Lalui Track Berkelok, Satu Sisi Tebing, Sisi Lain Jurang (5)

Hari keempat, kontributor Radar Malang Heri Cahyono menempuh perjalanan dari Dades menuju ke Ouarzazate. Dalam perjalanan yang menempuh jarak sekitar 240 kilometer itu dia melewati medan sungai yang setengah mengering, sepanjang 20- an kilometer. Jika hujan turun, sungai itu bisa pasang sewaktu-waktu.

Empat Hari, 900 Kilometer; Menjajal Jalur Ekstrem Paris-Dakar di Gurun Sahara (5)

MALAM itu, kami menginap di hotel bintang 4, bernama Aluca di Kota Dades. Hotel ini cukup bagus. Mungkin ini sebagai penghargaan dari event organizer atas perjalanan yang sudah 3 hari kami lalui. Di hotel ini kami tidur cukup nyaman dengan fasilitas full service. Kedatangan kami pun disambut dengan tarian khas rakyat Maroko.

Oh iya, salah satu perbedaan mendasar ketika kita ikut riding di luar negeri dengan teman satu tim yang berasal dari mancanegara, selain jarang sekali mengabadikan momen penting. Mereka juga tak punya kebiasaan mengawali perjalanan dengan doa bersama. Tanpa terasa, kami sudah memasuki hari ke-4. Ini adalah hari terakhir kami meng-explore jalur Sahara. Svante, salah satu anggota tim dari Swedia tidak riding karena menderita sakit.

Dari briefing pagi itu, kami mengetahui bahwa hari keempat ini kami akan melewati jalur yang ”rocky”. Alias jalur penuh batu yang membelah pegunungan. Dan kami juga akan menyusuri sungai yang setengah mengering airnya, dengan target finis sore hari, di kota Ouarzazate. Dari hotel, kami start, langsung masuk jalur tanah yang diselingi kerikil kecil di sepanjang jalan. Jalur ini dikategorikan jalur ”easy”, dan hanya butuh 45 menitan untuk mengakhirinya. Ibarat olahraga, ini adalah ”warming up” sebelum masuk jalur sebenarnya.



Memasuki jalur sebenarnya, kami mulai mendaki pegunungan dengan tipikal jalur open track dan berkelok. Di satu sisi berupa tebing, di sisi lain jurang yang cukup dalam. Jalur ini berdebu dan berbatu lepas. Maksimal kecepatan yang bisa dikembangkan berkisar 50 kilometer per jam. Pegunungan ini cukup gersang. Beruntung saat itu cuaca bersahabat dengan suhu 20 derajat. Dengan cuaca dingin merupakan tambahan energi karena kita cukup sulit berkeringat. Pegunungan ini pun masih menjadi bagian dari pegunungan Atlas yang superluas.

Sesekali kami menjumpai perkampungan penduduk dengan rumah tradisionalnya bernama Kasbah. Mereka bercocok tanam. Dan yang paling khas adalah angkutan yang digunakan untuk mengangkut barang. Mereka masih menggunakan keledai sebagai sarana transportasi. Hidup di tempat seperti itu sepertinya nyaman. Kami seperti dibawa ke masa lampau karena sebagian besar hanya mengandalkan alam. Jauh dari hiruk pikuk teknologi karena memang jauh dari perkotaan. Semua infrastruktur di tempat itu, 100 persen berupa tanah. Hampir setengah hari kami keluar masuk pegunungan tersebut. Pemandanganya sangat eksotis di sepanjang perjalanan.

Semua peserta sangat menikmati jalur hari ke-4 ini. Namun yang tak bisa disembunyikan adalah kelelahan yang mendera. ”I am really getting tired,” ujar Charlie, rider dari Swedia kepada saya. Sebagai info, Charlie ini adalah rider favorit saya. Dia berteknik tinggi dan kencangnya minta ampun, serta memiliki fi sik di atas rata-rata kita. Bahkan satu rekan kami yang bernama Alan dari Inggris memilih berhenti untuk recovery karena kondisi fisik dan tangan yang sudah tak memungkinkan. Sehingga cukup jauh tertinggal dari rombongan. Berbekal kebiasaan dalam petualangan, akhirnya saya balik arah menyusul rekan dari Inggris. Ketika bertemu Alan, saya tanya kondisinya dan dia menjawab hanya perlu istirahat. Saya perhatikan telapak tangannya mulai bengkak karena kerasnya medan. Dan beberapa kali saya lihat dia terjatuh lumayan sering. Itulah petualangan. Tak hanya butuh riding skill yang mumpuni. Juga butuh mentalitas, manajemen tenaga, manajemen emosi, dan banyak hal lainnya sehingga tak berakibat fatal ke badan.

Selepas membaik, kami berdua berkendara menyusul rombongan dan bertemu rombongan di sebuah kedai minuman kecil yang cukup ramai penduduknya. Kami saling sapa dan bicara, walaupun dengan bahasa mereka yang agak susah dipahami. Menghangatkan diri dengan secangkir teh asli Maroko sangat membantu memulihkan energi. Hari itu kami istirahat siang di tempat yang istimewa. Yakni, di pinggiran sungai yang cukup jernih. Mobil back up bisa masuk ke tempat ini. Dan mereka membawa makan siang dan sejumlah buah-buahan. Makan siang berupa roti Maryam, bercampur dengan daging ayam bakar. Roti Maryam di sini besarnya nggak ketulungan, dan tak ada rasanya kecuali rasa hambar. Mirip sekali dengan karet, dan mampu membuat perut kenyang dengan durasi waktu yang cukup lama.

Selepas istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Jalurnya adalah sungai setengah mengering. Panjanganya kisaran 20 kilometer, dan butuh ekstratenaga. Jalur ini bervarian konturnya. Penuh batu dengan variasi beragam, mulai kerikil, batu sedang dan besar, sampai batu licin yang sering kali membuat kami beberapa kali terjatuh. Sesekali kami juga terjebak oleh air setinggi 40 cm yang memang masih mengalir di sungai itu. Berkendara di tempat itu seolah berpacu dengan waktu karena melihat gelagat mendung yang mulai menggantung. Jika turun hujan, hampir dipastikan sungai itu tak bisa dilewati karena air akan pasang dan memungkinan terjadi banjir. Beberapa kali kami harus berhenti di track itu untuk istirahat karena memang cukup melelahkan. Saya di barisan tengah, bersama 2 orang rider. Sementara ada 4 orang di belakang yang memang sudah cukup kelelahan. Akhirnya kami keluar dari track sungai jam 4 sore. Hari ke-4, tangan saya mulai melepuh di telapak karena kerasnya medan. Sepanjang perjalanan saya menahan nyeri karena sakitnya akan bertambah jika terkena getaran dan benturan. Beruntung setelah jalur sungai, kami masuk jalur tanah di perkampungan penduduk yang panjangnya berkisar 10 kilometer. Setelah itu kami masuk tanah lapang cukup luas. Sepanjang mata memandang, seolah tak ada batas. Ternyata daerah itu adalah daerah di bawah kendali militer Maroko, alias tempat latihan tentara Maroko. Kami bisa mengembangkan kecepatan maksimal di track itu. Selama 1,5 jam kami menyusuri track itu, dan akhirnya keluar memasuki pinggir kota Ouarzazate. Tibalah kami di tempat finis, yaitu di Hotel Le fint, tempat kami menginap.

Setiba di tempat finis, dengan sigap Hussein si multitasking langsung melakukan body check motor satu per satu, mulai engine, chasis, body fairing, sampai bearing roda, tak luput dari pengamatannya. Ada denda penggantian kepada peserta jika motornya mengalami kerusakan. Besarnya bervariatif, bergantung pada jenis kerusakan. Alhamdulillah, motor yang saya pakai mulus saat dikembalikan. Sehingga saya free of charge dalam hal denda penggantian. Selepas menandatangani bukti penyerahan motor kami berkemas merapikan barang barang dan masuk ke kamar hotel untuk istirahat. Hari ke-4 rasanya pingin sekali badan dipijat. (bersambung/website:hericahyono.com)