami bangga menjadi wasit perempuan. Meski tidak berkulit putih, tanpa make-up, dan penuh keringat, tetapi kami bangga ikut memberi sumbangsih di dunia olahraga,” ujar Hariyati, yang akrab pula disapa Tian.

Pewarta: Elly Kartika
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Elly Kartika