Lawan Lupa, Berdirilah Omah Munir

KOTA BATU – Kegigihan Munir Said Thalib dikenang dengan didirikannya museum Omah Munir. Museum itu tidak hanya untuk menyimpan beragam koleksi yang dulunya dipakai Munir, tapi juga menjadi ruang untuk melawan lupa terhadap kasus-kasus hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Omah Munir didirikan pada 8 Desember 2013 di rumah pribadi Suciwati yang berlokasi di Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu. Kehadirannya menjadi yang pertama di Indonesia. Yakni, dalam hal koleksi maupun tema yang mengangkat masalah-masalah HAM.

Omah Munir menyimpan ragam koleksi pribadi almarhum Munir. Kisah-kisah perjuangannya sejak mengawali karir sebagai pengacara di kantor LBH Malang dan Surabaya hingga akhir hidupnya di Jakarta dalam beragam aktivitas kerja yang dilakukan.

Salma Safitri Rahayaan yang menjadi direktur eksekutif Omah Munir sejak Oktober 2014 itu menyebutkan, museum ini menggunakan teknik audio visual. Hal itu untuk menampilkan pesan-pesan sederhana tentang unsur-unsur penting HAM. Satu layar televisi di sudut ruang menampilkan ilustrasi gambar kartun tentang hak-hak dasar. Selain itu, ada kliping berita media cetak tentang perjuangan HAM. Ada juga dinding yang memajang seni poster kepala Munir dengan berbagai macam warna. Sosok tersebut, menurut Fifi, menjadi simbol dari beragam demonstrasi di Indonesia. Poster itu menggunakan kutipan-kutipan kata-kata Munir.

”Kita lebih takut terhadap ketakutan sendiri, karena ketakutan menghapus nalar intelektualitas,” tutur Fifi mengucapkan kata-kata Munir.

Benda-benda milik munir, seperti pakaian dan sepatu olahraga, menjadi daya tarik bagi pengunjung museum. Ada kaus dengan label sederhana menunjukkan kaus favoritnya di rumah. Saat ini, kaus itu dipajang di salah satu sudut museum, bertuliskan ’Burma-ASEAN’s Shame. Terlihat juga jaket lusuh yang sering dikenakan Munir saat mengendarai motor. Jaket antipeluru yang digunakan Munir dalam penyelidikan kekerasan di Timor Leste juga terpajang rapi.

Ada enam orang yang menjaga dan merawat semua koleksi museum Omah Munir. Biaya operasional Omah Munir berasal dari dari penjualan kopi dan merchandise di kafe Omah Munir. Pengunjung yang ingin masuk Omah Munir tak dipungut biaya.

Pemasukan lain berasal dari donasi semua kalangan. Banyak musisi dan seniman yang rela menyelenggarakan penggalangan dana untuk museum ini.

Pewarta: Bahrul Marzuki
Penyunting: Ahmad Yahya
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono