Laki-laki Lebih Banyak Derita Parkinson

’’Di semua tempat praktik juga dominan laki-laki, bahkan sekitar dua tahun ini baru menemui dua pasien perempuan yang parkinson, itu pun mereka bukan parkinson disease, tapi hanya parkinson syndrome’’ tuturnya.

Dokter yang akrab disapa Hamdan ini juga menambahkan, risiko tersebut diduga akibat lingkungan. Dengan kata lain laki-laki yang lebih sering terpapar dengan bahan kimia dan beracun. Mulai dari timbal dan karbon monoksida dari asap kendaraan, rotenon dari pestisida, hingga bahan-bahan kimia lain.

Sebab, bahan-bahan kimia yang terus masuk dalam tubuh bisa menyerang metokondria atau salah satu bagian sel yang bertugas mengatur energi. Hal tersebut mempercepat proses degenerasi. ’’Memang tidak mudah menghindari zat-zat beracun. Air minum dan polusi misalnya,’’ tuturnya.

Hamdan juga menambahkan, 90 persen penderitanya berusia diatas 50 tahun. Hal ini berkaitan dengan adanya proses degenerasi atau usia tersebut. Dalam satu bulan, biasanya Hamdan menemui satu pasien bari parkinson dari seluruh tempatnya berpraktik.

Pastinya, pasien selalu datang dengan keluhan tremor atau gemetar. Meskipun pada kondisi diam, bagian tubuh tertentu seperti tangan penderita parkinson akan bergetar. ’’Bergetarnya seperti menghitung uang dengan cepat. Juga sudah merasakan kaku , tidak stabil saat berada di posisi tegak,’’ lanjutnya. (*)


(ina/JPC)