Lika-liku Ibu Muda yang Ogah Memberi ASI, Ada yang “Korbankan” si Buah Hati demi Menjaga Bodi

Disambut Gembira, Kini Ibu-Ibu Bebas Menyusui di Mana Saja - JPNN.COM
Disambut Gembira, Kini Ibu-Ibu Bebas Menyusui di Mana Saja

Pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama pasca kelahiran menjadi keharusan bagi ibu zaman now. Namun, tidak sedikit yang menemui kendala dalam proses (maaf) menyusui si buah hati. Bertepatan dengan Hari ASI Sedunia yang jatuh pada 1 Agustus ini, Jawa Pos Radar Malang mengungkap jumlah bayi di Malang Raya yang tidak mendapat ASI eksklusif. Apa risiko dan penyebabnya?

PEREMPUAN berambut panjang sepunggung itu tampak galau. Ditemani suaminya, dia berjalan gontai memasuki ruang poli bayi di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) pada akhir Juli 2018. Ibu dua anak itu mengaku ada yang aneh dengan perasaannya. Usai melahirkan anak keduanya, dia enggan merawat sang buah hati. Bahkan, dia tega membiarkan bayinya yang belum genap sebulan itu menangis beberapa puluh menit.

”Sebelumnya, saya sudah berkonsultasi kepada psikolog. Katanya, saya mengalami baby blues,” ujar Sandra Dewi, 31, warga Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, itu setelah keluar dari ruang poli bayi.

Penggalan cerita di atas merupakan sindrom ”baby blues”. Di mana, sindrom ini merupakan salah satu alasan kenapa ibu-ibu muda yang baru dikaruniai momongan enggan memberikan air susu ibu (ASI)-nya kepada bayi yang baru saja dia lahirkan. Bagi perempuan, menyusui umumnya merupakan kodrat yang wajib dijalani. Namun, taukah Anda tidak semua perempuan bisa menerima takdir wajib menyusui anaknya yang baru dilahirkan dengan ASI? Jawabnya pun beragam. Mulai dari rasa khawatir perubahan fisik tubuhnya nanti bakal tak menarik lagi hingga mengalami sindrom ”baby blues” seperti yang dijelaskan dalam story di atas.

Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang di lapangan, ada 21 kasus laktasi (problem seputar menyusui) dari total 67 pasien yang ditangani Poli Neonatologi (Poli Bayi) RS Saiful Anwar (RSSA) Malang selama sebulan terakhir.



Konselor Poli Neonatologi RSSA dr Brigitta Ida Resita Vebrianti Corebima SpA(K) MKes memaparkan, mayoritas kasus laktasi dialami ibu-ibu yang melahirkan bayinya secara prematur. ”Urutan kedua baru sindrom baby blues. Sedangkan penyebab lainnya karena kondisi fisik si ibu,” ujar dokter spesialis anak itu.

Kondisi fisik yang dimaksud Brigitta misalnya, payudara si ibu tidak mengeluarkan ASI dikarenakan terlalu rapatnya kelenjar susu. Bisa jadi dipicu putingnya lecet atau luka. Sedangkan untuk gangguan laktasi pada bayi prematur karena bayi belum memiliki kemampuan mengisap dan menelan ASI. Secara tidak langsung, kondisi bayi yang prematur membuat ibu menjadi stres, akibatnya ASI-nya tidak keluar.
Brigitta mempunyai solusi bagi ibu-ibu yang mengalami gangguan laktasi. Beberapa pasiennya diminta berkunjung beberapa kali dalam sehari bertemu bayinya. Tujuannya untuk melatih agar dapat memproduksi ASI.
”Kami mengenalkan metode kanguru. Caranya membuat kontak kulit antara bayi dengan ibu,” kata perempuan berusia 39 tahun ini.

Teknisnya, si ibu diminta berbaring maupun duduk. Sementara posisi bayi ditidurkan di atas dadanya. Bayi tersebut diarahkan mencari letak ASI dan perlahan-lahan biarkan bayi mengenal rasa ASI. ”Cara ini harus diulangi beberapa kali dalam sehari,” ucap dokter yang menamatkan ilmu neunatologinya di Universitas Indonesia (UI) ini.

Menurut dia, penanganan laktasi pada bayi prematur lebih rumit daripada baby blues. Beberapa kali ibu yang sudah melakukan kontak fisik gagal mengeluarkan ASI. Atau ketika ASI-nya keluar, bayinya belum bisa menyusu dengan baik. ”Ini jadi masa-masa stres bagi ibu. Kala ASI-nya lancar, gagal menyusui bayinya,” tambah Brigitta.

