Lestarikan, Learn It, Love It !

Tari Topeng sendiri merupakan perlambangan sifat manusia tuh, Zetizen. Lihat saja, banyak sekali model topeng yang menggambarkan ekspresi manusia seperti tertawa, menangis, sedih, dan sebagainya.

Tari Topeng sendiri merupakan perlambangan sifat manusia tuh, Zetizen. Lihat saja, banyak sekali model topeng yang menggambarkan ekspresi manusia seperti tertawa, menangis, sedih, dan sebagainya.

Kota Malang tidak hanya memiliki banyak tempat yang dapat dikunjungi sebagai tempat wisata, tetapi juga memiliki banyak hal menarik yang bisa diexplore. terutama tradisi, kebudayaan, dan kesenian.

Salah satu kesenian yang khas dari Kota Malang ialah beragam tarian tradisional. Sebut saja Tari Beskalan, Tari Remo, Tari Bedayan Malang, Tari Grebeg Wiratama dan Tari Topeng Malangan.

Tari Topeng sendiri merupakan perlambangan sifat manusia tuh, Zetizen. Lihat saja, banyak sekali model topeng yang menggambarkan ekspresi manusia seperti tertawa, menangis, sedih, dan sebagainya. Tarian yang diperkirakan muncul awal abad ke-20 ini biasanya ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal.

Tapi sayangnya, di jaman yang sudah semakin maju ini, tarian tradisional cenderung ditinggalkan dan dilupakan. Zetizen sendiri pastinya nggak banyak nih yang mengambil ekstrakurikuler atau UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) tari tradisional, ngaku deh! Hehehe.

Padahal nih Zetizen, asal kalian tahu aja, banyak banget pelajar bahkan wisatawan luar negeri yang tertarik dengan kesenian kita satu ini. Usut punya usut, tari tradisional Indonesia menjadi salah satu objek studi di banyak negara, lho!

Nah, mereka aja tertarik, suka, dan ingin mempelajari kesenian kita. Jangan sampai deh Zetizen, suatu saat justru malah kita, generasi muda Indonesia, mempelajari kesenian budaya di negeri orang. Malu dong! So, nggak ada salahnya kalian mencoba dan mempelajarinya. A dance has its own meaning.Then trust me, when you try to learn it, you will love it even more!

Pewarta: Zetizen Radar Malang
Penyunting: Lizya Oktavia
Foto: Zetizen Radar Malang