Laode Syarief Sindir Firli Cs yang Belum Juga Ringkus Harun Masiku

JawaPos.com – RADARMALANG.ID – Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarief, menyinggung lembaga antirasuah di bawah komando Firli Bahuri, yang belum juga berhasil menangkap Harun Masiku. Padahal Bekas Caleg PDI Perjuangan itu telah satu bulan lebih menjadi buronan KPK.

Laode menyebut, seharusnya Firli Cs tidak sulit untuk menangkap Harun Masiku. Karena keberadaan Harun disebut-sebut berada di Indonesia.

“Ada yang DPO tetapi pada saat itu selalu agak sering kami dapat. Jadi yang high profile seperti Harun Masiku ini kalau dia di Indonesia ya, berdasarkan dulu-dulu tidak sulit sih,” kata Laode ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (13/2).

Laode menyampaikan, dirinya kemudian membandingkan KPK saat dirinya menjabat. Menurutnya, KPK pada eranya lebih banyak membantu Kejaksaan Agung untuk mengejar para koruptor yang masih buron.

“Bahkan KPK itu sering membantu kejaksaan untuk mendapatkan buron. Jadi seharusnya kalau dia ada di dalam Indonesia, bisa di dapat seharusnya,” beber Laode.

Laode menilai, aneh dengan kepemimpinan Firli Cs yang hingga kini belum juga berhasil meringkus Harun. Padahal, kata Laode, KPK mempunyai banyak perangkat yang cukup kuat untuk mendeteksi buronan.

“Sebenernya kita juga punya orang, kita juga bisa bekerja sama dengan polisi. Kan di kepolisian ada intelijen jadi bahkan lari ke luar negeri pun jaringan KPK lumayan lengkap,” tegas Laode.

Harun diduga merupakan salah satu kunci terkait perkara yang diduga melibatkan petinggi PDIP. Penyidik lembaga antirasuah hingga kini masih mendalami asal-usul uang Rp 400 juta yang diberikan untuk Wahyu Setiawan melalui sejumlah perantara.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu, diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI, menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Atas perbuatannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Sementara itu, Harun Masiku dan Saeful sebagai tersangka pemberi suap disangkakan melanggar pasal pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor : Kuswandi

Reporter : Muhammad Ridwan