Lepas Saham ke Publik, Gunung Raja Raih Dana Segar Rp 1,03 Triliun

JawaPos.com – Pasar modal tetap menjadi salah satu tumpuan perusahaan mencari dana murah untuk melakukan ekspansi bisnis. Terakhir, dilakukan PT Gunung Raja Paksi Tbk dengan melepas sebanyak 1,2 miliar lebih saham dengan harga penawaran Rp 840 per saham. Lewat aksi korporasi ini, emiten yang bergerak di industri baja ini meraih Rp 1,03 triliun

“Dana hasil IPO sekitar 99,52 persen akan akan digunakan untuk pelunasan hutang dalam rangka pembelian aset tetap dan biaya operasi, dan sekitar 0,48 persen akan digunakan untuk tambahan modal kerja,” ujar Alouisius Maseimilian, Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi Tbk dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (19/9).

Dia berharap produktifitas perseroan terus dapat ditingkatkan ke depannya guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang masih cukup luas. Menurutnya, pemain industri baja di Indonesia masih memiliki peluang yang sangat luas untuk bertumbuh, mengingat konsumsi baja per kapita Indonesia masih cukup rendah. Kapasitas produksi baja domestik masih belum bisa memenuhi permintaan, sehingga membuat Indonesia masih melakukan impor baja.

Indonesia memiliki pertumbuhan GDP rata-rata 2018 sekitar 5,17 persen per tahunnya dan triwulan 1 tahun 2019 sekitar 5,07 persen. Dengan adanya pertumbuhan ini, konsumsi baja per kapita ikut bertumbuh. Ini menunjukan bahwa Indonesia memiliki prospek usaha yang tinggi karena memiliki tingkat konsumsi yang berpotensi bertambah menyamai negara-negara tetangga di masa mendatang. Selain itu dengan meningkatnya anggaran infrastruktur akan mendorong konsumsi baja nasional.



Menurut data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), konsumsi baja per kapita Indonesia paling rendah di antara negara Asean. ini menunjukan bahwa Indonesia memiliki prospek usaha yang tinggi karena memiliki tingkat konsumsi yang berpotensi bertambah menyamai negara-negara tetangga di masa mendatang.

Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau IISIA dan SEAISI memperkirakan konsumsi baja di indonesia akan meningkat dari 57 kg per kapita di 2018 menjadi 84 kg per kapita di 2020. target tersebut dapat tercapai mengingat Indonesia akan menikmati dampak berkelanjutan dari pembangunan termasuk pengembangan infrastruktur yang telah berjalan semenjak tahun 2015.

Menurut sumber SEAISI 2018, produksi baja nasional tumbuh signifikan sebesar 27,3 persen dari 7,8 juta mt pada 2017 menjadi 10 juta mt pada 2018. Akan tetapi, hal ini masih belum cukup mengingat konsumsi baja nasional yang mencapai 15,08 juta mt pada 2018. Selisih yang cukup besar ini pun akhirnya dipenuhi melalui impor dan membuat indonesia menjadi negara net importir baja terbesar ke-4 di dunia, di bawah Amerika Serikat, Vietnam, dan Thailand.

Dengan fakta tersebut, maka sangat diharapkan peran serta pelaku industri baja nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi baja sehingga dapat mengurangi ketergantungan baja dari negara-negara eksportir baja seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Editor : Mohamad Nur Asikin