Laut Tercemar Akibat Tumpahan Minyak Makin Luas

Laut Tercemar Akibat Tumpahan Minyak Makin Luas

“Berdasar data satelit 5 April 2018, area terdampak pencemaran sudah 20 ribu hektare,” kata Ricky, koordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak Wilayah Kerja Balikpapan, kepada Jawa Pos kemarin (8/4).

Ricky menjelaskan, berdasar hasil kunjungan ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan beberapa titik sampling, kualitas air masih buruk bagi kelangsungan hidup ikan.

Petugas Pertamina mengecek kondisi air di sekitar Teluk Balikpapan, pasca kebakaran Sabtu (31/3) lalu.
(M Najib/Kaltim Post/Jawa Pos Group)

Oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) di sekitar perairan teluk masih berada pada skala 3-4. Padahal, idealnya DO harus berada pada skala lebih dari 5 agar layak bagi ikan.

Selain itu, keasaman (pH) air masih rendah. Berada pada skala 4-5. Padahal, baku mutu air yang ideal 7-8,5. “Air dalam kondisi tercemar terbukti dengan masih terlihatnya lapisan film,” kata Ricky.

Dengan kondisi air seperti itu, lanjut dia, ikan secara alami akan memilih tidak berenang masuk ke lokasi bekas cemaran. “Hal ini menjawab kenapa tidak ditemukan kematian ikan secara masal,” jelasnya.

Dengan kondisi itu pula, lanjut Ricky, para nelayan akan semakin sulit menangkap ikan di sekitar teluk. Di antara beberapa alat tangkap yang sering digunakan seperti pancing rawai, rinta, longline, fish trap (belat/selo), gillnet, bubu kepiting, serta trammel net, hanya pancing yang bisa beradaptasi dengan kondisi. “Pancing bisa berpindah lokasi dengan mudah, kalau yang lain kan digunakan di dekat pantai dan mangrove,” tuturnya.

Meski demikian, Ricky dan seluruh anggota tim survei dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum bisa memastikan layak tidaknya konsumsi ikan di perairan teluk. “Masih harus dicek secara berkala,” katanya.

Sementara itu, penggunaan oil dispersant dalam penanggulangan tumpahan minyak oleh Pertamina juga dinilai bisa semakin menurunkan baku mutu air. Pakar hidrokarbon dari Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Migas Balikpapan Subagio menjelaskan, penggunaan oil dispersant pada prinsipnya bertujuan menambah kepadatan (density) cairan minyak. “Sehingga bisa tenggelam ke air,” lanjutnya.

Menurut Subagio, seharusnya Pertamina menggunakan oil dispersant pada minyak dengan massa ringan yang lebih rawan terbakar. Oil dispersant memang menjadi opsi cepat untuk menghilangkan minyak dari permukaan agar kebakaran tidak meluas.

Untuk minyak dengan massa lebih berat seperti crude oil yang tumpah di teluk, Pertamina seharusnya cukup menggunakan oil skimmer. “Ya memang itu solusi cepat, minyak hilang dari permukaan, tapi dampak jangka panjangnya harus dipikirkan,” ujarnya.

Humas Pertamina Balikpapan Alicia Irzanova mengungkapkan, tidak semua upaya pembersihan kemarin dilakukan dengan oil dispersant. “Bergantung tempatnya, metodenya juga berbeda-beda,” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Alice itu menambahkan, untuk ceceran minyak di tengah laut, Pertamina cukup mengurung dan menggiringnya dengan oil boom. Lantas, minyak itu disedot dengan oil skimmer. Lagi pula, kata Alice, oil dispersant kurang efektif, selain itu relatif mahal.

Oil dispersant lebih sering digunakan untuk membersihkan minyak yang sudah menjadi film (lapisan) tipis. “Minyak yang terdampar di pantai cukup diangkut manual saja,” lanjutnya.

Metode lain, kata dia, menggunakan lembaran penyerap minyak (oil absorbent) untuk membersihkan minyak di sekitar Jetty Pertamina. Setelah minyak terserap, absorbent bisa diangkut secara manual. “Absorbent juga kita pakai untuk membersihkan area mangrove,” jelas Alice. 


(tau/c7/ang)