Langsung Terjemahkan Arti Gerakan secara Realtime

Tebalnya kamus bahasa isyarat penyandang Tuli memantik ide tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menciptakan Gesture Linguistic (G-Ling). Karya kolaborasi ini telah menyabet prestasi di dua event nasional. Meski terbentur biaya, upaya penyempurnaan aplikasi terus dilanjutkan.

 MELINDA CUCUT W.

 Nor Laili tengah menerangkan aplikasi G-Ling kepada pengunjung di ajang pameran inovasi manajemen di Fakultas Ilmu Pendidikan UM pekan lalu (10/5). Dengan membawa laptop dan kamus tebal, dia menjelaskan masalah yang dihadapinya tentang sulitnya berkomunikasi dengan penyandang Tuli jika tidak menggunakan bahasa isyarat. ”Kalau orang yang tidak paham bahasa isyarat akan sulit berkomunikasi dengan mereka, bahkan pendamping saja sering kali membawa kamus tebal ini untuk mengartikan,” ujarnya.

Kegelisahan itulah yang kemudian memunculkan ide untuk menciptakan G-Ling. Laili bercerita, teman yang kali pertama mencetuskan idenya adalah Rachima Divian, mahasiswi UM semester empat jurusan teknologi pendidikan. ”Ide awalnya muncul karena adanya kekhawatiran dengan perkembangan sosialisasi penyandang Tuli dengan masyarakat awam,” ujarnya. Karena berkaitan dengan kecanggihan teknologi, ide tersebut harus dikerjakan bareng dengan orang yang pas.

”Karena itu, Rachima mengajak Wahyu Pratama Putra yang juga sejurusan dengannya untuk membantu dalam pengembangan aplikasi ini,” terangnya. Laili sendiri menyatakan, karena dia concern pada pendidikan luar biasa yang notabene berhubungan langsung dengan kaum difabel. Rochima meminta bantuannya untuk pemilihan bahasa-bahasa isyarat. ”Tugas saya fokus ke pemilahan kata atau memindai kata dari kamus konvensional ke aplikasi G-Ling,” terangnya.



Aplikasi yang diberi nama Gesture Linguistic (G-Ling) tersebut merupakan aplikasi pada smartphone untuk memudahkan masyarakat berkomunikasi dengan penyandang Tuli.

Nor Laili menjelaskan, inovasi ciptaan kelompoknya berupaya mengonversi bahasa dari kamus konvensional ke digital. Cara kerja aplikasi G-Ling sendiri cukup mudah. Laili lantas mempraktikkan dengan mengetik kata paduka pada aplikasi tersebut, akan muncul gambar yang menunjukkan bahasa isyarat. ”Jadi, dengan aplikasi ini memudahkan para pendamping penyandang Tuli agar tidak harus membawa kamus tebal,” terangnya.

Selain itu, terdapat fitur kedua, yaitu penerjemahan secara langsung dari realtime. ”Ketika kamera dihadapkan kepada orang yang menggunakan isyarat, secara langsung aplikasi akan mengeluarkan artinya dalam bentuk tulisan,” papar mahasiswa semester 4 tersebut. Fitur realtime tersebut menggunakan sensor gerak. ”Jika mendeteksi warna kuning, maka akan diterjemahkan, sedang yang warna merah tidak diterjemahkan,” bebernya.

Karena masih prototipe, hingga saat ini hanya beberapa kata yang dimasukkan ke aplikasi. ”Ini masih bentuk pengembangan pertama. Rencana akan dimasukkan ke PlayStore sehingga bisa diunduh dan tak perlu membawa kamus tebal,” kata mahasiswa PLB UM ini. Menurut dia, dibutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan fitur terjemahan tersebut.

Sedangkan untuk penyelesaian fitur realtime membutuhkan waktu kurang lebih enam bulan. ”Sebenarnya sejak Oktober, tapi molor dan baru kita serius fokuskan lagi pada April lalu,” ujarnya.

Dia bercerita berbagai kendala yang muncul membuat dia dan tim sedikit lambat untuk menyelesaikannya. ”Pada Januari lalu aktivitas saya sendiri bertabrakan dengan event mahasiswa berprestasi, terus kendala Rochim dan Wahyu banyak tugas kuliah,” ujarnya. Tidak hanya itu, kendala utama yang menjadi persoalan adalah terbenturnya dana untuk pengembangan aplikasi. ”Untuk pengembangan aplikasi kan tidak bisa hanya dikerjakan tim, jadi kami menyewa developer untuk membantu,” terangnya.

Dia menjelaskan, untuk biaya pengembangan fitur terjemahan mencapai sekitar Rp 8 juta. Sedangkan untuk fitur realtime mencapai Rp 100 juta. ”Kalau fitur realtime itu butuh efek citra kan, selain mahal juga developer-nya tidak ada di Malang, mereka lebih banyak di Jakarta bahkan luar negeri,” terangnya dengan raut menyayangkan. Namun, dia merasa sangat bersyukur karena sejauh ini, pihak jurusan mendukung penuh inovasinya itu.

Kepala Jurusan PLB Prof Dr Mohammad Efendi MPd MKes turut membantu pembiayaannya sampai saat ini. ”Beberapa kali kami dibantu dengan dana pribadi profesor. Tidak hanya itu, beliau juga tengah mengupayakan untuk mencari dana sponsor ke swasta dan pemerintah,” tuturnya. Dia menyatakan target penyelesaian kamus terjemahan akan dirampungkan bulan Agustus.

Dari perwujudan ide G-Ling itu, mereka sudah dua kali menyabet juara di ajang perlombaan. Juara pertama didapatkan kali pertama Oktober 2018. ”Alhamdulillah dalam lomba karya tulis inklusi di UGM mendapat juara I. Dan pada ajang pameran inovasi manajemen Edu Fest 1.0, UM juga mendapat juara I,” terangnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani
Fotografer : Rachima Divian