Sementara baby blues, ada penanganan psikis dan dukungan suami untuk membuat kondisi psikis ibu lebih baik. Sesudahnya, konselor laktasi akan mengarahkan pasien agar bisa menyusui dengan benar.

Lantas, bagaimana kasus gangguan laktasi di Kota Malang? Mayoritas bayi di Kota Pendidikan ini sudah mendapatkan ASI eksklusif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat, dari 12.494 bayi yang ada di lima kecamatan, hanya 3.498 bayi yang mendapat ASI, tapi tidak eksklusif. Artinya, mendapatkan ASI, tapi juga diselingi susu formula.

Sementara di Kota Batu, ada 2.390 bayi. Sebanyak 653 bayi di antaranya mendapatkan ASI, tapi diselingi susu formula. Untuk bayi yang sama sekali tidak mendapatkan ASI tidak teridentifikasi. Demikian juga di Kabupaten Malang, ada 37.836 bayi, tapi tidak teridentifikasi berapa bayi yang tidak mendapatkan asupan ASI eksklusif.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi MM mengimbau agar para ibu tetap memberikan ASI kepada anaknya. ”Nggak ada (susu formula) yang kualitasnya lebih baik dari air susu ibu (ASI),” kata Asih.

Disinggung mengenai adanya ibu-ibu yang mengalami gangguan laktasi, Asih memberikan tip. Menurut dia, bayi yang baru lahir sebaiknya tidak perlu dimandikan dulu. Namun, bibirnya dikenalkan dengan (maaf) puting ASI ibunya.

Karena aroma puting ASI itu seperti halnya aroma ari-ari bayi. ”Makanya kalau ada bayi lahir langsung sama dokter dibiarkan ’meluk’ ibunya,” ujar dia.

Asih menyebut, ada beberapa keunggulan memberikan ASI jika dibandingkan susu formula. ”Suhu ASI sudah sesuai suhu tubuh si bayi. Ini kuasa Ilahi. Kalau susu formula ada bahan kimianya sehingga belum tentu dibutuhkan si bayi,” kata pejabat eselon II Pemkot Malang itu.
Alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu juga menyebut beberapa faktor yang mengakibatkan si bayi tidak mendapat ASI. Salah satunya, si ibu enggan memberikan ASI karena takut tubuhnya tak menarik lagi. ”Menyusui mengakibatkan tubuh tidak ideal dan tak cantik lagi, itu mitos. Ingat, kebutuhan buah hati harus menjadi nomor satu,” kata dia.

Lalu, bagaimana dengan wanita karir yang terikat dengan jam kerja kantor sehingga tidak bisa menyusui si buah hati? Kepala Seksi Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Malang Meifta Eti Winindar memaparkan, perempuan karir bisa memanfaatkan cara penyimpanan ASI dipompa. Prinsip penyimpanan ASI bisa tahan 6 jam dengan suhu ruang sekitar 250C, 24 jam dengan box pendingin (ice pack), 5 hari disimpan di dalam lemari pendingin, dan 6 bulan dengan freezer bersuhu sekitar 180C. ”Wanita karir bisa menyetok ASI untuk buah hatinya agar hak bayi tetap terpenuhi,” ungkap alumnus FK UB ini.

Penelusuran wartawan koran ini dari berbagai sumber menyebutkan, bayi yang tumbuh tanpa ASI berisiko terjangkit beberapa penyakit. Di antaranya, obesitas, rentan terinfeksi, sehingga gampang alergi, manja, dan tidak mandiri, menurunkan kecerdasan otak, kurang gizi, kerusakan gigi (karies gigi), dan gampang marah saat dewasa.

Di lain pihak, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang dr Abdurrachman menyampaikan, pihaknya telah melakukan beberapa upaya guna meningkatkan kesadaran ibu memberikan ASI eksklusif pada bayinya. ”Dari aspek legal sudah ada perda tentang kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak (KIBBLA). Di dalamnya memuat tentang anjuran agar ibu memberikan ASI eksklusif pada bayinya,” ujar Abdurrachman.
Kedua, yakni ketersediaan tenaga kesehatan yang telah dibekali dengan pelatihan inisiasi menyusui dini (IMD). ”Semua petugas kesehatan dan bidan sudah kami latih,” ujar Abdurrachman.

Selain itu, dinkes juga mendorong pembentukan kelompok pendukung kesehatan ibu dan anak (KPKIA) yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Malang.

Terpisah, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Batu Afifa Anggraini SST menyatakan, pemenuhan ASI eksklusif di Kota Batu masih di bawah target. ”Target dari kami tahun lalu 80 persen. Tapi, capaiannya hanya 72,7 persen,” katanya.

Pewarta: Octo, Farik Fajarwati, Imam Nasrodin
Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan