Lebih Dekat Dengan Layanan Brexit Puskesmas Janti yang Jadi Satu-satunya Di Indonesia

KOTA MALANG – Sejak masuk Puskesmas yang berada di Jalan Janti Barat, Kota Malang ini, berbagai alat pembantu disabilitas sudah terlihat. Mulai dari papan nama ruangan yang dilengkapi huruf Braille, huruf bantu raba bagi tuna netra di dinding hingga Braille E-Ticketing Extraordinary Innovation (Brexit), inovasi yang pertama kali ada di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Kemendagri.

“Brexit ini aplikasi pertama dan satu satunya di Indonesia,” papar Kepala Puskesmas Janti, Endang Listyowati, SKepNs MMKes. Tugas Brexit adalah mempermudah antrian bagi penyandang disabilitas netra dengan cara menaruh huruf braille yang ada di tiket antrian.

Masuk ke Puskesmas, terdapat karpet berwarna merah untuk menuju ruang pemeriksaan maupun ruang tunggu ramah disabilitas. Selanjutnya, ada guiding block. “Fasilitas ini berperan sebagai jalur penuntun dan petunjuk bagi disabilitas khususnya tuna netra,” tambah Endang. Caranya, puskesmas Janti menggunakan ubin berwarna kuning dengan garis lurus dan bertekstur bulat.

Wali Kota Malang, Sutiaji bahkan menyebut inovasi ini sebagai inovasi kefarmasian yang ramah disabilitas. “Bisa dibilang ini sebagai sarana penunjang yang menjembatani keterbatasan penyandang disabilitas netra untuk melihat aturan minum obat yang diupayakan mampu meminimalisir risiko dalam kesalahan minum obat bagi pasien penyandang disabilitas,” ungkap Endang.

Inovasi ini jelas menunjukkan adanya kesetaraan kesempatan bagi penyandang disabilitas dengan segala keterbatasannya untuk dapat sama sama memiliki layanan kesehatan secara penuh tanpa terkotak dan dibedakan.



Dalam mewujudkan pelayanan yang bermutu dan terjangkau sesuai misi ramah disabilitas netra, terobosan inovatif bagi penyandang disabilitas ini tentu akan terus diupayakan inovasi bagi semua jenis disabilitas. “Kita akan berproses, Insyaallah 2019 akan ada bantuan untuk semua jenis disabilitas,” harapnya.

Puskesmas Janti juga memiliki handrail untuk pasien cacat fisik sampai sistem antrian layaknya di bank. “Jadi menggunakan suara kan pasien tuna netra bisa tahu nomor antriannya dipanggiil melalui suara,” tutup dia.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Elfran Vido
Penyunting : Fia