Lama Terkikis Hujan, 5 Rumah Ambruk Beruntun

MALANG KOTA – Tak ada hujan tak ada angin, sebanyak lima rumah di bantaran Sungai Brantas, Jalan Muharto V, RT 07 RW 09, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, kemarin (25/12) ambruk. Konstruksi bangunan rata dengan tanah. Akibat musibah itu, kerugian yang diderita diperkirakan mencapai Rp 350 juta.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, peristiwa tersebut terjadi pukul 08.00. Dimulai dengan ambruknya rumah Setu alias Joni, pensiunan TNI-AD, lalu disusul empat rumah lainnya secara beruntun.

Pantauan koran ini, rumah Setu berada di atas. Sementara di bawahnya terdapat beberapa rumah warga lainnya. ”Rumah paling atas yang mengawali ambruk,” ujar Paidi, pemilik rumah yang lokasinya di bawah rumah Setu.

Paidi memaparkan beberapa rumah yang ambruk. Selain rumahnya yang berukuran sekitar 45 meter persegi itu, rumah beberapa warga juga tertimpa puing-puing rumah yang hancur.

Di antaranya, rumah Sumiati yang mengalami kerusakan di bagian dapur dan ruang tamu, rumah Boini hancur total, dan rumah milik Joni atapnya rusak. ”Warga kaget karena suara reruntuhan bangunan itu sangat keras,” kata Paidi.



Meski rumahnya hancur, Paidi masih bersyukur karena tidak ada korban jiwa. Itu karena penghuninya sedang tidak berada di rumah. Mereka sudah mengungsi ke rumah kerabat sejak beberapa hari lalu. ”Lima hari lalu kami diminta oleh BPBD (badan penanggulangan bencana dareah) untuk mengosongkan rumah,” katanya.

Sebelum ambruk, Paidi dan warga sekitar sudah melihat tanda-tanda rumah bakal ambruk. Misalnya, terdapat retakan di dinding rumah. Personel BPBD Kota Malang sempat ingin membongkar, tapi khawatir berdampak ke bangunan lain. ”Awalnya BPBD ingin membongkar, namun takut retakannya menjalar ke rumah lain di sepanjang bantaran sungai,” bebernya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Malang Hartono menyatakan, pihaknya sudah memperingatkan warga berkali-kali agar mengosongkan rumahnya. Sebab, dia melihat ada retakan di dinding rumah tersebut. ”Kami juga sudah memberikan garis agar warga tidak melintas,” kata Hartono.

Pejabat eselon II-b Pemkot Malang itu menambahkan, retakan tanah dan bangunan disebabkan kikisan air hujan yang terus-menerus. Selain itu, fondasi bangunan juga rawan longsor. ”Kami sudah mendata (jumlah rumah ambruk). Selanjutnya kami laporkan kepada pimpinan (Wali Kota Malang Moch. Anton),” kata dia. (asa/c1/dan)