Lawan Norma Sosial, Perempuan Mesir Parkour di Jalanan | JawaPos.com

Lawan Norma Sosial, Perempuan Mesir Parkour di Jalanan | JawaPos.com

JawaPos.com – Meloncat ke sana ke mari merupakan ciri khas dari parkour, bahkan pemain parkour bisa meloncat dari satu tembok ke tembok lain. Olahraga ini biasanya dilakoni oleh mayoritas laki-laki namun lain halnya dengan di Mesir, kini kelompok perempuan dengan lincah melakukan parkour di jalan-jalan Mesir.

Mereka melakukan latihan fisik yang cukup berat dengan memanjat dinding dan melompat-lompat. Parkour awalnya didirikan di Perancis pada 1980-an sebagai Art du Deplacement dan kemudian mengambil namanya dari kata Perancis ‘parcours’ yang berarti kursus dan rute.

Selain melompat dan mengandalkan kemampuan fisik yang mumpuni, parkour juga melibatkan gerakan akrobatik saat melalui medan-medan pijakan mereka. Sepuluh perempuaan yang tergabung dalam kelompok tersebut melakukan latihan rutin setiap minggu selama enam bulan terakhir untuk membentuk tim parkour profesional pertama di Mesir.

Di Mesir aturan bagi perempuan masih ketat (The Jerusalem Post)

Namun sayangnya Mesir masih menganggap perempuan yang melakukan kegiatan tersebut di jalan-jalan masih dipandang sebelah mata karena tidak sesuai dengan adat di sana. Perempuan masih dinilai rendah termasuk untuk melakukan olahraga bersama komunitas terbuka.



“Wajar jika orang tidak menerimanya karena mereka tidak terbiasa. Mereka tidak menerima gagasan bahwa perempuan bisa olahraga, apalagi di jalan,” ungkap salah satu pemain parkour Zayneb Helal seperti dilansir Reuters.

Kelompok parkour perempuan tersebut dipandu oleh pelatih mereka Mohamed Omran. Menurut Omran setelah mereka sering berlatih di jalan banyak perempuan lain yang berminat untuk bergabung bersama timnya.

Kelompok Parkour Egypt yang terdiri dari laki-laki dan perempuan bahkan telah memiliki banyak anggota. Tahun lalu Inggris menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui parkour sebagai bagian dari cabang olahraga.

(trz/JPC)