Lima Jam, 250 Penari ”Goyang Ilalang” di Jodipan

MALANG KOTA – Lentiknya jemari yang berpadu dengan gerak gemulai para penari itu terasa pas saat mengiringi irama musik yang rancak. Seolah ingin menembus batas pakem tarian tradisional, para penari itu mengolaborasikan gerak tari tradisional dengan tarian modern yang selaras dengan alam.

Maksudnya selaras dengan alam adalah setiap gerakan yang disuguhkan hasil pengamatan para penari dari alam. Misalnya, gerakan pasir laut, gerakan deru angin, dan gerakan yang menggambarkan goyangan ilalang.

Total ada 250 penari yang beraksi selama sekitar lima jam (pukul 07.00–12.00) di tepi Sungai Brantas, kawasan Kampung Warna-Warni Jodipan, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Para penari itu gabungan dari mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (PSTM UM) semester lima dan seniman senior.

Koordinator acara Dr Robby Hidajat MSn memaparkan, ada beberapa jenis tari yang disuguhkan. Mulai tari Jawa Timur-an, Betawi, hingga Bali. ”Seperti tari remo dari Jatim, aduh manis dari Sunda, dan golek ayun-ayun dari Jogjakarta,” jelas Robby.

Dia menyatakan, aksi mahasiswa menari tersebut merupakan bagian dari kegiatan kuliah. ”Penampilan mereka ini untuk ujian. Tapi, misi terbesarnya ya mendekatkan masyarakat dengan pertunjukan seni,” kata dosen koreografi UM ini.



Robby ingin kreasi tari tidak dinilai hanya di dalam kelas atau acara resmi saja. Menurut dia, masyarakat harus tahu bahwa khazanah tari itu luas dan memiliki makna beragam di setiap gerakannya. ”Kalau mau menari, ya tinggal menari saja. Tari tidak boleh terkungkung oleh pakem atau aturan yang ruwet. Tarian itu bebas. Ibarat kanvas, pelukis bebas menentukan lukisannya,” kata Robby.

Disinggung mengenai pemilihan lokasi di Kampung Warna-Warni Jodipan, Robby beralasan ingin menguatkan nuansa seni di kampung tersebut. ”Kalau tidak ada nuansa seni, suasananya kering. Wisatawan datang hanya untuk foto-foto di mural, kemudian tidak datang lagi,” kata dia.

Robi Fajriansyah, salah satu penari, menampilkan tari baris tunggal. Tarian khas Bali ini dia bawakan dengan mata melotot melihat tajam ke segala arah. ”Tarian ini memiliki filosofi,” katanya.

Dia menceritakan, tarian itu muncul dari semangat untuk mempertahankan wilayah. ”Orang Bali kan biasanya kental akan budaya dan agamanya. Suatu ketika dia (orang Bali tersebut) ingin mempertahankan istananya. Akhirnya dia mempelajari tari ini demi mempertahankan istananya tersebut,” terang Robi.

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan
Fotografer: Falahi Mubarok