Laporan Khusus Olahraga Indonesia dan Dukungan Perusahaan Rokok (3)

JawaPos.com-Fans tenis pasti ingat, Indonesia pernah menjadi tuan rumah turnamen WTA tier III. Tepatnya sejak 1994. Namanya Wismilak International. Ya, Wismilak yang merek rokok itu. Digelar di Embong Sawo Sports Club di Surabaya, event tersebut merupakan cikal bakal event tenis terbesar di Asia Tenggara.

Sangat populer di kalangan para petenis putri dunia.

Selama empat edisi turnamen digelar di Surabaya. Sempat absen tiga tahun, pada 2001 event itu kembali. Kali ini dipindah ke Bali. Makin seru lagi. Tidak tanggung-tanggung, petenis AS yang merupakan kolektor tiga gelar grand slam Lindsay Davenport pernah bermain di sana. Juga dua bintang Rusia kala itu, Elena Dementieva dan Svetlana Kuznetsova.

’’Turnamen itu menambah motivasi pemain kita,’’ ucap Rildo Ananda Anwar, ketua umum PP Pelti.

Saat itu, pembinaan tenis memang sedang gencar di Indonesia. Setelah era Yayuk Basuki, masih ada Angelique Widjaja, Wynne Prakusya, hingga Liza Andriani. Angie, sapaan Angelique, pernah menjuarai Wismilak International edisi 2001.

Wynne Prakusya (dok Jawa Pos)

Rildo melanjutkan, kalau bicara pertandingan olahraga, itu berarti bicara sponsor. ’’Yang besar ya sponsor rokok. Dulu mudah produsen rokok memberikan sponsor. Nggak ada Wismilak agak berkurang pertandingannya,’’ paparnya.

Wismilak kali terakhir menjadi sponsor turnamen WTA pada 2006. Sejak 2007, event diambil alih oleh Bank Commonwealth. Namun, itu hanya bertahan dua tahun. Setelah 2008, tak ada lagi kelanjutannya. Para petenis nasional kembali harus keliling dunia mengikuti turnamen jika ingin mengasah skill dan menaikkan peringkat (serta cari duit).

Tentunya harus didukung dana besar dari kocek pribadi.

Wynne merasakan benar kehilangan produk rokok sebagai sponsor turnamen tenis top. ’’Wismilak sangat membantu kami. Mereka turut memajukan tenis Indonesia,’’ tuturnya ketika dihubungi tadi malam. ’’Waktu itu saya dapat kesempatan tampil di turnamen lewat wild card, otomatis saat itu menambah kepercayaan diri,’’ jelas Wynne.

Beratnya ditinggal sponsor rokok juga dirasakan PP PBVSI. Pada 2004–2009, Sampoerna Hijau menjadi sponsor utama Proliga dan Livoli. Selain uang sponsorship yang besar, yang cukup terasa adalah dukungan penonton.

’’Mereka (sponsor, Red) kan gila-gilaan promosi. Penonton otomatis mengikuti, karena masifnya publikasi,’’ jelas Wakil Ketua Bidang Kompetisi PBVSI Reginald Nelwan.

Waktu itu belum ada larangan seperti sekarang. Tetapi, Sampoerna tetap membuat aturan tegas soal keterlibatan atlet dalam event yang bekerja sama dengan mereka. ’’Sejak awal ditegaskan bahwa mereka pabrik rokok. Jadi, yang terlibat harus 17 tahun ke atas,’’ jelas Regi, sapaan akrabnya.

Aturan itu dibarengi dengan larangan merokok di dalam gedung olahraga. Setelah Sampoerna tak lagi menjadi sponsor, Proliga mati-matian mencari penyandang tiap tahun.