Lavalette

Rumah sakit ini ada di tengah kota. Lanskapnya bagus. Green. Cukup ideal untuk para pasien beristirahat selama proses penyembuhannya. Fasilitas penunjang medisnya memadai. Para dokter dan paramedisnya rata-rata ramah. Di sana ada masjid, yang imam salatnya stand by lima waktu. Dan setiap selesai salat, selalu mengajak para jamaah untuk berdoa. Khusus mendoakan kesembuhan bagi para pasien, dan kesabaran bagi keluarga pasien yang ada di rumah sakit tersebut.

Kalaupun namanya tetap digunakan Lavalette, sebuah nama yang diambil dari pendiri rumah sakit itu, tentu punya alasan. G. Chr Renardel de Lavalette, memang orang Belanda. Tapi, dia dikenal sebagai sosok yang setia pada pengabdian kesehatan masyarakat. De Lavalette juga dikenal sebagai aktivis sosial, selain juga sebagai pengusaha perkebunan di Banduarjo, Kepanjen, sejak 1889. Pernah menjadi anggota dewan kota Malang dan anggota kehormatan Societeit Concordia. Jiwa sosialnya tinggi.

Sehingga, jika akhirnya nama Lavalette tetap dipertahankan menjadi nama rumah sakit itu, menurut saya, cukup kuat alasannya. Bahkan, harus tetap dipertahankan nama Lavalette sebagai pengingat sejarah. Paling tidak, untuk mengingatkan kepada kita, bahwa rumah sakit itu ada sejak zaman Belanda. Selain nama Lavalette kala itu sudah telanjur populer di masyarakat, sejak masih berbentuk klinik yang beroperasi mulai 9 Desember 1918.

Dua kali saya merasakan bermalam beberapa hari di RS Lavalette. Pertama, saat mendampingi anak. Kedua, saat mendampingi istri. Kami memilih Lavalette, selain aksesnya lebih dekat dengan rumah, juga dekat dengan berbagai tempat di pusat kota.


Selain itu, saya suka dengan view pertamanan yang ada di antara kamar-kamar rawat inap. Pohon-pohon yang menjulang tinggi. Terawat. Dan menyejukkan. Menunggu pasien yang sedang terbaring sakit, bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi, ketika melihat yang hijau-hijau, tanaman yang rindang, taman yang terawat, setidaknya bisa mengimbangi kebosanan saat harus bermalam di rumah sakit.

Saya juga merasakan ada sisi religius yang kuat di RS Lavalette. Saya pernah datang di pengajian umum yang diadakan rumah sakit itu, yang menghadirkan KH Anwar Zahid.  Kiai yang populer di YouTube itu. Kiai yang jam terbang ceramahnya cukup tinggi itu. Kiai yang kalau mengundangnya harus antre rata-rata tiga tahun itu.

Dan ketika acara pengajian itu digelar di RS Lavalette, pelayanan kepada pasien relatif tidak terganggu. Padahal, acara pengajian dilaksanakan di dekat UGD. Saya membayangkan, betapa repotnya karyawan, dokter, dan paramedis di rumah sakit itu, ketika acara pengajian dilaksanakan.

Harus berbagi tugas, antara menyukseskan pengajian, dan melayani pasien. Tapi, dua kepentingan itu, saya melihat bisa berjalan beriringan. Pararel. Pengajian yang begitu banyak dijubeli jamaah berlangung sukses dan gayeng. Sedangkan pelayanan kepada pasien juga berjalan seperti biasa. Seperti ini, jika tidak dilandasi dengan spirit religiusitas, menurut saya, tidak akan bisa.

Rumah sakit menurut saya, memang harus kuat spirit religiusitasnya. Orang yang sakit itu, sesungguhnya berada di antara hidup dan mati. Dan rumah sakit adalah salah satu perantara Tuhan untuk menyembuhkan pasien yang sakit, melalui pelayanan di rumah sakit itu. Melalui dokter-dokter di rumah sakit itu. Melalui paramedis di rumah sakit itu. Dan melalui obat-obatan serta peralatan medis yang ada di rumah sakit itu.

Ketika rumah sakit sangat kuat spirit religiusitasnya, diharapkan akan mengundang kesembuhan bagi pasien. Dan kesembuhan adalah prerogatifnya Tuhan. Dialah zat yang maha menyembuhkan.

Psikolog terkemuka abad 20, Carl Gustav Jung pernah mengatakan, ”Dari sekian banyak pasien yang saya hadapi, tak satu pun dari mereka yang problem utamanya bukan karena pandangan religius. Dengan kata lain, mereka sakit karena tidak ada rasa beragama dalam diri mereka. Apalagi semuanya sembuh setelah bertekuk lutut di hadapan agama” (Ihsan, 2012: 9).

Saya berharap, spirit religiusitas yang sudah tertanam di RS Lavalette, terus ditingkatkan. Lavalette tidak hanya menjadi simbol religiusitas. Tapi berharap juga menjadi simbol kebhinnekaan dan simbol pluralitas. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)