Lahan Tergerus, Hasil Panen Padi Minus

KOTA BATU – Luasan lahan tanam padi di Kota Batu mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Untuk itu, sudah selayaknya Pemkot (Pemerintah Kota) Batu memberikan solusi yang konkret. Sebab, dalam dua tahun terakhir kondisi pertanian padi semakin menurun. Mulai dari lahan hingga hasil panen. Penurunannya pun cukup drastis.

Sebagaimana diketahui, Kota Dingin ini mempunyai andalan pertanian hortikultura. Meski begitu, produktivitas tanaman pangan utama atau padi tetap harus ditingkatkan.

Dari data Dinas Pertanian Kota Batu, hasil panen padi pada 2016 mencapai 3.873 ton dari luas lahan tanam 728 hektare. Namun, jumlah itu kian memburuk. Pada 2017, hasil panen padi turun menjadi 2.904 ton. Jumlah tersebut dihasilkan dari 469 hektare lahan tanam. Artinya, dari luas lahan tanam padi tahun sebelumnya, penyusutan lahan yang terjadi mencapai 259 hektare, sehingga berimbas pada penurunan hasil produksi yang mencapai 969 ton.

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono membenarkan memang ada penurunan hasil tanam. Menurutnya, untuk kebutuhan beras masyarakat Kota Pariwisata ini, padi yang didapatkan dari petani di Kota Batu hanya mencukupi tidak lebih dari setengahnya.

”Kurang lebih hanya 30 persen (masyarakat Kota Batu) yang kami suplai,” kata dia saat ditemui Jawa Pos Radar Batu kemarin (2/3).

Penyusutan lahan padi di Kota Batu, lanjut dia, memang tidak bisa dimungkiri. Itu disebabkan bertambahnya penduduk Kota Batu serta pembangunan. ”Ya itu kan tanah mereka sendiri. Kami tidak bisa melarang mereka membangun (rumah di atas tanahnya),” kata dia.

Meski demikian, Sugeng menjelaskan, bukan berarti dinas pertanian berpangku tangan. Upaya untuk menggenjot dan melindungi lahan yang tersisa juga terus dilakukan. Untuk merealisasikan itu, pihaknya memberikan bantuan bibit padi agar petani juga bergeliat menanam padi di lahannya.

Tahun ini, kata dia, ada bantuan bibit padi kurang lebih untuk 200 hektare sawah. ”Bantuan itu yang bersumber dari provinsi, lalu kami memberi dukungan berupa penanganan hama dan penyediakan saprodi (sarana produksi pertanian),” terang Sugeng.

Bantuan bibit itu, lanjut dia, bertujuan untuk merangsang geliat petani menanam padi.  Dengan upaya itu, hasil tanam juga akan meningkat. Bila setahun hanya bisa sekali panen, dengan bantuan tersebut diharapkan setahun bisa panen dua kali.

Menurut dia, penurunan luasan lahan tanam dari tahun 2017 bukan karena penyusutan lahan saja, tapi karena pola tanam para petani.

”Dalam setahun, petani  tidak hanya menanam padi, tapi juga tanaman lain. Gantian dengan tanaman lainnya. Itu juga untuk menjaga unsur kandungan tanah,” terang Sugeng. Dengan begitu, tanah akan tetap bagus untuk bercocok tanam.

Lebih lanjut, Sugeng menjelaskan, upaya untuk melindungi lahan juga dilakukan. Yaitu, dengan program lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). ”Ini untuk menjaga lahan agar tetap bertahan,” terangnya.

Lahan yang masuk dalam LP2B itu, kata Sugeng, dilindungi. ”Ada peraturannya. Lahan yang masuk boleh dijual, namun pemilik harus mengganti dengan lahan yang lain, yang peruntukannya sama,” bebernya. Sebab, sebelumnya sudah ada komitmen antara dinas pertanian dengan para petani.

Sementara itu, jika hasil pertanian padi turun, hasil dari pertanian lainnya masih relatif besar. Jagung muda misalnya, yang hasil produksinya mencapai 21.650 ton. Jagung tua pun sanggup dipanen hingga 883,8 ton. Itu belum termasuk kacang, ubi kayu, dan ubi jalar (selengkapnya lihat grafis).

”Memang Kota Batu itu kan unggulannya di tanaman horikultura, seperti sayur dan buah,” kata dia.

Dia mengatakan, para petani lebih memilih tanaman hortikultura daripada padi karena nilai ekonomisnya lebih besar. ”Namun, kami tetap berusaha meningkatkan produksi tanaman pangan,” tukas dia.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Aris Syaful
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono