Lega, setelah Lolos Lewati Jebakan Rumput Onta (3)

Empat Hari, 900 Kilometer; Menjajal Jalur Ekstrem Paris-Dakar di Gurun Sahara (3)

JAM menunjukkan pukul  08.30. Kami para rider sudah  siap mengikuti briefing untuk
melanjutkan perjalanan. Motor-motor kami pun dalam  kondisi siap karena semua su-
dah diperiksa mekanik asli Maroko, Mr Hussein. Dia ini tugas utamanya sebagai mekanik. Tapi, dia juga multitasking. Dia
pula yang mengurusi semua kebutuhan para rider. Mulai penginapan, makan, dan kebu-tuhan lainnya.

Dari briefing, kami ketahui bahwa hari ini kita mulai masuk jalur legendaris Paris-Dakar, di daerah Ousina. Dan dari sini, kami harus mengisi bahan bakar sebanyak 5 kali, untuk
berjaga-jaga, karena di gurun sangat jauh dari stasiun pengisian bahan bakar.

Dari penginapan, kami langsung masuk jalur aspal kurang lebih 10 kilometer. Kemudian masuk jalur gravel berpasir, kurang lebih 20 kilometer, lalu keluar ke jalan aspal untuk
kembali mengisi bahan bakar di SPBU. Dari SPBU, kami langsung tancap gas memasuki jalur hard penuh batu lepas yang bergantian jatuh di jalur ini.  Karena batu lepas memang sulit untuk bisa diprediksi. Menjaga gas agar tetap konstan adalah kunci melewati jalur dengan tipe ini, sekaligus memastikan motor kita tidak stag (berhenti) di tanjakan. Karena jika ini terjadi, butuh usaha keras untuk memperbaikinya.

Selesai ujian menghadapi batu lepas, kami memasuki gurun sahara yang masih men-
jadi bagian dari Pegunungan Atlas yang mempesona. Tipikal Sahara berpasir dan berkerikil, diselingi dengan rumput  onta (camel grass), dan sedikit  pepohonan. Di sini jalurnya bertipikal open track yang mem-
butuhkan kewaspadaan tinggi. Kecepatan yang disarankan maksimal 60 kilometer per jam.  Rumput onta yang sepintas lembut, ternyata sebuah jebakan yang harus diwaspadai. Mutlak  kecepatan harus diturunkan ketika melewatinya. Jika tidak, hampir dipastikan akan jatuh. Dan jatuh adalah hal biasa dalam berkendara. Terutama berkendara motor trail den-
gan jalur off road.

Berkendara dengan motor trail menurut saya jauh lebih aman daripada berkendara di jalan raya. Karena dengan menggunakan motor trail, rata-rata mental kita sudah
siap untuk jatuh dari motor dan  kita pun sudah siap dengan safety gear (perlengkapan safety) yang terpasang di badan kita.

Jalur Gurun Sahara memaksa  kita waspada. Selepas dari melewati dataran  luas, kami tiba di tempat makan siang bernama Auberge Camping Oasis. Ini adalah restoran
sederhana di tengah Sahara yang hanya buka jika ada pemesanan. Di samping sebagai tempat makan, restoran ini seka-
ligus sebagai tempat istirahat dan salat. Oleh Mr Hussein, saya dikenalkan kepada pemilik restoran yang antusias menyambut,
begitu tahu kami dari Indonesia. Dan menurut mereka, baru kali ini ada orang Indonesia mampir di restoran itu.

Salat di restoran itu, tempatnya ala kadarnya. Tidak sebersih dan serapi saat di tanah air. Dengan terpaksa, salatnya tidak pakai alas. Hanya beralaskan tanah. Makan siang di restoran itu diisi dengan roti maryam, khas Arab Afrika. Jangan tanya rasanya. Karena di sini tak seperti dunia belahan timur yang kaya akan rempah. Sehingga semua makanan rasanya hambar.

Jam menunjukkan pukul 1 siang. Kami bersiap untuk berangkat. Langsung tancap gas menuju medan berbatu. Kecepatan wajib dipelihara rendah, dengan posisi di gear 2 atau 3.Tak berapa lama kami mulai memasuki medan gunung berpasir. Hampir saja kejadian fatal menimpa saya karena ketidaksiapan saya. Di depan ada jalur terputus setelah melewati gundukan pasir setinggi 2 meter. karena kecepatan tidak bisa tinggi, maka yang menyentuh tanah lebih dulu adalah roda depan. Sehingga bisa ditebak, hasilnya ketidakseimbangan waktu mendarat. Beruntung saya tetap tenang dan alhamdulillah selamat.

Sejenak di tempat ini, kami menikmati pemandangan berpasir. Kemudian kami harus menyeberangi sungai. Ternyata di seberang sudah ada antrean utility vehicle (UTV) dan mobil off road yang akan menyeberang. Mereka melakukan survei kedalaman untuk safety. Mereka mempersilakan kami untuk menyeberang lebih dulu di jalur ”safety” mereka. Setelah
berbasa-basi dengan mereka, sejenak kami melanjutkan perjalanan. Tak sampai 10 menit dari sungai kami menjumpai satu perkampungan kecil bernama Remlia, di mana terdapat beberapa Kasbah. Yakni rumah tradisional Maroko.

KHAS: Warga perkampungan Ramlia, saat menghidangkan teh asli Maroko kepada peserta touring.

Di sini kami istirahat sejenak untuk mengisi bahan bakar. Teh asli Maroko dihidangkan sebagai sambutan dan keramahan. Ada
satu hal yang menarik perhatian saya, yakni topi yang dikenakan oleh penyaji teh asli Maroko itu. Topi itu disebut cache. Sebuah
topi suku nomaden penghuni Sahara yang tak lain dan tak bukan adalah suku Toureg yang legendaris. Saking legendarisnya suku
Toureg dengan topi ini pula yang menjadi simbol rally Paris-Dakar. Suku Touregjuga menjadi simbol dari kekuatan, pengembaraan, dan keperkasaan, sehingga ada tipe kendaraan dinamakan Toureg untuk merepresenta-sikanya. Panjang topi ini (baca surban, Red) adalah 7 meter dan
multifungsi. Selain untuk menahan dingin dan panas, berfungsi juga sebagai penahan badai debu Sahara. (bersambung/web-
site:hericahyono.com)