Lewati Kota Tua, MRT Fase 2 Harus Dibangun Hingga Kedalaman 20 Meter






JawaPos.com – Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) fase 2, Bundaran HI- akan dimulai Desember nanti. Pihak UPK Kota Tua tengah berkoordinasi dengan PT MRT Jakarta agar dapat memperhatikan proyek pembangunan yang melintasi cagar budaya.





Kepala UPK Kota Tua Norviadi S Husodo menjelaskan, proyek dengan panjang 8,3 km tersebut memang akan melintasi Kota Tua. Namun tidak secara langsung mengenai pondasi bangunan-bangunan bersejarah.





“Fase 2 MRT memang rencananya kan lintas ke Kota Tua lurus tuh. Setelah mendapatkan saran dari tim ahli cagar budaya, di kawasan Kota Tua pembangunan harus berada di bawah kedalaman 20 meter lebih. Supaya tidak merusak pondasi-pondasi kawasan cagar budaya yang di sana gedung-gedungnya,” terangnya kepada JawaPos.com, Sabtu (27/10).





Nantinya, lanjut Norvi, titik dekat stasiun memang sengaja dibelokkan ke arah kanan yaitu arah Glodok atau Timur. Lalu, arah Utara akan direncanakan menjadi stasiun terakhir yaitu Stasiun Kampung Bandan. Dengan kata lain, tidak secara langsung menerobos pondasi di bawah kawasan Kota Tua.





“Ini kan lewat bawah, jadi di bawah pondasinya tidak akan tersentuh karena menurut ahli cagar budaya, arkeolog UI pondasi berada di kedalaman 1-15 meter sehingga MRT harus jauh di dalamnya lagi jadi nggak ngerusak,” terang Norvi.





Norvi menyambut baik koordinasi yang dilakukan PT MRT Jakarta dengan Dinas Cipta Karta Tata Ruang. Selain itu, pertemuan tersebut menghadirkan arkeolog untuk melakukan penelitian pendahuluan terkait kajian kedalaman tanah, kemungkinan ada temuan cagar budaya di dalam tanah.






“Informasi memang fase 2 di Bundaran HI sampai Kota Tua mulai Desember. Diperkirakan kalau itu sampai tiga bulan setelah Desember masuk pembangunan ke kota Tua kayaknya, kalau perhitungan kasarnya begitu ya,” ungkap Norvi.






Lebih lanjut, Norvi mengakui pihaknya telah memberikan catatan dan masukan agar tidak merusak bangunan cagar budaya. Untuk jalur yang horizontal ada di kedalaman 20 meter ke bawah sedangkan titik yang vertikal akan dilakukan penelitian pendahuluan.





“Ya itu yang mau dijadikan halte atau terminal transitnya apakah ada temuan cagar budaya atau tidak. Kalau diduga ada temuan cagar budaya, ya titiknya kita geser sedikitlah,” pungkasnya.





(rgm/JPC)