Larikan Uang Nasabah Ratusan Juta, Ketua LPD Bangkang Dipolisikan Sinergi Jawa Pos

Perwakilan nasabah, Gede Gelgel, 40 yang juga Kelian Desa Pakraman Bangkang menjelaskan, pihaknya terpaksa mengadukan kasus dugaan penggelapan dana nasabah tersebut ke pihak kepolisian. Lantaran hingga kini Ketua LPD Desa Pakraman Bangkang, I Gusti Ngurah Wibawa masih kabur.  

Bahkan, Gelgel menyebut tidak ada itikad baik dari pelaku untuk menyelesaikan persoalan. “Sudah saya cari, rumahnya di Dusun Bangkang. Rumahnya sudah sepi, keluarganya juga tidak ada. Telponnya tidak nyambung,” ungkapnya. 

Gelgel menceritakan, kasus ini mulai bergulir pada Hari Raya Galungan, awal November 2017 lalu. Kala itu, para nasabah LPD Desa Pakraman Bangkang hendak menarik uang untuk keperluan perayaan Galungan. Namun tak disangka, para nasabah tidak bisa menarik uang lantaran Ketua LPDnya tidak ada.

“Kejadiannya sebelum Hari Raya Galungan. Kan banyak nasabah yang mau narik tabungan di LPD untuk keperluan hari raya. Namun justru tidak bisa menarik tabungan karena Ketua LPD-nya tidak ada. Itu kronologinya. Dan sampai sekarang ketuanya masih menghilang, tidak pernah ngantor,” ujar Gede Gelgel di Polres Buleleng, Selasa (2/1) kemarin.



Gelgel menyebut, berbagai upaya telah dilakukan nasabah. Salah satunya dengan berusaha menagih kepada Bendahara LPD. Namun sayang, dari pengakuan sang bendahara, pihaknya mengaku tidak membawa uang, lantaran uang dibawa oleh Ketua LPD.

“Ke bendahara ditagih juga ngaku tidak bawa uang. Katanya uangnya dibawa Ketua LPD” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, pihak Desa Pakraman Bangkang langsung menggelar paruman (rapat, Red) untuk membahas kasus ini. Hasilnya, Desa Pakraman sepakat membawa kasus ini ke ranah hukum.

Gelgel mengaku tidak mengetahui berapa jumlah nasabah yang di LPD tersebut. Namun total dana yang ada diperkirakan mencapai Rp 807 juta. Dugaan penyelewengan dana diakui Gelgel sudah lama timbul. Semenjak permintaan laporan pertanggung jawaban kepada desa adat tidak pernah direspons oleh I Gusti Bagus Ngurah Wibawa. 

“LPD itu dibangun sejak 2001 tapi kolap, tidak jalan. Kemudian dibangun lagi 2007 dengan modal Rp 4.5 juta dari pemerintah dan yang memimpin itu I Gusti Bagus Ngurah Wibawa. Selang berjalan sekian lama, banyak nasabah yang mengeluh kalau mereka tidak bisa menarik uang, karena pimpinannya hilang. Sekarang LPD-nya tutup,” terangnya.

Kadek Wartini, 42, salah seorang nasabah yang ikut melapor ke Polres Buleleng mengaku jumlah tabungannya di LPD mencapai Rp 77 juta. Uang tersebut ia tabung secara bertahap sejak Januari 2016.  

Terkait kaburnya sang pimpinan LPD ia ketahui dari petugas di LPD itu sendiri. Kala itu Wartini hendak menyetor kembali tabungan pada November 2017 lalu, atau lebih tepatnya saat hari raya Galungan. 

“Pertama nabung Rp 10 juta. Karena lancar, saya deposito lagi 60 juta. nah setekah itu mau nabung lagi, tapi ternyata disuruh nyetop dulu, karena Ketua LPDnya lari” akunya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Mikael Hutabarat membenarkan pihaknya menerima laporan tersebut. Meski demikian, pihaknya belum memastikan kasus tersebut apakah masuk kategori penggelapan atau korupsi.

AKP Hutabarat memastikan dalam waktu dekat pihaknya akan segera turun ke lapangan untuk mencari sejumlah dokumen. Dokumen itu nantinya akan dijadikan sebagai barang bukti untuk memastikan apakah kasus tersebut masuk kategori pidana atau bukan.

“Para nasabah itu hanya sebatas melakukan konsultasi. Kami sarankan buat surat pengaduan. Laporan di SPKT belum ada, sementara bahan mereka belum ada. Nanti kami akan turun ke lapangan mencari dokumen, untuk memastikan apakah itu tindak pidana atau bukan,” ujarnya  

(bx/dik/ima/yes/JPR)